Oleh: Komaruddin Hidayat(Ketua Dewan Pers)
Muncul paradoks besar seiring hadirnya budaya digital. Niat awalnya, manusia menciptakan mesin pintar untuk membantu mengatasi problem hidup agar lebih mudah dan nyaman dijalani. Namun perlahan-lahan, mesin justru berbalik mengendalikan bagaimana manusia berpikir dan berperilaku.
Manusia merancang algoritma yang namanya diambil dari ilmuwan Al-Khawarizmi untuk membantu menganalisis berbagai masalah dan menetapkan keputusan. Namun pada prosesnya, tanpa disadari berbagai keputusan tersebut diserahkan kembali kepada algoritma yang selalu memantau, melayani, dan memberikan rekomendasi tentang apa yang mestinya kita lakukan.
Pendek kata, manusia menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu kinerja otak dan pikiran. Namun lama-kelamaan, kecerdasan buatan itulah yang menjadi sandaran dan menggantikan kinerja otak serta pikiran kita. Di titik inilah muncul figur baru yang disebut algo sapiens, menggeser posisi homo sapiens.
Baca Selengkapnya

