Ada sebuah permainan tradisional khas dari Bengkulu yang dulunya dimainkan tidak hanya sekadar sebagai hiburan saja, tetapi juga kental akan unsur magisnya. Permainan tradisional khas dari Bengkulu tersebut bernama bubu gila.
Bagi Kawan yang berasal dari daerah Bengkulu dan sekitarnya, apakah pernah mendengar atau memainkan permainan tradisional ini sebelumnya? Jika Kawan masih asing dengan permainan tradisional ini, maka tidak perlu terlalu heran.
Sebab keberadaan bubu gila memang sudah tidak semasif dulunya lagi. Apalagi permainan tradisional yang satu ini sudah menjadi bagian dari tradisi dan kebudayaan di tengah masyarakat.
Selain itu, tidak banyak juga anak-anak yang memainkan permainan tradisional tersebut secara rutin dulunya. Adanya unsur magis yang lekat dengan permainan tradisional tersebut membuat anak-anak lebih sering ketakutan, sehingga tidak memilih bubu gila sebagai sarana hiburan di sela waktu luang yang mereka miliki.
Walau begitu, keberadaan bubu gila masih terus dilestarikan di tengah masyarakat. Meskipun tidak dimainkan secara rutin lagi, permainan tradisional ini tetap dibawakan di beberapa acara khusus yang ada di daerah tersebut.
Lantas bagaimana ulasan lebih lanjut seputar permainan tradisional yang satu ini? Simak pembahasan terkait bubu gila dalam artikel berikut ini.
Mengenal Permainan Tradisional Bubu Gila
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bubu gila merupakan salah satu permainan tradisional yang berasal dari daerah Bengkulu. Dikutip GNFI dari buku Seno Undri Rahmadona yang berjudul Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya: Permainan Tradisional Anak Bengkulu, nama permainan yang juga dikenal dengan sebutan lukah gilo ini berasal dari alat serta proses bermainnya.
Kata "Bubu" atau "Lukah" merujuk pada sejenis alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu. Perangkap ikan ini memiliki kerangka seperti tabung yang bisa menjebak ikan di dalamnya.
Sementara itu, "Gilo" yang berarti gila merujuk pada proses dalam permainan tersebut. Dalam permainan bubu gila, bubu yang sudah dihias sedemikian rupa akan bergerak dan menari sendiri tanpa digerakkan secara langsung oleh orang yang memainkannya.
Dalam permainan bubu gila, bubu yang digunakan akan dihias sehingga memiliki bentuk seperti manusia. Bubu akan dilapisi baju atau sarung dan menjadi badan manusia.
Sementara itu untuk bagian kepala, biasanya akan digunakan buah kelapa atau labu sebagai penggantinya. Setelah dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk manusia, barulah bubu gila tersebut dimainkan.
Kental Akan Unsur Magis dan Nuansa Kepercayaan Lokal
Tidak sembarangan orang bisa menggerakkan bubu gila tersebut. Hanya orang tertentu dengan keahlian khusus saja yang bisa memainkan permainan tradisional ini.
Hal ini disebabkan karena ada mantra khusus yang dibacakan agar bubu tersebut bisa bergerak sendiri. Gerakan bubu yang "gila" tersebut kemudian menjadi tontonan menarik bagi orang-orang yang menyaksikannya secara langsung.
Disitat GNFI dar artikel Jevpri Yansa Putra, dkk., "Pelestarian Permainan Tradisional Luko Gile (Bubu Gile) di Desa Dusun Baru 1 Kecamatan Pondok Kubang" yang terbit di Jurnal Pengabdian Masyarakat Terapan, adanya unsur magis dalam permainan bubu gila sudah menjadi bagian dari kepercayaan lokal di tengah masyarakat. Adanya unsur magis ini diyakini juga sebagai bentuk interaksi antara manusia dengan alam yang tidak kasat mata.
Selain itu, adanya nuansa magis ini juga menjadi salah satu bentuk ekspresi identitas lokal dulunya. Dalam permainan bubu gila, ada unsur religiusitas dan hiburan yang dipadukan secara bersamaan, sehingga bisa menjadi tontonan menarik bagi setiap orang yang menyaksikannya.


