bukan cuma ramang ini kisah para perintis timnas indonesia yang lama terkubur - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Cuma Ramang, Ini Kisah Para Perintis Timnas Indonesia yang Lama Terkubur

Bukan Cuma Ramang, Ini Kisah Para Perintis Timnas Indonesia yang Lama Terkubur
images info

Diskusi buku pioner/redaksi


Jauh sebelum sepak bola Indonesia menjadi sorotan seperti sekarang, ada generasi pemain yang lebih dahulu berjuang membawa Merah Putih ke panggung internasional. Mereka menghadapi lawan-lawan tangguh, bermain dengan fasilitas yang terbatas, dan merintis perjalanan tim nasional ketika Indonesia masih membangun fondasi sebagai negara merdeka.

Sayangnya, perjalanan generasi tersebut belum sepenuhnya dikenal publik. Nama Ramang mungkin masih akrab di telinga pencinta sepak bola, tetapi banyak kisah mengenai rekan setimnya, para pelatih, hingga perjuangan di balik pertandingan yang belum banyak terungkap.

Upaya untuk mengangkat kembali cerita tersebut dilakukan Auli Reza Atmam dan Dimas Wahyu Indrajaya melalui buku Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960. Karya ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan Timnas Indonesia pada masa lalu melalui dokumen sejarah yang selama puluhan tahun tersimpan di berbagai arsip.

Berawal dari Arsip Lama, Penulis Mengumpulkan Cerita yang Terlupakan

baca juga

Ketertarikan Dimas terhadap sejarah sepak bola Indonesia tumbuh ketika ia menyadari adanya kesenjangan antara pengetahuannya tentang pemain dunia dan legenda dari negaranya sendiri. Ia mengenal nama-nama besar seperti Diego Maradona dan Pelé, tetapi justru belum banyak mengetahui sosok penting dalam sejarah Timnas Indonesia.

Pengalamannya mengelola konten sejarah pada 2020 menjadi salah satu titik awal penelusuran. Saat itu, ia menemukan nama Ramang dan mulai menyadari betapa banyak cerita sepak bola Indonesia yang belum diketahui generasi sekarang.

“Timnas zaman itu enggak soal kekalahan aja, enggak prestasinya juga. Tapi juga bagaimana perjuangannya mendapatkan prestasi itu,” ujar Dimas dalam perbincangan mengenai buku tersebut di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Bersama Auli, ia kemudian mengembangkan gagasan untuk mendokumentasikan sejarah olahraga Indonesia. Pengumpulan bahan mulai dilakukan sejak 2021 dengan menelusuri pemberitaan lama, membaca referensi sejarah, serta mengumpulkan catatan pertandingan dari berbagai sumber.

baca juga

Perpustakaan Nasional menjadi salah satu tempat utama pencarian dokumen. Keduanya juga memanfaatkan arsip digital dari luar negeri, termasuk Delpher di Belanda dan koleksi Perpustakaan Nasional Singapura.

Auli menjelaskan bahwa penulisan buku tersebut bertumpu pada sumber tertulis, terutama laporan surat kabar yang merekam pertandingan dan perjalanan Timnas pada masa itu.

“Pertama ini intinya adalah buku sejarah. Jadi data yang kita pakai sebagian besarnya adalah sumber-sumber tertulis,” jelas Auli.

Dimas mengaku menemukan banyak kisah menarik yang selama ini hanya tersimpan dalam arsip dan belum banyak diangkat menjadi bacaan publik.

baca juga

“Kita nemu banyak cerita yang sebenarnya menarik, tapi enggak banyak orang tahu. Kita merasa sayang bahwa ini cuma tersimpan di dalam pojokan ruang Perpustakaan Nasional,” katanya.

Setelah melalui proses riset, penulisan, dan penyuntingan selama beberapa tahun, naskah buku rampung pada 2024. Karya tersebut kemudian diterbitkan dalam dua jilid sebagai upaya memperkenalkan kembali perjalanan awal sepak bola nasional kepada pembaca lintas generasi.

Choo Seng Quee, Antun Pogačnik, hingga Bintang Lapangan Era 1950-an

Selain mengungkap perjalanan para pemain, buku ini menyoroti peran pelatih dalam membentuk Timnas Indonesia pada dekade 1950-an. Salah satu nama yang dibahas adalah Choo Seng Quee, pelatih asal Singapura yang dalam perbincangan buku disebut sebagai pelatih pertama Timnas Indonesia pascakemerdekaan. Ia menangani tim pada awal dekade tersebut, termasuk saat Indonesia mengikuti Asian Games 1951.

baca juga

Nama Antun Pogačnik, pelatih asal Yugoslavia, juga menjadi bagian penting dari perjalanan sepak bola nasional. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia meraih medali perunggu pada Asian Games 1958 di Tokyo, Jepang. Pencapaian itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Timnas pada era tersebut.

Kisah kedatangan Pogačnik ke Indonesia juga menarik. Dalam diskusi buku, dijelaskan bahwa perekrutannya melibatkan Ketua Umum PSSI saat itu, Maladi, serta bantuan Presiden Soekarno. Meski berasal dari negara yang belum memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia, Pogačnik melihat potensi besar dalam sepak bola Indonesia dan turut berkontribusi terhadap perkembangannya.

Di lapangan, generasi tersebut memiliki sejumlah nama yang layak dikenang. Selain Ramang dan Maulwi Saelan, terdapat Aang Witarsa, Tan Liong Houw, Ngasari Danu, Rukma Sujana, serta Van der Veen. Mereka menjadi bagian dari perjalanan Timnas ketika sistem pembinaan dan fasilitas sepak bola nasional masih berkembang.

Penelusuran arsip turut menunjukkan bahwa Timnas sejak dahulu dihuni pemain dengan latar belakang beragam, termasuk keturunan Tionghoa, Arab, dan Eropa. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang pembentukan tim nasional Indonesia.

baca juga

Melalui Para Pionir, Auli dan Dimas ingin memperluas cara pandang publik terhadap sejarah sepak bola. Catatan masa lalu tidak hanya berbicara tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi juga tentang bagaimana pemain ditemukan, tim dibentuk, dan prestasi diperjuangkan di tengah keterbatasan.

Mengenal generasi perintis tersebut menjadi cara untuk memahami bahwa sepak bola Indonesia hari ini berdiri di atas perjalanan panjang. Di balik setiap pencapaian, ada tokoh-tokoh yang lebih dahulu membuka jalan dan meninggalkan warisan yang patut terus dikenang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.