gunung gunung terdi bakar kini alam kehilangan lebih dari sekadar hutan - News | Good News From Indonesia 2026

Gunung-Gunung Ter(di-)bakar, Kini Alam Kehilangan Lebih dari Sekadar Hutan

Gunung-Gunung Ter(di-)bakar, Kini Alam Kehilangan Lebih dari Sekadar Hutan
images info

Gunung-Gunung Ter(di-)bakar, Kini Alam Kehilangan Lebih dari Sekadar Hutan. Gambar: Ilustrasi AI


Ketika api menjalar di lereng gunung, yang hilang bukan hanya pepohonan, rerumputan, atau semak belukar. Habitat satwa terganggu, tutupan tanah berubah, dan proses pemulihan ekosistem menghadapi jalan panjang. Kerusakan tersebut tidak selalu terlihat setelah asap menghilang. Sebagian dampaknya baru diketahui melalui pemantauan vegetasi, kondisi tanah, dan perubahan habitat.

Sepanjang 2026, kebakaran melanda sejumlah kawasan pegunungan Indonesia, dari Tambora di Nusa Tenggara Barat hingga Semeru dan Bromo di Jawa Timur. Pegunungan Kawi, Arjuno-Welirang, Lawu, serta Rinjani juga mengalami kebakaran dengan luasan berbeda. Di Sulawesi Tengah, api menjalar di kawasan Sidoe dan Salu Lovu.

Peristiwa-peristiwa itu memperlihatkan bahwa kebakaran pegunungan bukan persoalan satu daerah. Setiap kejadian membawa persoalan ekologis, sosial, dan pengelolaan kawasan yang saling berkaitan.

Angka luas terbakar memang penting, tetapi angka saja tidak cukup menjelaskan kerusakan. Kawasan yang terbakar satu hektare dapat memiliki karakter ekologis berbeda dari kawasan lain.

baca juga

Jenis vegetasi, intensitas api, kondisi tanah, dan kemampuan tumbuhan beregenerasi turut menentukan dampaknya. Karena itu, laporan kebakaran perlu dibaca dengan memperhatikan tanggal pendataan dan status angkanya. Data sementara tidak boleh disamakan dengan hasil pengukuran akhir.

Dari Tambora hingga Semeru, Api Menyebar di Lereng Pegunungan

Gunung Tambora mencatat kebakaran berulang sepanjang 2026. ANTARA, dalam laporan “Kemenhut Intensifkan Pemadaman Kebakaran 1.956 Hektare Savana TN Tambora”, 9 Juli 2026, menyebut kebakaran di Resort Piong mencapai sekitar 1.956 hektare.

Pada 25 Juli, laporan lain mencatat sekitar 2.397 hektare terdampak di Resort Piong dan Oi Katupa. Pada September, akumulasi kebakaran tahunan dilaporkan melampaui 14.000 hektare dalam 125 kejadian. Angka terakhir merupakan akumulasi tahunan, bukan luas satu kejadian kebakaran.

Di Semeru, skala kebakaran juga mencolok. BPBD Kabupaten Lumajang, dalam laporan “Update Karhutla Semeru: 3.072 Hektare Terdampak, Tim Gabungan dan Water Bombing Terus Berupaya Maksimal”, 2 September 2026, mencatat sekitar 3.072 hektare terdampak hingga 1 September.

baca juga

Kawasan Ranu Kumbolo menyumbang sekitar 1.887,07 hektare dari angka tersebut. Petugas mengandalkan pemadaman darat, sekat bakar, dan penyiraman melalui helikopter. Pemerintah Kabupaten Lumajang melaporkan bahwa penghitungan luas akhir masih memerlukan verifikasi lanjutan.

Rinjani menghadapi persoalan serupa dengan karakter vegetasi yang berbeda. ANTARA, melalui laporan “Kebakaran Menghanguskan 589 Hektare Lahan di Gunung Rinjani”, 25 September 2026, mencatat sekitar 589,23 hektare terdampak hingga 24 September.

Vegetasi yang terbakar didominasi rumput, ilalang, semak, dan tumbuhan bawah. Angka tersebut masih bersifat sementara dan menunggu pemetaan serta verifikasi lapangan. Perbedaan jenis vegetasi penting karena respons ekosistem terhadap api tidak selalu sama.

Pegunungan Kawi di Jawa Timur mengalami kebakaran yang merambat dari Gunung Buthak menuju Gunung Pitrang. detikJatim, dalam laporan “Luasan Area Terbakar di Pegunungan Kawi Capai 1.500 Hektare”, 20 September 2026, menyebut estimasi luas terdampak mencapai sekitar 1.500 hektare.

baca juga

Angin kencang dan medan terjal menyulitkan petugas menjangkau titik api. Api yang sempat terkendali kembali muncul di sejumlah lokasi, sehingga pemadaman berlangsung melalui jalur darat dan udara. Kejadian ini menunjukkan bahwa keberhasilan memadamkan api belum selalu berarti seluruh kawasan aman.

Kebakaran Arjuno-Welirang memperlihatkan tantangan serupa. detikJatim, melalui laporan “Kebakaran Gunung Arjuno-Welirang Hanguskan 334 Hektare”, 28 Agustus 2026, mencatat 334,94 hektare lahan terbakar hingga 27 Agustus.

Sekitar 274 hektare berada di wilayah Pasuruan, sedangkan 60 hektare berada di Kota Batu. Angin kencang menghambat operasi pemadaman udara, sementara medan curam menyulitkan pergerakan petugas darat. Kebakaran berulang juga tercatat di Lembah Kijang pada akhir Agustus.

Di Gunung Lawu, BPBD Kabupaten Magetan melaporkan kebakaran pada 14 September 2026 di kawasan perbatasan Magetan dan Ngawi. Luas terdampak di Petak 50 diperkirakan sekitar sembilan hektare, sementara titik api lain ditemukan di Petak 66 dengan estimasi delapan hektare.

baca juga

Laporan “Posko Karhutla Ngiliran Ditutup, Titik Api di Lereng Lawu Wilayah Magetan dan Ngawi Padam”, 19 September 2026, menyatakan penanganan telah selesai. Luas yang relatif kecil tidak otomatis berarti dampak ekologisnya ringan. Penilaian tetap memerlukan informasi mengenai vegetasi dan kondisi habitat setempat.

Bromo menghadapi kebakaran yang juga mengganggu kegiatan wisata. Diperkirakan Seluas 899,35 Hektare”, 11 Agustus 2026, mencatat estimasi terdampak mencapai 899,35 hektare sejak api mulai muncul pada 3 Agustus. Kebakaran melibatkan kawasan di empat kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.

Akses wisata ditutup untuk mendukung penanganan dan menjaga keselamatan pengunjung. Institut Teknologi Bandung, melalui artikel “Pakar ITB Ungkap Dampak Ekologis Kebakaran Bromo hingga Strategi Restorasinya”, 16 Agustus 2026, turut menyoroti dampak ekologis dan kebutuhan pemulihan kawasan.

Di Sulawesi Tengah, kebakaran di Pegunungan Sidoe dan Gunung Salu Lovu, Kabupaten Sigi, diperkirakan berdampak pada sekitar 30 hektare lahan. TribrataNews Polda Sulawesi Tengah, dalam laporan 10 Oktober 2026, menyebut 25 personel gabungan dikerahkan untuk menangani api yang mengancam perkebunan warga.

baca juga

Medan terjal dan akses terbatas menghambat pemadaman di sejumlah titik. Tidak ada korban jiwa maupun rumah warga terdampak yang dilaporkan. Kasus ini menunjukkan bahwa kebakaran pegunungan juga menyentuh keamanan penghidupan masyarakat sekitar.

Kerusakan yang Tidak Selesai Ketika Api Padam

Luas kebakaran hanya menggambarkan sebagian dari persoalan yang dihadapi kawasan pegunungan. Guru Besar Ekologi Institut Teknologi Bandung yang dikutip dalam artikel ITB tentang kebakaran Bromo menekankan pentingnya pemulihan berdasarkan kondisi ekosistem. Api dapat mengubah tutupan vegetasi, memengaruhi organisme tanah, dan mengganggu regenerasi tumbuhan.

Dampaknya bergantung pada intensitas kebakaran, jenis habitat, serta kemampuan alam memulihkan diri. Karena itu, luas lahan terbakar tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi ukuran tunggal kerusakan ekologis.

Persoalan lain terletak pada keterbatasan data yang konsisten. Untuk Gunung Anjasmoro dan Latimojong, data luas kebakaran 2026 yang dapat diverifikasi belum cukup kuat untuk disajikan sebagai angka pasti. Kekosongan informasi itu perlu dibedakan dari kepastian bahwa kebakaran tidak terjadi.

baca juga

Sementara itu, laporan dari Tambora, Semeru, dan Rinjani memperlihatkan bahwa angka sementara dapat berubah seiring pemetaan. Tanpa pencatatan yang seragam, perbandingan antarwilayah berisiko menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Di sinilah persoalan kebakaran bergeser dari urusan pemadaman menjadi urusan tata kelola lingkungan. Patroli, pemetaan titik rawan, penyelidikan penyebab api, dan keterbukaan data menentukan kualitas penanganan. Setelah api padam, evaluasi perlu memeriksa kondisi tanah, vegetasi, habitat satwa, dan potensi erosi. Pemulihan pun tidak cukup dilakukan dengan menanam pohon secara seragam. Setiap kawasan membutuhkan pendekatan sesuai karakter ekosistem dan kemampuan regenerasi alaminya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.