dari buah pedada jadi permen jeli inovasi pangan ini buka peluang ekonomi warga cigimbal - News | Good News From Indonesia 2026

Buah Pedada "Disulap" Jadi Permen Jeli, Inovasi Pangan yang Membuka Peluang Ekonomi Warga Cigimbal

Buah Pedada "Disulap" Jadi Permen Jeli, Inovasi Pangan yang Membuka Peluang Ekonomi Warga Cigimbal
images info

Buah pedada | Wikimedia Commons | Shagil Kannur


Kawan pernah melihat buah jatuh yang berserakan di bawah pohon dan akhirnya membusuk? Pemandangan itu yang juga terjadi di pesisir Cigimbal Park, Cilacap Utara.

Di sana, terdapat jenis mangrove yang keberadaan buahnya sangat melimpah. Namanya buah pedada.

Selama ini, buah pedada yang jatuh sering dibiarkan membusuk dan menjadi bagian dari ekosistem tanpa memberikan nilai ekonomi bagi warga setempat. Padahal, buah tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi produk pangan yang lebih bernilai.

Salah satu pemanfaatannya adalah inovasi pangan dengan mengolahnya menjadi permen jeli pedada. Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Sari Sekar Ningrum dan tim dari Politeknik Negeri Cilacap, yang dirilis dalam Jurnal Altifani (2026).

Di sisi lain, sebagian besar warga di sana masih bekerja sebagai buruh harian lepas dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Hal inilah yang mendorong Koperasi Mahardika Nusa Tani, mitra dalam kegiatan tersebut, ingin memperbaiki ekonomi warga dengan memanfaatkan buah pedada yang salama ini terabaikan.

Keberadaan buah pedada atau Sonneratia caseolaris menjadi salah satu potensi sumber daya lokal di kawasan tersebut. Rasanya yang khas dan aroma yang menarik cocok diolah menjadi makanan.

Selain itu, pedada juga mengandung sejumlah vitamin, seperti vitamin C, B1, dan B2, yang dapat memberi nilai gizi tambahan pada produk olahannya nanti, yaitu permen jeli.

baca juga

Bagimana Cara Mengolahnya?

Buah pedada terlebih dahulu dicuci dan dikupas, kemudian diiris dan direndam dengan air garam selama kurang lebih lima jam. Setelah itu tiriskan, bilas dengan air, lalu blender dan saring hingga menghasilkan sari buah pedada.

Kemudian, sari buah pedada tadi dicampur dengan 900 gram gula pasir dan 120 gram agar Swallow yang sudah dilarutkan dengan sedikit sari buah. Lalu campuran tersebut dipanaskan dengan api kecil hingga mendidih sambil terus diaduk.

Setelah matang, tuangkan adonan ke dalam cetakan silikon dan diamkan hingga mengeras. Langkah terakhir, masukkan ke dalam oven sekitar 2,5 jam pada suhu 60-70 derajat celsius dengan api atas bawah.

Permen jeli dengan tekstur kenyal dan rasa manis asam pun sudah jadi dan siap dikemas.

baca juga

Peluang Ekonomi dari Kawasan Mangrove

Pemanfaatan buah pedada menjadi permen jeli ini dapat membuka pilihan baru bagi warga Cigimbal untuk mengolah hasil mangrove yang selama ini belum banyak dimanfaatkan, agar menjadi sebuah produk yang bernilai secara ekonomi.

Potensi tersebut semakin terbuka karena Cigimbal sendiri juga memiliki kawasan wisata mangrove. Sehingga, permen jeli pedada nantinya dapat dikenalkan sebagai oleh-oleh khas yang memanfaatkan buah dari kawasan mangrove setempat.

β€œPermen jeli berbasis pedada dipilih sebagai bentuk inovasi karena mudah dibuat, memiliki daya tarik visual, dan cocok sebagai oleh-oleh khas daerah wisata mangrove,” tulis Sari dalam jurnal tersebut.

Para warga setempat pun tertaik untuk mencoba membuat permen jeli pedada sendiri dan ingin mengembangkannya di rumah. Hal itu terlihat dari para antusiasme peserta yang terdiri atas pengelola ekowisata, pengurus koperasi, dan ibu-ibu PKK yang selama mengikuti kegiatan, mereka aktif bertanya seputar ide mengenai varian rasa, desain kemasan dan strategi pemasaran lokal.

Jika terus dikembangkan, buah pedada yang dulu hanya jatuh dan membusuk bisa menjadi sumber tambahan penghasilan bagi warga Cigimbal.

Langkahnya mungkin memang masih awal. Namun menurut Sari dan tim, hasil dari program pelatihan ini menunjukkan bahwa pengolahan buah pedada bisa menjadi jalan untuk mendorong pelestarian mangrove lewat kegiatan ekonomi yang produktif.

Selain itu, masyarakat setempat juga mulai aware bahwa ekosistem mangrove di sekitar mereka punya potensi ekonomi yang layak dijaga.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HK
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.