minyak jelantah diolah jadi bahan bakar emisinya bisa 80 persen lebih rendah - News | Good News From Indonesia 2026

Minyak Jelantah Diolah Jadi Bahan Bakar, Emisinya Bisa 80 Persen Lebih Rendah?

Minyak Jelantah Diolah Jadi Bahan Bakar, Emisinya Bisa 80 Persen Lebih Rendah?
images info

Foto oleh Fulvio Ciccolo di Unsplash


Minyak jelantah biasanya berakhir sebagai limbah setelah digunakan untuk memasak. Jika dibuang sembarangan, minyak tersebut dapat mencemari saluran air dan lingkungan.

Bahan ini masih mengandung karbon dan senyawa minyak yang dapat diolah kembali. Peneliti mengkaji pemanfaatannya sebagai bahan baku bahan bakar nabati, termasuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mengembangkan teknologi katalisis untuk mengolah trigliserida dalam minyak nabati menjadi hidrokarbon. Produk yang dituju mencakup bensin hijau, diesel hijau, dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Katalisis BRIN Kiky Corneliasari Sembiring mengatakan karbon dari sumber hayati dapat diperbarui melalui pertumbuhan tanaman.

โ€œKarbon dari sumber hayati dapat diperbarui melalui siklus pertumbuhan tanaman yang relatif singkat. Pemanfaatan karbon terbarukan dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendukung transisi energi berkelanjutan,โ€ ujar Kiky.

ย 

Mengubah Minyak Menjadi Hidrokarbon

Trigliserida dari minyak nabati dapat dikonversi melalui beberapa metode. Metode tersebut mencakup transesterifikasi, hydroprocessing, pirolisis, dan hidrolisis.

Pada proses hidrolisis, trigliserida dipecah menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak tersebut kemudian dapat diolah lebih lanjut menjadi hidrokarbon.

Pengujian terhadap minyak sawit dilakukan selama 20 menit dengan suhu 170 hingga 330 derajat Celsius. Hasilnya menunjukkan perolehan asam lemak meningkat ketika suhu dinaikkan.

Perolehan asam lemak mendekati 90 persen pada suhu 300 derajat Celsius. Hasil tersebut menjadi bagian dari kajian untuk melihat pengaruh suhu terhadap proses pengolahan minyak nabati.

BRIN juga mengembangkan katalis berbasis nikel dan timah dengan penyangga karbon aktif. Katalis tersebut disiapkan sebagai alternatif dari katalis berbasis logam mulia yang memiliki biaya lebih tinggi.

โ€œPengembangan tersebut bertujuan menghasilkan katalis yang lebih ekonomis, sekaligus meningkatkan kinerja dan stabilitas proses konversi minyak nabati. Kami mengeksplorasi katalis berbasis nikel sebagai alternatif yang lebih ekonomis,โ€ kata Kiky.

ย 

Minyak Sawit Menghasilkan Hidrokarbon

Dalam pengujian deoksigenasi minyak sawit RBDPO atau refined, bleached, and deodorized palm oil, peneliti memperoleh sekitar 85 persen hidrokarbon dan 15 persen asam lemak.

Deoksigenasi merupakan proses pengurangan kandungan oksigen dari bahan minyak untuk menghasilkan senyawa hidrokarbon. Hasil pengujian tersebut menunjukkan katalis berbasis nikel dan timah memiliki potensi dalam mengolah minyak nabati menjadi bahan bakar.

Bahan baku tidak hanya berasal dari minyak sawit. Minyak jelantah dan bahan nonpangan juga dikaji karena dapat menambah nilai guna limbah sekaligus mendukung ekonomi sirkular.

Pemanfaatan minyak jelantah mengurangi kebutuhan bahan baku baru. Bahan yang sebelumnya menjadi limbah dapat masuk kembali ke dalam proses produksi energi.

ย 

Emisi Minyak Jelantah Lebih Rendah

Dalam perbandingan yang dipaparkan, bahan bakar dari minyak jelantah memiliki intensitas emisi sekitar 18 gram COโ‚‚ ekuivalen per megajoule.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan bahan bakar jet berbasis fosil yang mencapai sekitar 89 gram COโ‚‚ ekuivalen per megajoule. Dalam skenario yang digunakan, selisih itu menunjukkan potensi penurunan emisi sekitar 80 persen.

Kiky mengatakan hasil tersebut tidak berlaku sama untuk semua kondisi. Besarnya penurunan emisi dipengaruhi jenis bahan baku, proses produksi, kebutuhan energi, dan metode penghitungan emisi.

Penelitian BRIN saat ini mencakup pengembangan katalis dan pengaturan proses konversi. Keduanya diperlukan untuk mengolah karbon terbarukan menjadi bahan bakar nabati dengan hasil hidrokarbon dan tingkat emisi yang dapat dihitung.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.