Greece Mutia sudah sembilan kali menerima penolakan saat mendaftar beasiswa.
Alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU Jogja) itu mencoba daftar ke 10 program beasiswa di berbagai wilayah, mulai dari Asia, Australia, Selandia Baru, hingga Eropa.
Berkali-kali gagal, Greece akhirnya dinyatakan lolos beasiswa dan diterima melanjutkan studi ke Polandia, tepatnya di University of Wroclaw. Greece kini menempuh program Applied Social and Intercultural Studies (ASIS) melalui Stefan Banach Scholarship.
Mulai Menabung untuk Kuliah di Luar Negeri Sejak Mahasiswa
Keinginan Greece melanjutkan studi ke luar negeri sudah muncul sejak dirinya masih menjadi mahasiswa PGSD UNU Jogja. Bukan hanya keinginan semata, ia juga sudah menyiapkan strategi untuk mendapatkan itu.
Ketika mahasiswa, Greece menerima beasiswa Future Leader Scholarship. Daripada menghabiskan seluruh uang saku yang diperoleh, Greece menyisihkan sebagian untuk kebutuhan yang berkaitan dengan rencana studi lanjut.
Tabungan tersebut kemudian digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari persiapan IELTS, mencari informasi beasiswa, hingga mengurus dokumen pendaftaran. Sebab ia tahu, jalan untuk mendapatkan beasiswa juga tidak mudah.
Tak hanya itu, ia juga sudah menyiapkan pengalaman di kegiatan sukarela maupun aktivitas pengembangan diri. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari bekalnya ketika mendaftar program beasiswa.
“Saya selalu menyisihkan waktu untuk belajar bahasa asing, terutama IELTS, menyisihkan uang saku bulanan dari beasiswa Future Leader Scholarship, dan ikut volunteering,” kata Greece, sebagaimana dikutip dari laman resmi UNU.
Sembilan Penolakan dalam Delapan Bulan
Nah, walaupun Greece sudah menyiapkan beberapa hal, nyatanya mendapatkan beasiswa memang tidak mudah. Tercatat, dalam delapan bulan, Greece mengirimkan 10 aplikasi beasiswa. Sembilan di antaranya ditolak.
Walaupun begitu, penolakan berulang tidak membuatnya menyerah dan berhenti. Greece tetap bekerja sebagai pengajar sambil mempersiapkan pendaftaran berikutnya, termasuk mendalami IELTS, mencari informasi program, menyiapkan dokumen, dan menyusun motivation letter.
Greece juga tidak hanya mengandalkan informasi dari internet. Ia kerap bertanya kepada para penerima beasiswa atau awardee mengenai proses seleksi dan persyaratan program yang pernah mereka ikuti.
Cara itu membantunya memahami bahwa setiap program memiliki karakter seleksi yang berbeda.
Ia kemudian terus mengevaluasi diri sert membangun ulang beberapa modal yang sudah dibangun sejak kuliah, mulai dari kemampuan bahasa Inggris, IPK, pengalaman organisasi dan kegiatan, hingga kemampuan menyusun dokumen aplikasi.
Sampai akhirnya, Stefan Banach Scholarship memberikan kabar baik bagi Greece.
Saat ini, Greece berada di Polandia untuk melanjutkan pendidikan di University of Wroclaw.
Usai meraih salah satu mimpinya, Greece pun masih memiliki cita-cita. Setelah menyelesaikan studi, ia ingin membangun sekolah di Lampung. Ia ingin manfaat beasiswa tidak hanya ia rasakan sendiri, tapi juga oleh anak-anak yang membutuhkan.


