kenapa pulau miangas jadi milik indonesia padahal jaraknya jauh lebih dekat ke filipina - News | Good News From Indonesia 2026

Kenapa Pulau Miangas Jadi Milik Indonesia Padahal Jaraknya Jauh Lebih Dekat ke Filipina?

Kenapa Pulau Miangas Jadi Milik Indonesia Padahal Jaraknya Jauh Lebih Dekat ke Filipina?
images info

Bandara Miangas | Kemenhub RI


Pulau Miangas sering disebut sebagai titik paling utara Indonesia saking jauh dan terpencilnya. Akan tetapi, sebetulnya Pulau Miangas bukanlah titik paling utara Indonesia. Ujung utara Indonesia ada di Pulau Rondo, Aceh.

Meskipun bukan yang paling utara, Pulau Miangas memang terletak di ujung utara Sulawesi dan merupakan salah satu wilayah yang dikategorikan sebagai tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Secara administratif, pulau yang terletak di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara ini menjadi salah satu benteng perbatasan terluar Indonesia.

Secara geografis, lokasi Pulau Miangas justru terletak jauh lebih dekat ke daratan Filipina ketimbang ke wilayah Indonesia. Bahkan, masih ada penduduknya yang sangat lancar berbahasa Tagalog.

Kira-kira, kenapa Pulau Miangas jadi milik Indonesia padahal jaraknya jauh lebih dekat ke Filipina?

Seberapa Jauh Miangas ke Filipina?

Letak Pulau Miangas hanya berjarak sekitar 45 mil laut atau 83 kilometer dari Kota Davao di Mindanao, Filipina. Perjalanan laut ke daratan Filipina dari pulau ini dapat ditempuh dalam waktu beberapa jam saja menggunakan perahu nelayan.

Kondisi ini berbanding terbalik jika masyarakat Miangas hendak berlayar menuju wilayah Indonesia lainnya. Untuk menuju Melonguane yang merupakan ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud, kapal membutuhkan waktu perjalanan hingga sehari semalam.

Sementara itu, jarak Miangas ke Kota Manado di Sulawesi Utara mencapai 274 mil laut atau sekitar 507 kilometer. Bila ditempuh dari Pelabuhan Bitung, jarak jalurnya membentang sejauh 493 kilometer.

Bisa dibayangkan betapa lelahnya perjalanan laut yang harus ditempuh masyarakat Miangas jika ingin pergi ke daerah di Sulawesi lainnya, kan?

baca juga

Kenapa Pulau Miangas Jadi Milik Indonesia?

Merangkum tulisan Sitti Navisah Muhidin di Jurnal Transborders, penetapan kedaulatan Pulau Miangas memiliki riwayat hukum internasional yang bermula sebelum Indonesia merdeka. Sengketa atas pulau ini awalnya terjadi antara Pemerintah Kerajaan Belanda dan Amerika Serikat.

Amerika Serikat mengklaim Miangas berdasarkan Perjanjian Paris 1898 seusai mengambil alih wilayah Filipina dari Spanyol. Namun, Belanda menolak klaim tersebut karena Spanyol dinilai tidak pernah secara nyata menguasai Miangas.

Kemudian, Belanda membuktikan penguasaan efektif atas Miangas lewat perjanjian dengan raja-raja lokal Sangihe sejak tahun 1677. Karena tidak menemukan kata sepakat, kedua pihak membawa sengketa ini ke Mahkamah Arbitrase Internasional di Den Haag.

Pada 4 April 1928, arbitrator tunggal asal Swiss, Dr. Max Huber, memutuskan bahwa Pulau Miangas secara keseluruhan milik Belanda. Keputusan ini didasari bukti penyelenggaraan kedaulatan yang berkelanjutan oleh Belanda di pulau itu.

Saat Indonesia merdeka, status Miangas otomatis diwarisi dari wilayah Hindia Belanda sesuai prinsip hukum internasional. Kepemilikan ini juga dipertegas lewat Perjanjian Lintas Batas (Border Crossing Agreement) Indonesia-Filipina pada 1956.

Puau Terluar yang Harus Dijaga

Meski lokasinya dekat dengan Filipina, mayoritas penduduk Pulau Miangas merupakan warga dari suku Talaud. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat lokal menuturkan bahasa Talaud dialek Nanusa.

Selain bahasa daerah, warga setempat juga lancar berbahasa Indonesia serta bahasa Melayu Manado. Kemampuan berbahasa Tagalog atau Bisaya umumnya dikuasai oleh generasi tua maupun warga yang sering berdagang dengan masyarakat Filipina.

Kedekatan letak geografis turut melahirkan tradisi pemenuhan kebutuhan barang harian yang unik antarwarga perbatasan.

Kawan GNFI, pulau seluas 3,15 kilometer persegi ini memiliki struktur administrasi yang terbilang unik. Kecamatan Miangas merupakan satu-satunya kecamatan di Indonesia yang hanya membawahi satu desa, yakni Desa Miangas.

baca juga

Kini, pulau yang dihuni sekitar 800-an jiwa ini sudah dilengkapi sarana perhubungan yang memadai. Salah satunya adalah Bandara Miangas yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2016 untuk melayani penerbangan dari Manado.

Selain itu, masyarakat juga bisa menggunakan kapal sebagai opsi untuk bermobilisasi. Pulau ini turut ditunjang fasilitas pendukung seperti pasar, kantor bank, stasiun pemancar, hingga puskesmas.

Keamanan sekitar juga dijaga ketat oleh personel Polsek serta pos TNI Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Di sana juga berdiri Monumen Patung Santiago untuk mengenang pahlawan lokal Talaud yang gigih menentang penjajah.

Kawan, keberadaan Pulau Miangas sangat penting karena menjadi salah satu titik batas kedaulatan negara. Tak hanya itu, sebagai pulau terluar, pulau ini juga menjadi itik untuk menarik garis pangkal kepulauan (archipelagic baseline) untuk mengukur luas wilayah laut Indonesia.

Menjaga Pulau Miangas berarti menjaga kedaulatan NKRI secara utuh.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.