Jepara sudah lama dikenal sebagai wilayah dengan karya seni pahat kayu atau ukiran yang mantap di Indonesia. Bahkan, tak cuma termasyhur di dalam negeri saja, kabupaten ini juga sudah diakui sebagai salah satu pusat seni ukir dunia alias The World Carving Center.
Kawan GNFI mungkin sudah pernah melihat ukiran-ukiran khas Jepara di berbagai tempat di Indonesia. Namun, bagaimana jadinya jika karya seni ini justru bisa ditemukan di lar negeri?
Di Kota Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, berdiri Masjid Istiklal yang merupakan βhadiahβ dari bangsa Indonesia untuk masyarakat muslim Bosnia. Masjid ini memiliki ukiran khas yang terbuat dari kayu jati yang juga merupakan karya pengukir Jepara.
Akan tetapi, ukiran itu sudah mulai rusak. Oleh karena itu, dikirimlah tiga ahli ukir asli Jepara untuk melakukan restorasi di Masjid Istiklal.
Restorasi ini menjadi wujud diplomasi budaya sekaligus misi besar untuk memperkenalkan seni ukir Jepara ke dunia internasional.
Enam Pilar Rusak dan Misi Restorasi Pengukir Jepara
Kawan GNFI, melansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Jepara, pilar berukir dari kayu jati di dalam masjid itu harus diganti total. Kerusakan pada pilar dinilai tidak memungkinkan untuk diperbaiki dengan teknik penambalan biasa agar karakter ukirannya tetap terjaga.
Ada tiga pengukir yang diterbangkan langsung dari Jepara ke Bosnia, yakni Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo. Mereka berangkat pada 13 Oktober 2026 lalu.
Selain mengganti enam pilar utama, tim juga membenahi bagian tangga serta sejumlah hiasan dinding. Bahkan, satu panel hiasan dinding sudah dibuat lebih dulu di Jepara sebelum dikirim langsung ke Sarajevo.
Penemuan kerusakan ornamen ini sebelumnya terjadi secara tidak sengaja pada Februari 2026 saat kunjungan Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat. Kunjungan awal untuk mendukung pendaftaran ukir Jepara ke UNESCO tersebut justru berkembang menjadi upaya restorasi masjid.
Kawan, ornamen kayu yang kini direstorasi sejatinya merupakan warisan bersejarah dari Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie. Saat masa pembangunan masjid, Habibie menyumbangkan mimbar berbahan kayu jati dan berbagai hiasan ukir khas Nusantara.
Informasi dari staf protokol kepresidenan menyebutkan bahwa seluruh ukiran tersebut dikerjakan oleh para perajin dari Jepara. Sayangnya, alamat maupun identitas pasti dari para pengukir generasi awal tersebut hingga kini belum berhasil ditelusuri.
Masjid Istiklal Sarajevo, Simbol Persahabatan Indonesia-Bosnia
Masjid Istiklal Sarajevo, atau yang sering disebut Masjid Indonesia dan Masjid Soeharto, berdiri di atas lahan seluas 2.800 meter persegi. Pembangunan masjid ini digagas langsung oleh Presiden Soeharto setelah melakukan kunjungan ke Sarajevo pada pertengahan Maret 1995.
Dulu, saat Bosnia masih dilanda krisis perang, Soeharto tetap ingin melawat ke wilayah konflik. Perjalanan ini bisa dibilang nekat karena pesawat PBB sempat ditembak jatuh dua hari sebelum kedatangan rombongan Soeharto.
Soeharto tergerak untuk memberikan kenang-kenangan berupa bangunan masjid bagi masyarakat Muslim Bosnia setelah melihat kondisi dan penderitaan masyarakat setempat.
Uniknya, masjid ini dirancang oleh arsitek kenamaan Indonesia, Ir. Ahmad Noeβman, dengan mengusung gaya arsitektur Islam postmodern. Ciri khas bangunan ini terlihat pada dua menara kembar yang melambangkan persahabatan erat antara Indonesia dan Bosnia.
Proses peletakan batu pertama dilakukan pada 1997, lalu konstruksi fisik dimulai tahun 1999 hingga resmi diresmikan pada September 2001. Peresmian dipimpin oleh Menteri Agama RI kala itu, Said Aqil Husin al-Munawar, dan disambut antusias oleh warga Sarajevo.
Kini, Masjid Istiklal menjadi salah satu ikon terbesar di ibu kota Bosnia dan terus hidup sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.


