βSebuah gerakan, bukan sekadar program tunggal.β
Itu adalah dampak jangka panjang yang ingin dicapai Guru Belajar Foundation.
Mereka membawa sebuah gagasan bahwa perubahan pendidikan tidak harus selalu berawal dari pejabat, kepala sekolah, atau orang yang memegang jabatan formal. Guru pun bisa menjadi pemimpin perubahan.
Gagasan ini pun menarik para guru di Indonesia. Tercatat, ada 61.717 guru telah terlibat dalam program pengembangan kepemimpinan guru di 91 kabupaten dan kota di Indonesia.
Atas inisiasi tersebut, program yang dikembangkan Guru Belajar Foundation kini mendapat pengakuan global setelah terpilih sebagai salah satu dari tiga penerima UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development 2026.
Penghargaan tersebut diumumkan dalam rangkaian World Teachersβ Day dan Award Ceremony UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development di Markas Besar UNESCO, Paris, Prancis, pada 5 Oktober 2026.
Sebelumnya, program Collective Teacher Leadership Development Programme juga masuk sebagai salah satu dari 10 finalis dari berbagai negara.
Penghargaan Ini Menunjukkan Bahwa Guru Tetap Terus Belajar
Najelaa Shihab, Founder Guru Belajar Foundation, mengatakan penghargaan UNESCO-Hamdan menjadi pengakuan terhadap guru yang terus belajar, merefleksikan pengalaman, dan berbagi cerita perubahan.
βPenghargaan ini adalah pengakuan terhadap guru-guru yang terus belajar, menjalankan misi belajar, merefleksikan pengalaman, dan berbagi cerita perubahan,β katanya, sebagaimana dikutip dari rilis resmi.
Saat seremoni di Paris, Guru Belajar Foundation diwakili Muhammad Luqman Hakim. Ia melihat penghargaan tersebut bukan hanya sebagai pengakuan terhadap organisasi, tetapi juga terhadap pengalaman guru dan komunitas yang selama ini ikut membentuk program.
βKetika nama Guru Belajar Foundation dan Indonesia disebut di UNESCO, yang terbayang bagi saya justru guru-guru di berbagai daerah yang selama ini belajar dan bergerak bersama komunitasnya.β
Luqman berharap pengakuan tersebut membuat semakin banyak pengalaman dan suara guru Indonesia didengar dalam percakapan global tentang pengembangan guru.
Harapan itu sejalan dengan gagasan utama program. Kepemimpinan guru tidak dibangun dengan mencari satu sosok yang paling menonjol. Guru justru didorong untuk tumbuh bersama komunitasnya.
Apa Sebenarnya UNESCO-Hamdan Prize?
UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development merupakan penghargaan yang didirikan pada 2008 untuk mendukung peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran serta berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goal 4 tentang pendidikan.
Penghargaan ini diberikan setiap dua tahun dan didukung Hamdan Bin Rashid Al Maktoum Foundation for Medical and Educational Sciences.
Untuk edisi 2025β2026, total hadiah yang diberikan mencapai US$300.000 dan dibagi rata kepada tiga organisasi pemenang. Para laureat dipilih oleh juri internasional yang terdiri dari lima ahli di bidang pendidikan dan pengembangan guru.

Perwakilan Guru Belajar Foundation bersama para penerima UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development 2026 dalam seremoni di UNESCO Headquarters, Paris, 5 Oktober 2026.
Dengan kata lain, pencapaian Guru Belajar Foundation tidak hanya menempatkan nama organisasi Indonesia dalam daftar penerima penghargaan internasional. Program tersebut juga membawa satu gagasan bahwa perubahan pendidikan bisa dibangun dari komunitas guru sendiri.
Dan setelah penghargaan diterima, pekerjaannya belum selesai.
Dalam 12 bulan mendatang, Guru Belajar Foundation berencana mengonsolidasikan infrastruktur digital yang selama ini mendukung jalur pengembangan guru. Fasilitasi, coaching, dan pendampingan berbasis konteks lokal juga akan diperkuat.
Guru Kini Tidak Lagi Hanya Duduk dan Menjadi Peserta Pelatihan
Kawan, konsep yang diusung oleh Guru Belajar Foundation untuk memberdayakan para guru cukup unik.
Dalam pelaksanaan program, guru tidak ditempatkan hanya sebagai penerima pelatihan, tetapi sebagai orang yang ikut menentukan proses belajar dan perubahan di lingkungannya.
Pendekatan tersebut disebut sebagai Collective Teacher Leadership Development Programme atau Program Pengembangan Kepemimpinan Guru Kolektif.
Gampangnya, guru didorong untuk belajar dari pengalaman sendiri, mencoba perubahan di kelas, membagikannya kepada guru lain, lalu berkembang menjadi penggerak komunitas.
Ya, mereka berdiskusi secara aktif berdasarkan pengalaman yang dialami. Hal ini jelas berbeda dengan program pengembangan profesional guru yang kerap identik dengan pelatihan: guru hanya mengikuti lokakarya, menerima materi, kemudian kembali ke sekolah.
Di Guru Belajar Foundation, guru-guru lebih aktif berdialog dan berdiskusi. Malahan, ada tiga tahapan yang menjadi bagian dari program Guru Belajar Foundation, yakni Guru Belajar, Guru Berdampak, dan Guru Berdaya.
Perkembangan guru lebih banyak dilihat dari kontribusi dan pengakuan komunitas terhadap perubahan yang mereka lakukan.
Pada tahap pertama, Guru Belajar adalah guru yang terus mencari, merefleksikan, dan membagikan solusi yang berorientasi pada kebutuhan siswa.
Setelah itu ada Guru Berdampak. Pada tahap ini, perubahan yang dilakukan guru mulai memengaruhi cara guru lain mengajar atau cara komunitas belajar bersama.
Tahap berikutnya adalah Guru Berdaya. Guru pada tahap ini mulai memimpin komunitas rekan sejawat dan membawa suara guru ke dalam percakapan dengan pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat sipil.
Empat Hal yang Menjadi Fondasinya
Perjalanan tersebut dibangun melalui empat prinsip yang disebut 4K, yaitu Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi, dan Karier.
Kemerdekaan berarti guru memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan profesional. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan yang terus berkembang.
Sementara itu, kolaborasi menempatkan guru agar tidak bekerja sendirian. Adapun karier tidak hanya dipahami sebagai kenaikan jabatan, tetapi sebagai ruang pertumbuhan yang bisa berlangsung di luar posisi formal.
Konsep inilah yang kemudian diterapkan melalui berbagai aktivitas. Salah satunya misi belajar, ketika guru mencoba tindakan tertentu untuk menjawab persoalan di kelas, sekolah, atau komunitasnya.
Setelah mencoba, pengalaman tersebut direfleksikan dan didokumentasikan melalui cerita perubahan.

