Cara belajar siswa zaman sekarang sudah semakin akrab dengan teknologi. Mereka menggunakan media digital dan kecerdasan buatan (AI) yang membuat prosesnya terasa lebih mudah.
Melansir dari GoodStats, data itu tercatat dalam laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) lewat asesmen Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang diliris pada 8 September 2026.
Hasilnya, sebanyak 53 persen siswa Indonesia menggunakan AI untuk membantu belajar setidaknya sekali dalam seminggu.
Guru Besar Sosiologi Pendidikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Tuti Budirahayu, menilai kemajuan teknologi komunikasi memang memudahkan proses belajar. Namun, kemudahan itu dapat menurunkan motivasi siswa untuk belajar secara serius dan mendalam.
βSiswa kini dihadapkan pada kemajuan teknologi komunikasi. Seperti media digital dan kecerdasan buatan (AI), yang memudahkan proses belajar. Tetapi juga dapat menurunkan semangat siswa untuk belajar secara serius dan mendalam,β ujar Tuti, sebagaimana dilansir dari laman Unair News.
Lantas, apakah kemudahan belajar itu sejalan dengan kemampuan siswa?
Di Balik Skor PISA yang Masih di Bawah Rata-Rata
Dalam asesmen PISA 2025 yang diikuti oleh 14.168 siswa berusia 15 tahun, menunjukkan bahwa skor sains di Indonesia naik dari 383 pada 2022 menjadi 389. Skor membaca juga naik dari 359 menjadi 365. Sementara itu, skor matematika justru turun dari 366 menjadi 364.
Meskipun ada peningkatan, skor tersebut masih berada jauh di bawah rata-rata negara OECD.
Karena hanya 37 persen siswa Indonesia yang mencapai tingkat kecakapan minimum dalam sains, sementara rata-rata nya mencapai 74 persen. Pada matematika, angkanya 17 persen dibandingkan 65 persen, dan pada membaca hanya 27 persen dibandingkan 69 persen.
Namun, dibalik rendahnya skor yang masih dibawah rata-rata, terdapat indikator positif yang tercatat pada laporan OECD.
Sebanyak 80 persen dari rata-rata OECD yang sebesar 73 persen, siswa Indonesia mengaku memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai hal. Selain itu, 74 persen siswa tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan belajar, dan 82 persen menyatakan gurunya peduli pada pembelajaran setiap siswa.
Hal tersebut dimakanai oleh Tuti sebagai tanda adanya perbaikan iklim belajar di sekolah. Ia berharap peningkatan itu merupakan hasil kerja keras para pengajar.
Karena modal awalnya pun sudah ada, mulai dari rasa ingin tahu dan ketekunan siswa hingga guru yang peduli pada pembelajaran mereka.
Peluang Perbaikan Sistem Pendidikan
Melalui kacamata sosiologi pendidikan, Tuti menilai bahwa skor PISA tidak hanya menggambarkan kemampuan tiap siswa saja, tetapi juga mencerminkan bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia secara keseluruhan.
Karena itu, lingkungan sosial siswa punya peranan yang penting. Mulai dari orang tua, sekolah, pemerintah hingga masyarakat yang harus saling bersinergi dengan sama-sama menyediakan dukungan, materi, serta pengetahuan yang bermakna bagi peningkatan kualitas belajar siswa.
Di rumah, keluarga berperan memberi dukungan belajar kepada anak. Sementara itu, iklim belajar di sekolah juga perlu mendorong siswa agar berpikir kritis, inovatif, dan kreatif lewat kurikulum formal maupun kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) untuk membentuk siswa yang berkualitas.
Tuti juga menyebut bahwa OECD sebenarnya sudah memberi arahan lewat penguatan proses pembelajaran. Dan kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman pun perlu diwujudkan lewat pembelajaran di kelas.
Hal tersebut mencakup kemampuan berpikir kritis, literasi keuangan digital, dan pemecahan masalah secara kolaboratif. Di sisi lain, transformasi kurikulum serta inovasi model pembelajaran yang responsif dan inovatif juga perlu menjadi prioritas.
Selain itu, pemerataan akses, fasilitas, dan sarana belajar pun juga harus menjadi hal penting yang perlu disoroti, terutama di wilayah terpencil, terluar, terdalam, dan terisolasi. Karena 37 persen siswa berada di sekolah yang terkendala bahan pembelajaran dan 39 persen terkendala pada infrastruktur fisik.


