Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan pulau yang tersohor hingga ke mancanegara karena pesona alamnya yang memukau. Mulai dari keindahan Tiga Gili (Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno), keunikan Pantai Pink, hingga Pantai Senggigi yang ikonik.
Dewasa ini, nama Mandalika juga kian mendunia sejak ditetapkannya kawasan di Lombok Tengah ini sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dan dibangunnya Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika yang menjadi tuan rumah ajang balap dunia seperti MotoGP dan World SuperBike (WSBK). Namun, tahukah Kawan bahwa di balik kemegahan sirkuit dan pesona alam tersebut, terdapat sebuah cerita rakyat Putri Mandalika yang sangat melegenda dan sarat akan makna perdamaian?
Berikut adalah kisah lengkap legenda Putri Mandalika dan jejak tradisinya yang masih lestari hingga kini.
Kisah Putri Sarah Wulan yang Jelita dan Berbudi Pekerti
Alkisah pada zaman dahulu kala, di pesisir pantai Pulau Lombok, berdirilah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja yang adil dan bijaksana bernama Raja Tonjang Beru beserta permaisurinya, Dewi Seranting. Kerajaan tersebut sangat makmur dan rakyatnya hidup tenteram.
Kebahagiaan kerajaan semakin lengkap dengan lahirnya seorang putri yang diberi nama Putri Sarah Wulan, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Putri Mandalika. Ia tumbuh menjadi gadis yang tidak hanya memiliki paras cantik jelita, tetapi juga berkepribadian luhur. Tutur bahasanya lembut, sopan, dan sangat ramah kepada semua orang.
Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika tersebar ke seluruh penjuru negeri. Hal ini membuat banyak pangeran dan pemuda terpikat, tak terkecuali tiga putra mahkota dari kerajaan-kerajaan besar di Lombok. Mereka semua berlomba-lomba datang untuk melamar sang putri dan menjadikannya permaisuri.
Keputusan Berat Demi Kedamaian Lombok
Banyaknya lamaran yang datang membuat Raja menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sang putri. Namun, situasi ini justru membuat Putri Mandalika gundah. Sebagai sosok yang sangat mencintai kedamaian, ia menyadari sebuah dilema besar: jika ia menerima satu lamaran saja, maka akan timbul kecemburuan yang bisa memicu peperangan, perselisihan, dan pertumpahan darah di tanah Lombok.
Untuk mencari petunjuk, Putri Mandalika akhirnya memutuskan untuk bersemedi. Sepulangnya dari semedi, ia mengambil keputusan yang sangat berat namun berani. Ia mengundang seluruh pangeran, pemuda, dan rakyatnya untuk berkumpul di Pantai Seger (di kawasan Kuta, Lombok) pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan tradisional Suku Sasak (pranata mangsa), tepatnya sebelum azan subuh berkumandang.
Pengorbanan Sang Putri dan Keajaiban di Pantai Seger
Pada hari yang telah ditentukan, Pantai Seger dipadati oleh lautan manusia. Ketika matahari mulai menyingsing, Putri Mandalika muncul dengan balutan busana sutra yang sangat indah, didampingi Raja, Ratu, dan pengawalnya. Ia kemudian naik ke atas Bukit Seger dan berpidato di hadapan semua yang hadir.
Dalam pesannya, Putri Mandalika menyatakan bahwa ia sangat mencintai ketenteraman dan kedamaian rakyat Lombok. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menolak semua lamaran dari ketiga putra mahkota, dan memilih untuk "menerima semuanya" dengan cara menyerahkan jiwa dan raganya untuk seluruh rakyat.
Sontak, seluruh tamu undangan kebingungan. Tiba-tiba, sang putri menghempaskan dirinya ke dalam gulungan ombak laut selatan. Rakyat dan para pangeran dengan sigap menceburkan diri untuk menyelamatkannya, namun Putri Mandalika hilang tak berbekas ditelan gelombang.
Tak lama setelah air surut, keajaiban muncul. Dari dalam laut, keluarlah jutaan cacing laut berwarna-warni—hijau untuk cacing betina dan cokelat untuk cacing jantan. Masyarakat meyakini bahwa cacing tersebut adalah jelmaan dari Putri Mandalika yang ingin memberikan kegembiraan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Cacing laut inilah yang kemudian dinamakan Nyale.
Wujud Legenda Putri Mandalika dalam Tradisi "Bau Nyale"
Pengorbanan dalam legenda Putri Mandalika melahirkan sebuah tradisi turun-temurun bagi Suku Sasak yang disebut Bau Nyale. Dalam bahasa Sasak, "Bau" berarti menangkap, dan "Nyale" adalah cacing laut.
Tradisi Bau Nyale bukan sekadar perayaan biasa, melainkan memiliki serangkaian ritual dan nilai budaya yang mendalam:
Penentuan Waktu (Sangkep Warige): Puncak tradisi ini selalu jatuh pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak (biasanya Februari–Maret). Para tokoh adat akan menggelar musyawarah (Sangkep Warige) di desa wisata seperti Sasak Ende untuk membaca tanda-tanda alam. Kehadiran nyale biasanya ditandai dengan rasi bintang Rowot, suara gemuruh di laut selatan, kilat, hingga munculnya pucuk bambu muda (rembaong).
Prosesi Adat Pralaga: Sehari sebelum turun ke laut, tokoh adat berkumpul di bale saka pat (bangunan bertiang empat) untuk membacakan naskah lontar dan menyanyikan tembang tradisional seperti Pupuh Semarandana, Sinom, Maskumambang, dan Ginada. Dilakukan pula upacara Nede Rahayu Ayuning Jagad dengan sesajen berupa daun sirih, kapur, kembang sembilan rupa, dan dua gunungan jajanan lokal.
Keberuntungan dan Gizi Tinggi: Warga menangkap nyale pada pukul 04.00 hingga 06.00 pagi. Mitosnya, siapa yang berhasil menangkap nyale akan mendapat keberuntungan. Nyale juga memiliki protein tinggi dan sering diolah menjadi pepes berbungkus daun kelapa untuk disantap bersama keluarga.
Simbol Kesuburan dan Ekologi Alam: Tradisi ini menandai berakhirnya musim hujan. Menariknya, air bekas cucian nyale dan sisa daun kelapa pembungkusnya kerap digantungkan di pematang sawah oleh para petani karena dipercaya dapat menyuburkan tanaman padi. Konsep ini sejalan dengan filosofi pelestarian lingkungan (Nyegara Gunung), di mana manusia harus menjaga kebersihan sungai dan laut agar nyale tidak hilang selamanya.
Perpaduan Tradisi Kuno dan Era Modern
Kini, cerita rakyat Putri Mandalika tidak hanya hidup dalam memori masyarakat lokal, tetapi juga menjadi daya tarik pariwisata internasional. Pemerintah daerah secara rutin menggelar Festival Pesona Bau Nyale yang mampu menarik ribuan wisatawan domestik dan mancanegara.
Bahkan, kentalnya budaya ini turut mengiringi kemeriahan ajang balap dunia di Sirkuit Mandalika. Terbukti, saat perhelatan tes pramusim maupun balapan MotoGP di tahun-tahun awal sirkuit beroperasi, jadwalnya berdekatan dengan tradisi Bau Nyale. Tak heran, masyarakat lokal juga sering menggelar ritual doa keselamatan Bejambek lengkap dengan dulang beronjok (sajian makanan tradisional) untuk kelancaran ajang internasional tersebut.
Legenda Putri Mandalika adalah bukti nyata bagaimana sebuah cerita rakyat tentang pengorbanan dan cinta damai mampu mengakar kuat, menyeimbangkan modernisasi pembangunan, dan terus menghidupi denyut nadi kebudayaan Suku Sasak di Nusa Tenggara Barat.


