kisah tajiledin dan putri raja diliba cerita rakyat dari lampung - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Tajiledin dan Putri Raja Diliba, Cerita Rakyat dari Lampung

Kisah Tajiledin dan Putri Raja Diliba, Cerita Rakyat dari Lampung
images info

Kisah Tajiledin dan Putri Raja Diliba, Cerita Rakyat dari Lampung | Magnific AI


Kisah Tajiledin dan Putri Raja Diliba adalah salah satu cerita rakyat dari Lampung. Cerita rakyat ini berkisah tentang seorang pemuda cerdik yang susah dimengerti oleh orang pada umumnya.

Berikut kisah dari Tajiledin dan Putri Raja Diliba tersebut.

Kisah Tajiledin dan Putri Raja Diliba, Cerita Rakyat dari Lampung

Dinukil dari buku Letti S. dan Maman S. Mahayana yang berjudul Cerita Lisan Rakyat Lampung Way Kanan, dikisahkan pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda yang bernama Tajiledin. Dirinya dikenal sebagai seorang pemuda yang cerdik dan pandai bersiasat.

Pada suatu hari, Tajiledin tengah bersantai di tepi pantai. Tiba-tiba, datang sebuah kapal yang menepi di pantai tersebut.

baca juga

Ternyata kapal itu milik Raja Tegor Belala. Ketika sang raja lewat di hadapannya, dia pun bertanya siapa namanya.

Nama Tajiledin ternyata sudah dikenal, tidak hanya di negerinya, tetapi juga di daerah lain. Mengetahui jika pemuda yang ada di hadapannya adalah Tajiledin, Raja Tegor Belala berniat untuk menguji kecerdikan pemuda tersebut.

Sang raja bertanya mengapa Tajiledin bersantai di sana. Dia bertanya di mana ibunya berada.

Dengan santai Tajiledin menjawab, "Ibuku sedang mematikan yang hidup dan menghidupkan yang mati."

Sang raja terlihat kebingungan mendengarkan jawaban tersebut. Dirinya kemudian bertanya di mana ayah Tajiledin.

Lagi-lagi pemuda itu menjawab dengan santainya. Tajiledin berkata, "Ayah sedang mengambil duri magar duri."

Sang raja kembali tidak menangkap maksud perkataan Tajiledin. Dia pun memutuskan untuk kembali ke kapalnya.

Sebelum kembali, Tajiledin bertanya hendak ke mana Raka Tegor Belala. Selain itu, dia bertanya apa yang ada di kapalnya tersebut.

baca juga

Raja Tegor Belala berkata jika dia hendak pergi ke padang tanpa rumput. Sementara itu, di kapalnya ada buku bambu yang tidak bersambung.

Tajiledin mengangguk-angguk mendengarkan jawaban sang raja. Dia bisa tahu maksud dari perkataannya tersebut.

Sementara itu, Raja Tegor Belala masih tidak paham dengan Tajiledin. Dia pun berkata pada dua sahabatnya, Raja Diliba dan Raja Dunggak jika Tajiledin sudah gila.

Hanya saja kedua raja itu tidak percaya begitu saja. Mereka pun pergi ke tempat Tajiledin dan menanyakan perihal hal tersebut.

Sesampainya di sana, Raja Diliba dan Raja Dunggak menanyakan apakah Tajiledin benar-benar gila. Dengan santai Tajiledin menjawab jika Raja Tegor Belala lah yang tidak paham dengan perkataannya.

Tajiledin menjelaskan jika maksud perkataannya adalah ibunya bekerja sedang memotong rumput untuk ditanami jagung. Sementara itu, sang ayah sedang bekerja mengambil durian dan memasang duri di pohonnya.

Di sisi lain, Tajiledin bisa paham maksud perkataan Raja Tegor Belala. Dia paham jika sang raja hendak pergi ke lautan dan di kapalnya ada garam.

Raja Dunggak dan Raja Diliba akhirnya paham jika Tajiledin sebenarnya adalah orang yang cerdas. Raja Diliba pun mengajaknya untuk ikut ke istana.

Tajiledin menerima tawaran itu dengan senang hati. Sebelum tiba di rumah sang raja, Tajiledin berkata jika Raja Diliba mesti berdehem terlebih dahulu.

Raja Diliba tentu heran. Sebab dia akan masuk ke rumahnya sendiri.

Namun dia tetap mengikuti perkataan Tajiledin. Setelah berdehem, dia pun disambut oleh putrinya yang ada di rumah.

Raja Diliba pun menyampaikan perkataan Tajiledin pada putrinya. Sang raja heran mengapa Tajiledin menyuruhnya berdehem sebelum masuk rumahnya sendiri.

baca juga

Putri Raja Diliba justru sadar dengan kecerdikan Tajiledin. Dia berkata jika deheman sang ayah menjadi tanda jika ada orang yang akan masuk ke dalam rumah.

Jika masuk begitu saja, bisa saja dia belum berpakaian lengkap di dalam rumah. Hal ini tentu bisa menimbulkan rasa malu nantinya.

Melihat kecerdikan itu, Putri Raja Diliba jatuh hati pada Tajiledin. Akhirnya sang putri pun dinikahkan dengan Tajiledin dan mereka hidup bahagia bersama.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.