puja mandala kompleks peribadatan lima agama yang jadi wujud nyata toleransi di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Puja Mandala: Kompleks Peribadatan Lima Agama yang Jadi Wujud Nyata Toleransi di Indonesia

Puja Mandala: Kompleks Peribadatan Lima Agama yang Jadi Wujud Nyata Toleransi di Indonesia
images info

Pura Jaganatha di Puja Mandala | WikimediaCommons/CEphoto, Uwe Aranas


Ada yang pernah mendengar soal Puja Mandala? Puja Mandala adalah sebuah kompleks peribadatan di Nusa Dua, Bali, yang menyatukan lima rumah ibadah dari lima agama di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Lima rumah ibadah ini berdiri berdampingan satu sama lain.

Pusat Peribadatan Puja Mandala, demikian nama resmi tempat ini, berlokasi di Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, kawasan ini berdiri di perbukitan Nusa Dua. Nama "Puja Mandala" berasal dari kata puja yang berarti pemujaan dan mandala yang bermakna areal atau wilayah.

Sesuai dengan namanya, tempat ini difungsikan sebagai kawasan terpadu untuk beribadah. Keberadaan tempat peribadatan lima agama ini menjadi bukti toleransi di Indonesia.

Sejarah Pendirian Puja Mandala

Masjid Agung Ibnu Batutah | CEphoto, Uwe Aranas/WikimediaCommons
info gambar

Masjid Agung Ibnu Batutah | CEphoto, Uwe Aranas/WikimediaCommons


Melansir dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, awal mula pendirian Puja Mandala lahir dari kebutuhan masyarakat Muslim pendatang di kawasan Nusa Dua. Saat itu, warga harus menempuh jarak sekitar 20 kilometer menuju Kuta untuk beribadah di masjid terdekat.

Melihat kondisi tersebut, Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi saat itu, Joop Ave, mengusulkan pembangunan kompleks ibadah lima agama. Gagasan ini didukung penuh oleh pemerintah dan tokoh masyarakat setempat.

Pihak PT Bali Tourism Development Corporation (BTDC), yang kini bernama ITDC, menyediakan lahan seluas 2,5 hektare di Desa Kampial. Tiap kelompok agama mengelola lahan 5.000 meter persegi untuk membangun tempat ibadah masing-masing.

Pembangunan dimulai tahun 1994 dan diresmikan pertama kali pada 22 Desember 1997 oleh Menteri Agama Tarmizi Thaher bersama Gubernur Bali Ida Bagus Oka. Pembangunan dilakukan bertahap hingga seluruh kompleks rampung saat Pura Jagatnatha diresmikan pada 2004.

baca juga

Lima Rumah Ibadah dalam Satu Kompleks

Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa | CEphoto, Uwe Aranas/WikimediaCommons
info gambar

Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa | CEphoto, Uwe Aranas/WikimediaCommons


Di sisi paling kiri kompleks berdiri Masjid Agung Ibnu Batutah dengan kubah prisma hijau yang khas. Bangunan empat lantai ini menyimpan benda bersejarah berupa bedug kuno dan Al-Qur'an tulis tangan.

Tepat di sebelahnya, ada Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa. Gereja ini memadukan arsitektur modern dan sentuhan Bali. Gereja ini tampak makin cantik dengan menara lonceng bernuansa kul-kul khas Bali.

Lebih lanjut, tulisan Pratama dan Basuki di Sociale: Journal of Social and Political Sciences, di posisi tengah, berdiri Vihara Buddha Guna yang dihiasi patung gajah putih dan ukiran Bodhisattva bernuansa emas. Vihara tiga lantai ini memiliki ruang ibadah utama bernama Dhammahall.

Vihara Buddha Guna | CEphoto, Uwe Aranas/WikimediaCommons
info gambar

Vihara Buddha Guna | CEphoto, Uwe Aranas/WikimediaCommons


Kemudian, di samping vihara, terdapat Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Jemaat Bukit Doa setinggi enam lantai. Gereja ini melayani peribadatan bertaraf internasional dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Sisi paling kanan diisi oleh Pura Jagatnatha yang dibangun sesuai keindahan arsitektur pura Bali. Pura Kahyangan Jagat ini dilengkapi tangga berornamen naga serta gerbang ukir yang indah.

Toleransi Ruang dan Keharmonisan Nyata

GKPB Jemaaat Bukit Dua | CEphoto, Uwe Aranas/WikimediaCommons
info gambar

GKPB Jemaaat Bukit Dua | CEphoto, Uwe Aranas/WikimediaCommons


Daya tarik utama Puja Mandala terletak pada penerapan konsep toleransi ruang dan kesetaraan arsitektur. Seluruh bangunan dibuat dengan luas lahan dan tinggi yang setara agar tidak ada agama yang mendominasi.

Kelima tempat ibadah ini juga berbagi satu area parkir luas di bagian depan untuk seluruh jemaah. Area bersama ini mendorong interaksi sosial yang hangat antarumat beragama saban hari.

Toleransi di Puja Mandala juga tecermin dalam kegiatan ibadah harian maupun perayaan hari besar. Petugas keamanan lintas agama dan warga sekitar saling membantu mengatur parkir dan kelancaran jalan.

Saat Hari Raya Nyepi bertepatan dengan Salat Jumat, ibadah tetap berjalan khidmat dengan penyesuaian pengeras suara. Koordinasi antarumat ini dijaga melalui Paguyuban Kerukunan Antar Umat Beragama (PKAUB) sejak 2010.

Kawan GNFI, Puja Mandala menjadi contoh nyata yang bisa dipelajari sebagai contoh nyata dari perwujudan toleransi antarumat beragama. Kompleks ibadah ini menggabungkan nilai-nilai seperti toleransi, pluralisme, serta harmoni sosial dan spiritual.

baca juga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.