dibangun sejak zaman kolonial 10 terowongan kereta api tertua di indonesia ada yang tembus gunung sepanjang 949 meter - News | Good News From Indonesia 2026

Dibangun Sejak Zaman Kolonial! 10 Terowongan Kereta Api Tertua di Indonesia, Ada yang Tembus Gunung Sepanjang 949 Meter

Dibangun Sejak Zaman Kolonial! 10 Terowongan Kereta Api Tertua di Indonesia, Ada yang Tembus Gunung Sepanjang 949 Meter
images info

Terowongan kereta/KAI


Lebih dari satu abad lalu, membangun jalur kereta api di Indonesia bukanlah perkara mudah. Para pekerja harus membelah perbukitan, menggali batuan keras, hingga mencari cara agar rel dapat menembus medan yang sulit.

Tanpa teknologi konstruksi secanggih sekarang, pembangunan terowongan menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan ketelitian, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit.

Jejak perjuangan tersebut masih dapat ditelusuri melalui sejumlah terowongan kereta api bersejarah di Indonesia. Sebagian dibangun sejak akhir abad ke-19, ketika jaringan perkeretaapian mulai berkembang untuk mendukung pengangkutan hasil perkebunan, batu bara, dan berbagai komoditas lainnya.

Menariknya, beberapa terowongan itu telah berusia lebih dari 100 tahun dan menjadi saksi perubahan teknologi transportasi di Tanah Air.

  • Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (Persero), Anne Purba, mengatakan terowongan kereta api bukan sekadar bangunan yang berfungsi sebagai jalur perjalanan kereta. Di balik konstruksinya, terdapat cerita tentang kemajuan ilmu teknik, tantangan alam, serta kehidupan masyarakat pada masa pembangunannya.
  • โ€œKalau sekarang kita melihat kereta api melewati terowongan, mungkin yang terpikir hanya jalur yang menembus bukit. Padahal, lebih dari satu abad lalu, membangun terowongan membutuhkan proses yang sangat panjang. Ada perhitungan teknik, penggalian batuan, dan pekerjaan yang harus dilakukan dalam kondisi geografis yang sulit. Sejarah tersebut menarik untuk dipelajari karena memperlihatkan perkembangan pengetahuan dan teknologi pada zamannya,โ€ ujar Anne.
  • Jalur Kereta Slamet Riyadi Solo: Satu-satunya Rel Tengah Kota yang Bikin Pengendara Belajar โ€œMengalahโ€
  • Berdasarkan catatan sejarah pembangunan perkeretaapian, terdapat sejumlah terowongan tua yang menyimpan kisah menarik. Mulai dari Lampegan di Jawa Barat yang dikenal sebagai salah satu terowongan tertua, hingga Lubang Kalam di Sumatera Barat yang berkaitan erat dengan sejarah pertambangan batu bara. Berikut 10 terowongan kereta api bersejarah di Indonesia yang menarik untuk diketahui.
  • 1. Terowongan Lampegan, Jawa Barat (1879โ€“1882)

ย 

Lampegan menjadi nama yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah awal perkeretaapian Indonesia. Terletak di kawasan Cianjur, Jawa Barat, terowongan dengan panjang historis sekitar 686 meter ini dikenal sebagai terowongan kereta api tertua di Indonesia. Pembangunannya merupakan bagian dari pengembangan jalur menuju kawasan Priangan yang memiliki bentang alam berbukit dan aktivitas perkebunan. Kehadiran terowongan ini menunjukkan bagaimana jalur kereta api mulai dirancang untuk menembus hambatan geografis demi memperlancar transportasi dan distribusi hasil bumi.

2. Terowongan Ijo Lama, Jawa Tengah (1885โ€“1886)

baca juga

(Preview akan muncul di halaman artikel)

ย 

Berikutnya ada Terowongan Ijo Lama yang berada di wilayah Kebumen, Jawa Tengah. Dengan panjang sekitar 580 meter, terowongan ini dibangun ketika jaringan kereta api di bagian selatan Pulau Jawa terus dikembangkan. Perbukitan menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan jalur tersebut. Terowongan Ijo menjadi salah satu solusi untuk menghubungkan kawasan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi melalui jalur yang lebih terintegrasi. Usianya yang telah melampaui satu abad menjadikannya bagian penting dari perjalanan sejarah transportasi di Jawa.

3. Terowongan Lembah Anai I, Sumatera Barat (1890โ€“1891)

ย 

Berpindah ke Sumatera Barat, Terowongan Lembah Anai I menjadi salah satu saksi pembangunan jalur kereta api di kawasan dengan kondisi alam yang menantang. Terowongan ini memiliki panjang historis sekitar 100 meter dan berada di kawasan pegunungan Lembah Anai. Pada masa itu, pengembangan transportasi rel dibutuhkan untuk memperkuat hubungan antara daerah pedalaman Minangkabau dan wilayah pesisir. Pembangunan jalur tersebut memperlihatkan upaya mengatasi medan berbukit demi membuka akses transportasi antarkawasan.

4. Terowongan Lembah Anai II, Sumatera Barat (1890โ€“1891)

baca juga

Masih di kawasan Lembah Anai, terdapat terowongan kedua dengan panjang historis sekitar 200 meter. Keberadaannya berkaitan dengan pembangunan jalur kereta api yang harus melewati medan pegunungan dengan tanjakan cukup curam. Wilayah ini dikenal memiliki karakter geografis yang tidak mudah ditaklukkan, sehingga pembangunan rel membutuhkan perencanaan teknik yang sesuai dengan kondisi alam. Penggunaan teknologi rel bergigi pada jalur pegunungan Sumatera Barat juga menjadi salah satu gambaran bagaimana teknologi perkeretaapian disesuaikan dengan kebutuhan medan.

5. Terowongan Kupitan, Sumatera Barat (1892โ€“1894)

Terowongan Kupitan memiliki panjang sekitar 600 meter dan berada di lintas Muara Kalabanโ€“Padang Sibusuk. Pembangunannya menjadi bagian dari perkembangan jaringan kereta api di Sumatera Barat pada akhir abad ke-19. Jalur tersebut memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat sekaligus pengangkutan komoditas dari berbagai wilayah. Keberadaan Terowongan Kupitan memperlihatkan bagaimana pembangunan infrastruktur transportasi pada masa itu diarahkan untuk membuka akses antardaerah yang sebelumnya menghadapi hambatan geografis.

6. Terowongan Lubang Kalam, Sumatera Barat (1892โ€“1894)

baca juga

ย 

Terowongan Lubang Kalam menyimpan kisah yang erat kaitannya dengan sejarah industri pertambangan di Indonesia. Berada di jalur Sawahluntoโ€“Muara Kalaban, terowongan sepanjang sekitar 828 meter menurut dokumen nominasi UNESCO ini menjadi bagian dari jaringan transportasi batu bara Ombilin. Jalur kereta api tersebut dibangun untuk membawa batu bara dari kawasan pedalaman Sumatera Barat menuju Pelabuhan Emmahaven, yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur, untuk diperdagangkan ke berbagai wilayah.

Lebih dari sekadar infrastruktur, Lubang Kalam juga menjadi bagian dari sejarah ekonomi kolonial yang melibatkan eksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja. Karena itu, kisahnya tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknik perkeretaapian, tetapi juga dengan kondisi sosial masyarakat dan para pekerja pada masa tersebut.

7. Terowongan Garahan, Jawa Timur (1901โ€“1902)

ย 

Di ujung timur Pulau Jawa, Terowongan Garahan menjadi bagian dari pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan kawasan Jember dan Banyuwangi. Terowongan dengan panjang sekitar 113 meter ini berada di kawasan pegunungan yang memiliki karakter medan berbukit. Kehadirannya membantu membuka jalur transportasi melintasi wilayah yang tidak mudah dilewati. Pembangunan jalur tersebut turut memperkuat konektivitas di bagian timur Jawa, yang berkembang sebagai kawasan penting bagi kegiatan ekonomi dan mobilitas masyarakat.

baca juga

8. Terowongan Mrawan, Jawa Timur (1901โ€“1902)

ย 

Masih di kawasan penghubung Jember dan Banyuwangi, Terowongan Mrawan memiliki panjang sekitar 690 meter dan berada di kawasan Gunung Gumitir. Salah satu hal menarik dari pembangunannya adalah pengerjaan yang dilakukan dari dua arah untuk menembus perbukitan. Metode tersebut menunjukkan pentingnya perhitungan teknik dalam pembangunan terowongan pada masa itu. Hingga kini, nama Mrawan lekat dengan sejarah jalur kereta api yang melintasi kawasan pegunungan di ujung timur Pulau Jawa.

9. Terowongan Sasaksaat, Jawa Barat (1902โ€“1903)

ย 

Terowongan Sasaksaat menjadi salah satu terowongan kereta api bersejarah yang menarik perhatian karena panjangnya mencapai sekitar 949 meter. Terletak pada lintas Purwakartaโ€“Padalarang, terowongan ini dibangun dengan menghadapi tantangan berupa batuan keras dan kondisi tanah di kawasan perbukitan.

baca juga

Catatan sejarah KAI menyebut penggalian dilakukan dari dua sisi bukit. Ketika pekerja menghadapi batuan cadas, proses penggalian dilakukan secara manual karena penggunaan bahan peledak dan mesin dikhawatirkan mengganggu kestabilan tanah. Penerangan listrik yang memanfaatkan dinamo juga digunakan untuk membantu pekerjaan di dalam terowongan. Kisah ini memperlihatkan betapa besar tantangan yang harus dihadapi para pekerja untuk mewujudkan jalur kereta api yang dapat menembus bukit.

10. Terowongan Batulawang, Jawa Barat (1914)

ย 

Daftar ini ditutup oleh Terowongan Batulawang yang memiliki panjang historis sekitar 281,5 meter. Terowongan ini berada pada bekas jaringan kereta api Banjarโ€“Cijulang, jalur yang dahulu dirancang untuk menghubungkan kawasan selatan Jawa Barat dengan jaringan transportasi yang lebih luas. Meski jalurnya kini tidak lagi beroperasi, peninggalan Batulawang tetap menjadi bagian dari catatan sejarah pembangunan perkeretaapian di Indonesia. Keberadaannya mengingatkan bahwa jaringan rel masa lalu tidak hanya dibangun di pusat-pusat ekonomi besar, tetapi juga menjangkau berbagai kawasan yang memiliki tantangan geografis tersendiri.

Pembangunan terowongan di Indonesia berlangsung pada periode ketika teknologi perkeretaapian dunia juga berkembang pesat. Di Eropa, Terowongan Gotthard di Swiss sepanjang sekitar 15 kilometer mulai beroperasi pada 1882, sedangkan Terowongan Simplon dengan panjang sekitar 19,8 kilometer dibuka pada 1906. Dalam periode yang berdekatan, pembangunan terowongan di Indonesia harus menghadapi karakter medan tropis, perbukitan, kondisi batuan, serta kebutuhan transportasi yang berbeda-beda di setiap wilayah.

baca juga

Salah satu bukti pentingnya jaringan perkeretaapian dalam sejarah industri dunia dapat ditemukan di Sumatera Barat. Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2019. Kawasan ini mencakup sistem pertambangan, jaringan transportasi kereta api, dan fasilitas pelabuhan yang saling terhubung untuk mendukung distribusi batu bara. Di balik perkembangan infrastruktur tersebut, terdapat pula sejarah pekerja, termasuk buruh paksa, yang menjadi bagian penting untuk dipahami ketika membahas masa kolonial.

Anne menjelaskan bahwa peninggalan terowongan kereta api dapat menjadi sumber pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang ilmu. Tidak hanya sejarah transportasi, masyarakat juga dapat mempelajari teknik sipil, geologi, sejarah ekonomi, hingga perkembangan perdagangan internasional. Dokumentasi yang baik diperlukan agar kisah di balik pembangunan infrastruktur tersebut tetap dapat dipahami secara utuh oleh generasi berikutnya.

โ€œDari terowongan di Jawa hingga jalur pertambangan bersejarah di Sumatera, kita dapat melihat bagaimana pembangunan transportasi pada masa lalu berkaitan dengan perkembangan teknologi dan ekonomi dunia. Ada pula cerita sosial yang perlu dipahami secara utuh. Kami berharap warisan perkeretaapian ini terus menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah Indonesia dari berbagai sudut,โ€ jelas Anne.

Pada 2026, perjalanan perkeretaapian Indonesia memasuki usia 159 tahun. Momentum ini menjadi kesempatan untuk kembali mengenal berbagai peninggalan yang tersebar di sejumlah wilayah. Sebagian terowongan masih menjadi bagian dari jaringan kereta api aktif, sedangkan lainnya berada di jalur lama yang sudah tidak beroperasi. Meski memiliki kondisi dan fungsi berbeda, setiap peninggalan menyimpan informasi berharga mengenai perkembangan infrastruktur dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

baca juga

โ€œSejarah perkeretaapian Indonesia menyimpan banyak pengetahuan yang masih relevan untuk dipelajari. Melalui arsip, dokumentasi, museum, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, KAI ingin membantu masyarakat mengenal perjalanan teknologi transportasi dari masa ke masa. Setiap peninggalan mempunyai cerita, dan cerita itu patut diteruskan kepada generasi berikutnya,โ€ tutup Anne.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.