Film Hamka Awal Mula Vol. 3 dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 19 November 2026. Falcon Pictures telah merilis poster dan trailer film yang melanjutkan kisah kehidupan Buya Hamka, setelah Hamka dan Hamka & Siti Raham Vol. 2.
Disutradarai Fajar Bustomi, film ini dibintangi Vino G. Bastian yang kembali memerankan Buya Hamka. Sejumlah aktor lain yang turut bermain di antaranya Reybong, Laudya Cynthia Bella, Donny Damara, Reza Rahadian, Ayu Laksmi, Desy Ratnasari, dan Mathias Muchus.
Film ini mengangkat perjalanan Hamka pada masa muda, mulai dari kehidupannya di Maninjau, perselisihan dengan sang ayah, hingga pengalamannya merantau ke Makkah. Kisah tersebut memperlihatkan proses Hamka dalam mencari ilmu dan menemukan arah perjuangannya.
Sebelum dikenal sebagai ulama, sastrawan, dan tokoh Muhammadiyah, Hamka melewati perjalanan hidup yang tidak selalu mudah. Hubungannya dengan sang ayah, Haji Rasul, bahkan sempat diwarnai perbedaan pandangan. Lantas, seperti apa sosok Buya Hamka dan ayahnya, serta bagaimana perjalanan masa muda tokoh besar ini?
Mengenal Buya Hamka dan Haji Rasul
Buya Hamka memiliki nama lengkap Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di Maninjau, Sumatra Barat, pada 16 Februari 1908. Namanya kemudian dikenal luas sebagai ulama, penulis produktif, dan mubalig yang pemikirannya berpengaruh di Indonesia hingga kawasan Melayu.
Gelar Haji ditambahkan setelah ia menunaikan ibadah haji pada 1927. Sejak saat itu, namanya dikenal sebagai Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau disingkat Hamka.
Hamka tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan gerakan pembaruan Islam. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, merupakan tokoh penting Kaum Muda di Minangkabau. Ia dikenal memperjuangkan pemurnian ajaran Islam dan menentang praktik takhayul, bidah, serta khurafat.
Haji Rasul juga berperan dalam pengembangan pendidikan Islam melalui Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Ia menginginkan Hamka tumbuh dengan bekal ilmu agama yang kuat agar dapat meneruskan perjuangannya.
Namun, Hamka memiliki ketertarikan yang berbeda. Selain mempelajari agama, ia gemar membaca karya sastra Melayu, Arab, dan Barat. Minat tersebut membuatnya memiliki cara pandang yang lebih terbuka terhadap sastra, budaya, dan filsafat.
Perbedaan pendekatan dalam belajar inilah yang menjadi salah satu sumber ketegangan antara ayah dan anak. Haji Rasul mengutamakan pendidikan agama melalui metode yang diterapkan di sekolah dan surau, sedangkan Hamka merasa kesulitan mengikuti pelajaran bahasa Arab dengan metode nahwu yang diajarkan saat itu.
Meski demikian, kesulitan tersebut tidak membuat Hamka berhenti belajar. Ia kemudian menemukan cara yang lebih sesuai untuk mempelajari bahasa Arab hingga mampu membaca berbagai literatur, termasuk karya-karya Barat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Perjalanan Masa Muda Buya Hamka dan Perselisihannya dengan Sang Ayah
Sejak remaja, Hamka dikenal gemar merantau. Bahkan, Haji Rasul menjulukinya Si Bujang Jauh karena kebiasaannya bepergian meninggalkan kampung halaman.
Pada 1924, ketika berusia sekitar 16 tahun, Hamka pergi ke Yogyakarta tanpa berpamitan kepada ayahnya. Keputusan itu membuat Haji Rasul marah karena menganggap putranya belum memiliki bekal ilmu agama yang cukup dan khawatir perjalanan tersebut akan membawanya ke arah yang keliru.
Dalam buku Hamka, Kenang-Kenangan Hidup, Hamka mengenang kepergiannya sebagai upaya mencari jalan hidup sendiri. Ia memahami kemarahan ayahnya bukan semata-mata karena kebencian, melainkan juga karena kekhawatiran terhadap masa depannya.
Di Yogyakarta, Hamka mempelajari gerakan Islam modern dan bertemu dengan sejumlah tokoh, seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, dan tokoh pergerakan lainnya. Pengalaman tersebut memperluas pandangannya tentang agama dan perjuangan sosial.
Setelah itu, Hamka pergi ke Pekalongan dan bertemu kakak iparnya, A.R. Sutan Mansur, yang saat itu aktif dalam Muhammadiyah. Ia kemudian semakin dekat dengan organisasi tersebut dan mulai terlibat dalam kegiatan dakwah.
Pada 1927, Hamka berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Selama sekitar enam bulan di sana, ia juga bekerja di sebuah percetakan. Setelah kembali ke Indonesia, ia sempat menuju Medan dan bekerja sebagai guru agama di perkebunan sebelum akhirnya pulang ke kampung halaman.
Perjalanan itu menjadi bagian penting dalam pembentukan pemikiran dan perjuangan Hamka. Meski sempat berbeda jalan dengan ayahnya, pengalaman merantau justru membawanya semakin dekat dengan dunia dakwah dan gerakan Islam.
Kisah masa muda Hamka memperlihatkan bahwa perjalanan seorang tokoh besar tidak selalu dimulai dengan jalan yang mulus. Perbedaan pandangan, pencarian ilmu, dan pengalaman di perantauan menjadi bagian dari proses yang membentuk sosok Buya Hamka hingga dikenal luas seperti sekarang.


