Di Jalan Diponegoro, Kota Madiun, berdiri kompleks bangunan yang usianya sudah melampaui satu abad. Tembok-temboknya bergaya Hindia Belanda yang tebal, jendela-jendelanya tinggi, dan lorong-lorong di dalamnya menyimpan perjalanan panjang dari satu fungsi ke fungsi yang lain.
Kawasan ini dikenal sebagai Bosbow, sebuah sebutan yang populer di kalangan warga Madiun dan berasal dari nama resmi bangunannya dalam bahasa Belanda, Boschbouw, yang berarti gedung kehutanan.
Namun sebelum menjadi sekolah kehutanan pun, kawasan ini sudah punya sejarahnya sendiri. Dalam lebih dari satu abad keberadaannya, Bosbow sudah melewati setidaknya tiga fase fungsi yang sangat berbeda satu sama lain, mulai dari sekolah pamong praja kolonial, beralih ke sekolah kehutanan, kemudian menjadi markas dan asrama militer.
Hari ini, kawasan ini sedang dalam proses kajian oleh Pemerintah Kota Madiun untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata heritage, meski koordinasi dengan pihak TNI sebagai pemegang kewenangan masih terus berlangsung dan belum ada kepastian jadwal realisasinya.
Bagi Kawan GNFI yang sedang di Madiun dan ingin melihat langsung bangunan ini, kawasannya bisa diamati dari luar sambil menelusuri jalur wisata kolonial Kota Madiun yang juga mencakup Gedung Bakorwil, Balai Kota, dan berbagai bangunan peninggalan lain di sekitarnya.
Β
Sekilas Mengenai Bosbow
Sejarah kawasan ini bermula pada 1912, ketika pemerintah Hindia Belanda mendirikan Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di lokasi tersebut,Β sekolah yang dirancang khusus untuk mendidik calon pamong praja bumiputera dari kalangan ningrat.
Pada 1927, nama lembaganya berubah menjadi Middelbare Opleiding School voor Indische Ambtenaren (MOSVIA). Tekanan keuangan pemerintah kolonial memaksa sekolah ini ditutup sekitar 1930 dan dipindahkan ke Magelang.
Gedung yang ditinggalkan itu kemudian mendapat fungsi baru. Pada 26 Agustus 1939, J.H. Becking selaku pimpinan Jawatan Kehutanan meresmikan Middlebare Boschbouw School (MBS) atau Sekolah Kehutanan Menengah Atas di kawasan ini.
Madiun dipilih karena posisinya yang berada di tengah kawasan hutan jati Jawa Timur dan sebagai pusat pengolahan kayu. Hanya siswa berpendidikan MULO yang bisa mendaftar ke sekolah ini. Dari nama MBS itulah sebutan Bosbow lahir dan bertahan hingga sekarang.
Sekolah ini hanya sempat beroperasi sekitar tiga tahun sebelum pendudukan Jepang pada 1942 menutupnya. Sejak 1950-an, kompleks Bosbow beralih ke tangan militer. Batalyon 508 menjadikannya makayon atau markas batalyon, dan setelah satuan itu dilikuidasi sekitar 1970-an, kawasan ini berada di bawah tanggung jawab Korem 081/Dhirotsaha Jaya. Sebagian bangunannya masih difungsikan hingga kini sebagai asrama bagi prajurit aktif, purnawirawan, dan PNS terkait.
Β
Daya Tarik Bosbow
Yang paling menarik dari Bosbow adalah kualitas arsitekturnya yang masih cukup terjaga untuk bangunan berusia lebih dari satu abad.
Ciri-ciri arsitektur kolonial Hindia Belanda terlihat pada tampilan bangunannya, dari bentuk atap, proporsi jendela, hingga susunan ruang yang mengikuti pola umum bangunan pemerintahan Belanda di Jawa.
Kondisi fisiknya relatif terawat, sehingga membuat kawasan ini kerap disebut dalam pembicaraan tentang potensi wisata heritage Kota Madiun.
Lorong-lorong di dalam kawasan dinilai memiliki nilai historis yang kuat, dan sudah beberapa kali dijadikan lokasi kegiatan budaya, termasuk festival Madioen Tempo Doeloe yang pernah digelar di kawasan ini dalam rangka peringatan hari jadi Kota Madiun.
Β
Akses Menuju Bosbow
Bosbow berlokasi di Jalan Diponegoro, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Lokasinya cukup sentral dan bisa dicapai dari berbagai titik di kota.
Dari Stasiun Madiun, perjalanan menuju kawasan ini bisa ditempuh dalam sekitar 10 hingga 15 menit menggunakan kendaraan pribadi atau ojek. Madiun sendiri bisa diakses dari Surabaya maupun Yogyakarta menggunakan kereta api dengan waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam.
Karena status kawasan Bosbow masih sebagian berada di bawah kewenangan TNI dan pengembangan sebagai destinasi wisata belum sepenuhnya terealisasi, kunjungan ke dalam kawasan belum sepenuhnya terbuka untuk umum.
Sebagai alternatif, kawasan heritage di sekitar Bosbow bisa dijadikan rute perjalanan tersendiri, menyusuri Jalan Diponegoro dan sekitarnya yang juga dihiasi beberapa bangunan kolonial lain, kemudian berlanjut ke Gedung Bakorwil yang merupakan bekas Residentiehuis, Balai Kota Madiun, dan bangunan-bangunan bersejarah lain yang tersebar di kota ini.
Β
Ayo Berkunjung ke Kawasan Heritage Madiun!
Bosbow adalah salah satu alasan mengapa Madiun layak masuk dalam daftar kota-kota dengan warisan kolonial yang menarik di Jawa.
Sementara proses pengembangannya masih berlangsung, Kawan GNFI yang sedang di Madiun tetap bisa menyusuri kawasan sekitarnya dan melihat langsung arsitektur kolonial yang masih bertahan di kota ini. Selamat menjelajah!


