Awal Oktober 2026, saya dikejutkan oleh isi Whatsapp dari Cut Monika (tim Kawan GNFI) bahwa saya terpilih salah satu peserta untuk mengikuti kegiatan Komunitas Kawan GNFI Sumut dengan tema “Mari Berkawan, Mengenal Medan, dan Membawa Pulang Cerita”.
Ini pengalaman pertama bersama Kawan GNFI yang saya ikuti, karena yang sebelumnya, selalu berbenturan dengan pekerjaan.
Pukul 09.00 WIB, saya sudah sampai di lokasi sesuai acara. Rupanya, Cut Monika sudah menunggu dan dengan ramah menyapa peserta. Setelah berkenalan dan bercanda ria sembari menunggu waktunya untuk memasuki bus pariwisata, tibalah pukul 10.00 Wib yang dinanti.
Dari pihak Dinas Perubungan menhimbau kami agar bersiap memasuki bus dan berkeliling ke berbagai wisata bangunan bersejarah di Kota Medan.
Berkawan GNFI Kota Medan Bersiap untuk Jelajahi Wisata Kota Medan
Sejarah Kota Medan
Medan, tadinya dikenal dengan nama Tanah Deli, dipenuhi oleh rawa-rawa seluas 4000 Ha. Wilayah ini dilintasi oleh beberapa sungai, seperti Sungai Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, bahkan Sei Belawan yang ke semuanya bermuara di Selat Malaka.
Seiring perkembangan zaman dan datangnya para saudagar-saudagar dari Cina, India, hingga dari belahan dunia lainnya, lama-kelamaan Medan menjadi kota besar nomor tiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya.
Banyak cerita sejarah tentang asal-usul Kota Medan. Pertama, Medan berasal dari Madani yang artinya tanah terbuka, lapangan, atau alun-alun. Kata ini merujuk dari sejarah pertempuran yang terjadi antara Kerajaan Aru Delitua dengan Kerajaan Aceh di tahun 1522.
Pertempuran ini terjadi dipicu karena Penolakan Sultan Aceh untuk menikahi Putri Deli (Putri Hijau). Pertempuran itu terjadi di antara Labuhan Deli dan Delitua, di tepi sungai Deli yang dulunya masih bisa dilayari.
Gotong Royong Memasang Spanduk Berkawan GNFI Sebelum Berangkat Jelajahi Kota Medan
Namun, dalam cerita lainnya, Medan didirikan oleh Guru Patimpus sekitar tahun 1643 di daerah pertemuan antara Sungai Deli dan Sungai Babura.
Cerita ini termuat dalam naskah lama Riwayat Hamparan Perak, di mana dalam naskah itu diceritakan, Guru Patimpus, seorang Putra Tuan Si Raja Hita, masih keturunan Raja Sisingamangaraja. Ia membuka sebuah perkampungan kecil yang berkembang dengan pesat bernama Kota Medan.
Ternyata tanahnya yang subur dan lokasinya di dataran rendah mengakibatkan terjadinya urbanisasi dari daerah pedalaman Sumatera Utara menuju kota-kota di sepanjang pantai timur, tempat Kota Medan Berada.
Apalagi di tahun 1864, Niewenhyus membuka perkebunan tembakau di sekitar Kota Medan, cikal bakal pertumbuhan ekonomi yang semakin meroket dan menjadikan Kota Medan menjadi kota besar dengan pusat ekonomi berkat dari Tembakau Deli yang kesohor itu.
Jelajahi Warisan Bersejarah Kota Medan
Waktu yang ditunggu tuk jelajahi warisan-warisan bersejarah Kota Medan siap tuk dimulai. Bus Wisata Kota Medan atau Medan City Tour Bus yang dikelola oleh Dinas Berhubungan yang sejak tadi pagi telah terparkir seakan-akan mengajak kami untuk dinaiki.
Mendengarkan dan Mencatat apa yang disampaikan oleh Tour Guide
Cut Monika memberikan instruksi apa saja yang bisa dilakukan saat berada di Bus, setelah kami semua masuk dan memilih tempat duduk yang nyaman untuk mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata.
Saya memilih duduk di dekat tour guide, mendengarkan dengan baik penjelasannya dan mengambil foto dokumentasi yang nantinya akan dituangkan ked alam tulisan ini.
Pemandu memulai penjelasannya ketika bus melewati destinasi wisata pertama, Gedung BI (dulunya bernama De Javasche Bank alias Bank Pusat Belanda). Bangunan ini dinasionalisasi oleh Presiden Pertama, Ir. Soekarno menjadi Bank Indonesia yang terletak di Jalan Balai Kota No. 4, Kelurahan Kesawang, Kecamatan Medan Barat.
Gedung tersebut dibangun tahun 1906 dan ditangani oleh Hulswit, Fermost, dan Cuypers sebagai arsiteknya. Demikianlah penjelasan Tour Guide mengenai bangunan bersejarah yang fungsinya melayani masyarakat Kota Medan yang ingin menyimpan uangnya di bank.
Kami Berkawan GNFI dengan seriusnya menyimak apa yang disampaikan oleh Tour Guide terkait bangunan bersejarah di Kota Medan
Setelah itu, kami beralih ke depan Bank BI, yakni Gedung Kantor Pos. Bangunan dengan cagar budaya kolonial ini mulai dibangun dari tahun 1909 dan digunakan tahun 1911.
Tempat ini dulunya menjadi pusat pengiriman dan penerimaan surat, paket dagang, serta layanan keuangan, seperti wesel pos untuk jalur Deli menuju Eropa dan Belanda. Namun, kini sudah mengalami beberapa kali revitalisasi dan tidak menghilangkan bentuk aslinya.
Jendela-jendela yang besar dan tinggi terletak pada sisi-sisi bangunan berbentuk setengah lingkaran dengan tiang putih penyangganya. Membuat bangunan ini terlihat seperti bentuk burung merpati pos yang dulunya dimanfaatkan sebagai sarana berkirim surat.
Tidak lupa Dokumentasi di Bus Wisata Dinas Perhubungan Kota Medan
Bangunan berikutnya tentunya bangunan bersejarah milik tokoh yang hidup sekitar tahun 1860—1921. Seorang saudagar dari Cina bernama Tjong A Fie yang memiliki banyak tanah perkebunan di Medan.
Rumah berlantai dua dengan kamar sekitar 40 ruang ini penuh dengan dekorasi yang menceritakan kisah dan nilai tradisional asal leluhurnya, mulai dari gerbangnya yang penuh dengan hiasan naga, kisah-kisah, dan patung singa, sampai pada atapnya dengan hiasan burung phoenix.
Tjong A Fie mansion memiliki kesamaan dalam langgam dengan rumah sepupunya Cheong Fat Tze yang berada di Pulau Pinang, Malaysia. Hingga kini, rumah peninggalan yang luas tapaknya mencapai 2200 m² dan luas bangunan 5180 m² ini tidak pernah sepi pengunjung. Menjadi simbol akulturasi budaya di Kota Medan, yaitu Melayu, Tionghoa, dan Gaya Eropa atau Art Deco.
Semoga semakin Kompak Berkawan GNFI dan Semoga Semakin Tau Indonesia
Tak jauh dari situ, kami disuguhkan dengan pemandangan Istana Maimun dan Mesjid Raya. Ya, itu adalah dua ikon Kota Medan peninggalan Sultan Deli yang berdiri kokoh dan megah hingga kini.
Istana Maimun merupakan jiwa dan denyut sejarah kokohnya Kesultanan Deli yang berkuasa sejak tahun 1632. Adapun Istana Maimun sendiri dibangun tahun 1888—1891 atas perintah Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah, sultan ke-9 Kesultanan Deli. Beliau merangkul arsitektur asal Belanda bernama Kapten Theodor van Erp dan memadukan beberapa unsur budaya, Melayu, Islam, serta Eropa.
Tak jauh dari Istana Maimun, hanya berjarak sekitar 500 meter, berdiri kokoh sebuah mesjid yang sudah menjadi ikon Medan lainnya, dibangun sepaket dengan Istana Maimun, Mesjid Al Mashun, Mesjid Raya Deli.
Bangunan ini sekarang lebih dikenal dengan Mesjid Raya Medan, yang mana hanya menjadi pusat ibadah umat muslim di sana. Namun, juga telah menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi turis lokal maupun mancanegara.
Masih banyak lagi destinasi wisata yang kami lewati. Namun, belum dituangkan dalam tulisan ini. Tak terasa waktu menunjuukan pukul 11.00 WIB, Kami pun tiba di titik lokasi keberangkatan, di CC Room ITS Kota Medan. Di sini, kita bisa melihat aktivitas masyarakat Kota Medan yang sedang berolahraga di Lapangan Merdeka yang masih dalam proses revitalisasi.
Waktu yang mempertemukan, waktu jua yang memisahkan kami para anggota Berkawan GNFI. Tak lupa setelah sesi foto, ada pemberian plakat dan ucapan terima kasih kepada Dinas Perhubungan yang telah menyediakan bus wisata dan pemandu yang memandu perjalanan kami.
Semoga dengan adanya artikel ini, teman-teman GNFI semakin tahu lokasi-lokasi bersejarah di Kota Medan.
Sampai jumpa di acara-acara Berkawan GNFI selanjutnya….Salam… #MAKINTAUINDONESIA


