Rasa lelah atau pusing mungkin kerap dianggap sebagai keluhan biasa bagi sebagian remaja. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda anemia yang masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia.
Melansir dari laman resmi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (Ditjen Keslan), yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah normal. Padahal, hemoglobin berperan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.
Saat tubuh kekurangan oksigen, seseorang dapat merasa mudah lelah, lemas, pusing, sakit kepala, hingga mata berkunang-kunang. Salah satu penyebabnya ialah kekurangan zat besi yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa anemia masih banyak ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja. Dengan persentase sebesar 15,3 pada kelompok usia 5β14 tahun dan 15,5 persen pada kelompok usia 15β24 tahun.
Di antara kelompok usia tersebut, remaja putri ternyata memiliki risiko anemia yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh menstruasi setiap bulan serta kecenderungan membatasi asupan gizi karena adanya keinginan memiliki tubuh langsing.
Selain itu, kebiasaan makan yang kurang tepat juga dapat membuat kebutuhan gizi remaja tidak terpenuhi. Seperti terlalu menyukai makanan cepat saji atau memiliki persepsi yang kurang tepat tentang kebutuhan gizi tubuh.
Tablet Tambah Darah Belum Optimal
Tingginya risiko anemia pada remaja putri perlu diimbangi dengan upaya pencegahan yang tepat. Salah satunya melalui konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) yang dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi pada tubuh.
Namun, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan. Berdasarkan SKI 2023, sebanyak 51,4 persen tidak mengonsumsinya karena tidak mengetahui manfaatnya.
Dan rasa tidak nyaman seperti mual, rasa pahit di lidah, serta bau amis yang menyengat juga membuat remaja enggan mengonsumsinya secara rutin.
Selain itu, terdapat anggapan bahwa TTD merupakan obat yang hanya perlu dikonsumsi ketika sakit juga membuat remaja abai dalam mengonsumsinya. Padahal, TTD berperan sebagai suplemen untuk membantu mencegah anemia dan menjaga kecukupan zat besi dalam tubuh.
Pencegahan anemia pada remaja perlu didukung dengan pemahaman yang baik mengenai manfaat dari TTD.
Camilan Alternatif sebagai Upaya Pencegahan
Selain mengonsumsi Tablet Tambah Darah, Kemenkes juga menganjurkan pola makan bergizi yang seimbang dengan mengonsumsi makanan sumber zat besi seperti daging, hati, dan sayuran hijau.
Kebutuhan terhadap sumber zat besi dari makanan menjadi latar belakang tim Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang berkolaborasi multidisiplin antara mahasiswa Program Studi Keperawatan dengan Ilmu Gizi untuk mencari alternatif pangan yang memadukan perspektif kesehatan, keperawatan, dan ilmu gizi dalam merancang sebuah produk.
Untuk menjawab persoalan kesehatan sekaligus mempertimbangkan kebutuhan gizi kelompok sasaran, mereka kemudian mengembangkan FeBites, yaitu crispy cookies berbasis hati ayam yang bisa menjadi alternatif camilan sumber zat besi untuk mendukung upaya pencegahan anemia khusunya pada remaja.
Hati ayam dan tepung bayam diolah menjadi crispy cookies melalui tahap formulasi, pembuatan, dan pengujian produk. Selain pada pemilihan bahan, inovasi ini juga dikembangkan menjadi produk pangan yang praktis dan mudah dikonsumsi.
Sehingga, bentuk cookies dipilih karena praktis dan dekat dengan kebiasaan remaja yang gemar mengonsumsi camilan.
βAwalnya kami melihat permasalahan anemia pada remaja. Dari situ kami mencoba mencari alternatif yang bisa lebih dekat dengan kebiasaan remaja, salah satunya melalui camilan,β jelas Muhammad Reza Kurniawan, selaku Ketua Tim.
FeBites kemudian dibawa ke 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia dalam kategori Applied Life Science. Setelah melalui rangkaian penilaian, inovasi tersebut berhasil meraih Silver Medal yang diterima pada Awarding Ceremony WICE 2026.
Bagi tim Mahasiswa UMS, penghargaan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan inovasi yang berangkat dari persoalan kesehatan masyarakat. Ke depan, FeBites direncanakan untuk dikembangkan agar dapat diproduksi dalam skala yang lebih besar dan memiliki potensi pemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.


