Kawan ada yang tahu buah ciplukan? Buah imut yang terbungkus dengan daun berbentuk seperti lampion ini hidup subur secara liar dan mudah ditemukan di ladang atau perswahan. Meskipun keberadannya liar, ciplukan ternyata punya banyak sekali khasiat yang baik untuk kesehatan tubuh.
Manfaat ciplukan ini sudah dimanfaatkan oleh warga Desa Mohili, Nias Selatan, Sumatera Utara yang mengenalnya dengan sebutan “Faya-faya Luo” dalam bahasa Nias. Mereka memanfaatkannya sebagai tanaman obat tradisonal untuk membantu mengatasi beberapa penyakit seperti tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Salah satu warga Desa Mohili, Taty Dasny yang berusia 40 tahun, merupakan salah satu penderita hipertensi yang mengonsumsi ciplukan dua kali sehari. Sebelum mengonsumsinya, ia merasakan sejumlah keluhan seperti sakit kepala berlebihan, wajah memerah, pusing, detak jantung tidak beraturan, kelelahan, sulit bernapas, hingga nyeri dada.
Setelah mengonsumsi ciplukan, beberapa menit kemudian keluhan yang dirasakannya perlahan mulai berkurang dan membaik.
Kisah Taty tersebut merupakan salah satu temuan dalam penelitian Irma Susanti Laia yang dimuat dalam FAGURU: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Keguruan.
Cara Warga Mohili Mengolah Ciplukan
Ciplukan yang dimanfaatkan oleh warga Desa Mohili tidak langsung dikonsumsi begitu saja. Salah satu cara yang dilakukan adalah merebusnya dengan sekitar satu gelas besar air atau kurang lebih 200 mililiter.
Setelah air dan ciplukan direbus hingga mendidih, air rebusan tersebut kemudian didinginkan dan disaring. Airnya lalu diminum sebanyak dua kali sehari, seperti yang dilakukan Taty dalam mengonsumsi ciplukan.
Cara lainnya dilakukan oleh Amifina Laia, warga Desa Mohili berusia 60 tahun. Ia menyeduh ciplukan menggunakan air mendidih, kemudian membiarkannya selama beberapa menit hingga tanaman tersebut mulai layu dan warna airnya berubah.
Jadi, ciplukan yang tumbuh liar di sekitar lingkungan mereka tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk yang sama. Ada yang mengolahnya menjadi air rebusan dan ada pula yang cukup menyeduhnya dengan air mendidih sebelum diminum.
Ciplukan Sudah Diuji pada Penderita Hipertensi
Ciplukan yang selama ini dimanfaatkan oleh warga Mohili sebagai obat tradisional ternyata juga pernah diuji pada penderita hipertensi dalam penelitian yang dilakukan oleh Rizqi Annisa Permatasari, Lilik Retna Kartikasari dan Anik Lestari dalam AgriHealth: Journal of Agri-food, Nutrition and Public Health (2025).
Rizqi dan tim menguji 47 penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Gambirsari, Surakarta dengan memberikan jus ciplukan sebanyak 250 mililiter setiap hari selama 30 hari. Komposisi dari jus tersebut terdiri dari buah ciplukan matang sebanyak 50 gram yang dicampur dengan 2 gram gula rendah kalori dan air 250 mililiter.
Jus tersebut kemudian diuji untuk mengetahui kandungan quercetin di dalamnya dengan menggunakan High-Performance Liquid Chromatography (HPLC), yaitu metode yang digunakan untuk mengukur kandungan senyawa dalam suatu sampel. Hasilnya menunjukkan kadar quercetin sebesar 561,047 ppm.
Hal itu setara dengan 561,047 miligram per liter jus. Jadi dari jumlah tersebut, satu porsi jus sebanyak 250 mililiter mengandung sekitar 140,26 miligram quercetin.
Setelah 30 hari, kelompok yang mendapat jus ciplukan mengalami penurunan tekanan darah sistolik rata-rata sebesar 20,5 mmHg dan diastolik sebesar 10,8 mmHg.
Apa itu sistolik dan diastolik? Gampangannya, sistolik adalah tekanan darah saat jantung sedang berkontraksi untuk memompa darah, sedangkan diastolik adalah tekanan darah saat jantung sedang rileks di antara denyut.
Sementara itu, kelompok kontrol yang tidak mendapat jus ciplukan mengalami penurunan sistolik sebesar 15,8 mmHg dan diastolik sebesar 4,2 mmHg.
Artinya, kedua kelompok sama-sama mengalami penurunan tekanan darah, tetapi penurunannya lebih besar pada kelompok yang mendapat jus ciplukan.


