Ada yang tampak seperti limbah, tetapi sebenarnya belum selesai menjadi sumber daya. Di balik tumpukan sisa pengolahan tambang emas, tersimpan mineral yang selama ini justru semakin dibutuhkan industri teknologi.
Salah satunya adalah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements. Pertanyaannya, mungkinkah limbah tambang yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan justru menjadi bahan penting bagi teknologi masa depan?
Dari Sisa Tambang Menjadi Sumber Mineral
Dalam aktivitas pertambangan, tidak semua material yang digali berakhir sebagai produk utama. Setelah mineral berharga dipisahkan, masih tersisa material yang disebut tailing. Tailing inilah yang biasanya dipandang sebagai limbah. Namun, penelitian di Indonesia menunjukkan ceritanya tidak sesederhana itu.
Penelitian Universitas Tadulako mengenai tailing tambang emas Poboya, Sulawesi Tengah, menemukan adanya kandungan logam tanah jarang. Penelitian yang diterbitkan dalam KOVALEN: Jurnal Riset Kimia tersebut menemukan kadar LTJ sekitar 6β7 persen pada sampel yang diteliti.
Lebih menarik lagi, penelitian tersebut mengidentifikasi beberapa unsur, antara lain terbium, lantanum, europium, serium, neodimium, dan gadolinium. Artinya, material yang sebelumnya berada di belakang proses produksi emas ternyata masih menyimpan sesuatu yang bernilai bagi industri. Limbahnya belum tentu benar-benar limbah.
Ada Logam yang Dibutuhkan Teknologi Modern
Istilah logam tanah jarang mungkin terdengar seperti sesuatu yang hanya dikenal di laboratorium. Padahal, kelompok yang terdiri dari 17 unsur ini memiliki peran dalam berbagai teknologi modern.
Kompas.com menjelaskan bahwa logam tanah jarang merupakan kelompok unsur yang digunakan dalam berbagai produk berteknologi tinggi. Potensinya juga ditemukan di lumpur Sidoarjo, selain sejumlah wilayah lain di Indonesia. Penggunaannya pun beragam.
Beberapa unsur LTJ dibutuhkan untuk magnet permanen, komponen elektronik, layar, hingga teknologi kendaraan listrik. Magnet berbasis neodimium, misalnya, dapat digunakan untuk menghasilkan motor listrik yang kuat dengan ukuran relatif ringkas.
Karena itu, nilai sebuah mineral tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak kita bisa menemukannya. Kadang, yang lebih penting adalah seberapa penting kegunaannya bagi teknologi yang sedang berkembang.
Menarik LTJ dari Tailing Bukan Perkara Sederhana
Lalu, apakah tinggal mengambil tailing tambang, memisahkan logamnya, kemudian memasukkannya ke baterai?Tidak sesederhana itu.
Penelitian Universitas Tadulako di Poboya menggunakan proses kimia untuk memisahkan logam tanah jarang dari tailing. Penelitian lain pada 2024 juga secara khusus menguji pemisahan lantanum dari tailing tambang emas Poboya menggunakan metode pengendapan natrium fluorida. Di sinilah tantangan sebenarnya.
Menemukan kandungan LTJ hanyalah langkah awal. Indonesia masih membutuhkan teknologi pemisahan dan pemurnian yang efisien, data sumber daya yang lebih lengkap, serta proses industri yang ekonomis dan aman.
ANTARA pada 2026 juga menyoroti bahwa data dan informasi mengenai REE di Indonesia masih terbatas. Karena itu, penelitian tidak berhenti pada pertanyaan βdi mana logam tanah jarang berada?β, tetapi juga βbagaimana mengambilnya dan mengolahnya menjadi produk bernilai?β
Bukan Berarti Besok Tailing Jadi Baterai
Ada satu hal yang perlu diluruskan. Menemukan LTJ dalam tailing tidak otomatis berarti tailing tersebut sudah dapat digunakan langsung sebagai bahan baterai kendaraan listrik.
Lantanum memang memiliki penggunaan pada baterai nikel-metal hidrida untuk kendaraan hibrida, dan LTJ secara umum memiliki berbagai aplikasi teknologi. Namun, rantai produksinya tetap membutuhkan tahapan ekstraksi, pemurnian, pengolahan material, hingga pembuatan komponen.
Dengan kata lain, penelitian tailing Poboya lebih tepat dilihat sebagai potensi sumber bahan baku teknologi, bukan baterai jadi. Justru di situlah peluang besarnya.
Ketika Limbah Mulai Dipandang dengan Cara Berbeda
Bayangkan jika suatu hari sisa aktivitas pertambangan tidak hanya dipandang sebagai material yang harus disimpan atau dikelola, tetapi juga sebagai urban mineβsumber material yang masih bisa dipulihkan dan diberi nilai baru. Konsep semacam ini sejalan dengan gagasan ekonomi sirkular: mengambil kembali material yang masih bernilai daripada selalu mencari sumber baru.
Indonesia pun sudah memiliki berbagai penelitian terkait pemanfaatan sumber sekunder maupun mineral pembawa LTJ. ANTARA mencatat setidaknya 28 lokasi di Indonesia pernah diidentifikasi memiliki potensi LTJ yang perlu ditindaklanjuti melalui eksplorasi dan penelitian. Namun, jalan menuju industri LTJ nasional masih panjang.
Dibutuhkan riset, teknologi pemurnian, investasi, tenaga ahli, standar lingkungan, serta industri hilir yang mampu mengubah mineral menjadi produk bernilai tinggi. Jadi, harta karun sebenarnya bukan sekadar logam yang tersembunyi di dalam lumpur.
Harta karunnya adalah kemampuan untuk menemukan, mengambil, memurnikan, dan mengubah sesuatu yang selama ini dianggap sisa menjadi bagian dari teknologi masa depan. Barangkali, pertanyaan tentang tambang Indonesia ke depan bukan lagi sekadar: βBerapa banyak yang bisa kita tambang?β Melainkan: βBerapa banyak yang masih bisa kita manfaatkan dari apa yang sudah kita tambang?β Mungkin jawabannya justru sedang menunggu di tumpukan limbah yang selama ini kita anggap tidak berguna.

