adat mapur menjaga prinsip hidup bersahabat dengan alam tetap bertahan di tengah arus modernitas SYmSyu - News | Good News From Indonesia 2026

Adat Mapur: Menjaga Prinsip Hidup Bersahabat dengan Alam, Tetap Bertahan di Tengah Arus Modernitas

Adat Mapur: Menjaga Prinsip Hidup Bersahabat dengan Alam, Tetap Bertahan di Tengah Arus Modernitas
images info

BERITA – Siapa yang benar-benar mencintai alam, takkan pernah membangun monumen kemegahan. Hidup dijalani sekadar untuk mencukupi kebutuhan, tak berlebih-lebihan, karena bagi mereka, prinsip melekat dan menyatu dengan alam jauh lebih berharga daripada kekayaan materi. Pemikir ekonomi besar abad ke-20, Karl Polanyi, menyebut cara hidup demikian sebagai sistem sosial-ekonomi subsisten: hidup mandiri, selaras, dan seimbang dengan lingkungan.

Di tanah Kepulauan Bangka Belitung, kebudayaan dan cara hidup seperti ini telah mengakar kuat sejak berabad-abad silam. Kebudayaan ini dimulai dari derap langkah di ladang, tangan yang menjalin joran dan kail di laut, hingga tubuh yang bekerja di lumpur sawah. Para antropolog, sejak masa kolonial hingga kini, umumnya membagi masyarakat asli Babel ke dalam tiga kelompok besar: Orang Bukit, Orang Darat, dan Orang Laut. Masing-masing memiliki cara mengelola alam dan sumber daya yang khas, namun bersatu dalam semangat berbagi.

Kekayaan budaya ini terangkum indah dalam peribahasa legendaris: “Asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam belanga”. Ada yang menghasilkan asam di dataran tinggi, ada yang mencari ikan atau menghasilkan garam di pesisir. Mereka tidak bersaing, melainkan bertemu untuk bertukar hasil bumi: garam ditukar dengan asam, ikan ditukar dengan rempah. Pertemuan dan keterkaitan itulah yang menjadi cikal bakal struktur sosial kompleks yang kita kenal hari ini sebagai Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dalam pandangan sosiolog Anthony Giddens lewat bukunya The Consequences of Modernity, modernisasi digambarkan layaknya kereta baja raksasa (Juggernaut) yang bergerak tak terkendali, melibas segala sesuatu di hadapannya. Modernitas memaksa keseragaman: semua orang harus menggunakan alat tukar yang sama, yaitu uang, semua diukur dengan standar yang sama, dan ditentukan mana yang “modern” serta mana yang “kuno”.

Akibatnya, cara produksi ekonomi berubah, nilai sosial bergeser, dan nilai-nilai budaya sering kali berubah menjadi barang dagangan atau komoditas. Namun, di setiap gelombang besar perubahan zaman, selalu ada elemen yang tak tergoyahkan dan tetap bertahan. Salah satunya adalah keberadaan Masyarakat Adat Mapur, yang mendiami wilayah Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka.

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.