Dusun Puhsul di Desa Adan-Adan mendadak bertransformasi dari permukiman tenang menjadi pusat perhatian arkeologi nasional. Viral di berbagai platform media sosial, Situs Adan-Adan kini memicu perdebatan hangat di kalangan sejarawan dan masyarakat awam.
Narasi mengenai adanya "Borobudur kedua" di Jawa Timur muncul bukan tanpa alasan; sebuah makara raksasa ditemukan menyembul dari lapisan tanah, memberikan petanda bahwa ada kemegahan masa lalu yang terkubur dalam skala yang luar biasa di bawah kaki Gunung Kelud.
Simbolisme Makara dan Ambisi Arsitektur Abad ke-9
Daya tarik utama yang menggetarkan publik adalah ukuran ornamen makara yang ditemukan di lokasi ekskavasi. Dalam arsitektur klasik Nusantara, makara bukan sekadar hiasan estetis, melainkan simbol penjaga gerbang suci yang ukurannya selalu proporsional dengan dimensi bangunan utamanya.
Temuan makara di Adan-Adan memiliki dimensi yang jauh melampaui rata-rata temuan serupa di wilayah Jawa Timur.
Ikhwan, Juru Pelihara Situs Adan-Adan, menyatakan bahwa temuan ini memberikan gambaran tentang ambisi besar para pembangunnya di masa lalu.
“Biasanya ukuran makara menentukan besarnya candi. Bahkan ada peneliti yang menyebut makara di sini termasuk yang terbesar di Asia Tenggara," ujar Ikhwan saat ditemui di lokasi situs.
Meskipun ukurannya masif, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Kediri menghimbau agar masyarakat tidak membandingkannya secara harfiah dengan volume fisik Candi Borobudur di Magelang.
Namun, dari segi luas kawasan, Adan-Adan diduga merupakan kompleks terintegrasi yang sangat luas. Area situs diperkirakan mencakup zona seluas 800 meter persegi, dengan potensi struktur pendukung yang membentang hingga ke desa-desa di sekitarnya, menciptakan sebuah lanskap religi yang masif pada zamannya.
Anomali Buddhis di Tanah Mataram Kuno
Salah satu poin yang menjadikan Situs Adan-Adan begitu istimewa dalam peta sejarah Nusantara adalah corak agamanya. Selama ini, mayoritas candi di Jawa Timur identik dengan pengaruh Hindu dari era Majapahit atau Singasari yang cenderung ramping dan tinggi.
Namun, Adan-Adan justru menampilkan wajah Buddhisme Mahayana yang kuat, diperkirakan berasal dari periode abad ke-9 hingga ke-11 Masehi—era yang bersamaan dengan puncak kejayaan Mataram Kuno.
Eko Priatno, Kabid Cagar Budaya dan Permuseuman Disbudpar Kabupaten Kediri, menegaskan bahwa situs ini adalah kunci untuk memahami dinamika religi di wilayah timur Jawa sebelum era Kediri dan Majapahit.
“Ciri Buddhisnya sangat jelas, mulai dari temuan kepala arca Buddha, fragmen stupa, hingga ornamen kepala kala yang khas. Di Jawa Timur, candi dengan latar belakang Buddha murni seperti ini sangat jarang. Inilah yang membuatnya menjadi pusaka sejarah yang tak ternilai," kata Eko.
Struktur bangunan ini dirancang menggunakan konsep Mandala, sebuah pola geometris suci yang merepresentasikan alam semesta dalam ajaran Buddha. Pola ini mengindikasikan adanya bangunan inti di tengah yang dikelilingi oleh struktur-struktur perwara atau teras luar.
Jika ditarik garis lurus, muncul dugaan kuat adanya keterkaitan fungsional dengan Situs Tondowongso yang berjarak tiga kilometer, mengisyaratkan bahwa kawasan ini dulunya adalah pusat peradaban metropolitan kuno.
Jejak Bencana dan Proyek yang Membeku dalam Waktu
Keberadaan Situs Adan-Adan yang ditemukan terkubur jauh di bawah permukaan tanah memicu teori tentang akhir tragis peradaban tersebut. Para arkeolog menemukan bagian puncak stupa justru berada di lapisan bawah dekat struktur dasar, sebuah indikasi bahwa bangunan ini roboh secara vertikal akibat guncangan hebat atau beban material vulkanik yang luar biasa.
"Bagian stupanya sudah ditemukan di bawah, jadi kemungkinan dulu roboh. Penyebabnya belum diketahui pasti, namun aktivitas vulkanik Gunung Kelud menjadi dugaan terkuat yang mengakhiri eksistensi bangunan ini," tambah Ikhwan.
Selain faktor amukan alam, terdapat misteri lain yang menyelimuti situs ini: beberapa bagian arca dan ornamen ditemukan dalam kondisi belum selesai dipahat. Temuan ini memberikan gambaran dramatis tentang sebuah "proyek suci" yang terhenti secara mendadak.
Entah karena letusan gunung berapi yang memaksa eksodus massal, atau perubahan stabilitas politik yang drastis, Adan-Adan seolah menjadi "fosil waktu" yang merekam detik-detik terakhir sebuah peradaban sebelum akhirnya tertidur selama seribu tahun di bawah tanah Kediri.
Kini, dengan berlanjutnya proses ekskavasi, harapan besar digantungkan agar Adan-Adan dapat berbicara lebih banyak mengenai identitas asli jati diri bangsa yang selama ini tersembunyi di balik lapisan abu vulkanik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


