Perjalanan Pesantren Irsyaduth Thalabah Padangan dalam merawat air. Dari pengalaman kekeringan hingga Amanah Gunung Jali: metode hidrologi berbasis hubungan spiritual antara manusia, pohon, dan air.
Kemarau panjang pada 2015 silam, jadi pengingat keras bagi banyak pihak, khususnya masyarakat di Pulau Jawa, termasuk di Padangan Bojonegoro, bahwa air bukan sesuatu yang dengan mudah selalu tersedia — sumur mengering, mata air mati, dan teknologi modern kesulitan menanganinya.
Di tengah kemarau panjang yang berubah menjadi kekeringan masif pada 2015 itu, banyak pihak mulai menyadari bahwa krisis air bukan peristiwa musiman, tapi tanda atas rapuhnya hubungan antara manusia dengan lanskap alam di mana mereka hidup.
Dalam situasi kekeringan masif yang cukup genting itu, berbagai kalangan— baik itu pemerintah, pegiat lingkungan, hingga para tokoh masyarakat lokal— mulai mencari metode alternatif untuk menghidupkan ekosistem air tanah yang selama ini terabaikan.
Baca Selengkapnya

