Ada satu hal yang diam-diam semakin sulit dilakukan manusia dewasa: bermimpi tanpa merasa harus segera berhasil.
Setiap 25 September, diperingati World Dream Day atau Hari Mimpi Sedunia. Ini bukan hari besar resmi PBB, melainkan sebuah gerakan global yang didirikan pada 2012 oleh Ozioma Egwuonwu, ketika ia mengajar di Columbia University.
Gagasan itu lahir dari kegelisahan sederhana: manusia memiliki ide, cita-cita, dan bayangan tentang masa depan, tetapi sering ada jarak antara apa yang diimpikan dan kemampuan untuk mewujudkannya. World Dream Day dibuat untuk memperkecil jarak itu.
Karena itu, peringatan ini sejak awal bukan sekadar ajakan untuk βbermimpi besarβ. Tujuannya adalah menghormati mimpi, menyatakannya, lalu menggerakkannya menjadi tindakan. Orang diajak meluangkan waktu untuk memikirkan satu mimpi, menuliskannya, membagikannya, kemudian menentukan langkah yang bisa dilakukan.
Dalam bahasa gerakan ini: dream, declare, share, activate. Kata dream di sini pun bukan terutama mimpi ketika tidur. Ia adalah visi tentang kehidupan yang belum terjadi. Ada alasan mengapa gagasan seperti ini terasa semakin relevan hari ini.
Baca Selengkapnya

