reformasi oligarki dan kursi panjang di ruang tamu cPgxU9 - News | Good News From Indonesia 2026

Reformasi, Oligarki, dan Kursi Panjang di Ruang Tamu

Reformasi, Oligarki, dan Kursi Panjang di Ruang Tamu
images info

Barangkali Reformasi memang belum selesai. Tetapi jangan sampai ia hanya menjadi pertunjukan yang setiap tahun kita pentaskan kembali. Sebab rakyat sudah terlalu lama membeli tiket.

Malam itu, di rumah, kami sedang makan singkong rebus. Singkongnya tidak istimewa. Direbus, ditiriskan, lalu diletakkan di piring email yang pinggirnya sudah agak gompal. Ibu mengambil satu, mencocolkannya ke kelapa parut. Bapak, seperti biasa, mengambil kopi yang sudah dingin karena terlalu lama diajak bicara.

Di televisi, orang-orang sedang bicara tentang Reformasi. “Sudah tiga puluh tahun?” tanya Ibu. “Kurang lebih.” Ibu diam sebentar. “Lho, kok rasanya baru kemarin?” Nah. Begitulah sejarah kadang-kadang bekerja di rumah kita. Di buku sejarah, tiga puluh tahun adalah satu bab. Di ruang makan, tiga puluh tahun hanya jarak antara anak yang dulu digendong dengan anak yang sekarang sudah sibuk menggendong cucunya.

Reformasi, kalau kita lihat dari buku-buku, adalah perkara besar. Ada demokratisasi, desentralisasi, penguatan masyarakat sipil, pembenahan institusi, transparansi, akuntabilitas, good governance. Ada cendekiawan yang ikut mengawal. Ada lembaga-lembaga internasional yang datang membawa perangkat, pelatihan, indikator, framework, dan segala macam istilah yang membuat meja seminar kelihatan lebih berwibawa.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Bahkan banyak di antaranya memang penting. Tetapi kehidupan rupanya tidak selalu berjalan menurut buku pedoman. Di kampung, orang tetap harus membeli beras. Di warung, ibu-ibu tetap bertanya apakah harga minyak naik lagi. Di kantor desa, orang masih mencari siapa yang bisa dihubungi kalau urusan surat agak seret. Dan di rumah-rumah, anak-anak tetap sekolah dengan pertanyaan sederhana: “Besok bayar berapa?” Barangkali di situlah kita perlu melihat Reformasi dengan sedikit lebih rendah hati.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.