Ratusan tahun sebelum The Nature Conservancy (TNC), Rainforest Alliance, maupun Greenpeace lahir ke dunia, mereka telah berdiri tegak melindungi hutan dan sumber penghidupan manusia.
Pada 1810 M, lima belas tahun sebelum Perang Jawa dimulai, hutan jati sudah menjadi medan juang. Daendels membangun kuasa kolonial di Jawa. Jalan raya dibentangkan. Infrastruktur dikebut. Kayu jati dibutuhkan dalam jumlah besar. Dan hutan jati di wilayah Mancanegara Yogya, jadi sasaran utama.
Dari semua wilayah Mancanegara Kesultanan Yogyakarta, ada tiga kawasan yang menolaknya. Ketiganya adalah Madiun, Jipang Padangan (Bojonegoro), dan Jipang Panolan (Blora). Tiga kawasan ini bukan sekadar nama. Di dalamnya terdapat hutan jati, jalur niaga, serta nilai luhur yang terus dijaga.
Jipang (Blora dan Bojonegoro) merupakan wilayah bertuah yang sejak lama dihormati dan dikeramatkan para pendiri Mataram. Kawasan ini diberkahi hutan jati purba, cagak spiritual yang terus dijaga. Di tempat ini, Wanareksa (menjaga rimba) menjadi tradisi yang diwariskan lintas zaman.
Peta Jawa Utara: Kosmik Penjaga Ekologi
Baca Selengkapnya

