kabut asap lintas batas dan ujian kerja sama asean dari meja diplomasi hingga titik api di lapangan - News | Good News From Indonesia 2026

Kabut Asap Lintas Batas dan Ujian Kerja Sama ASEAN: Dari Meja Diplomasi hingga Titik Api di Lapangan

Kabut Asap Lintas Batas dan Ujian Kerja Sama ASEAN: Dari Meja Diplomasi hingga Titik Api di Lapangan
images info

Asap tebal karhutla | Foto: AI (Artificial Intelligence)


Langit kelabu kembali menyelimuti sebagian Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau tahun ini tidak hanya dirasakan warga di dalam negeri, tetapi juga memicu kekhawatiran negara tetangga.

Isu ini kini masuk agenda diplomasi ASEAN menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) November 2026 di bawah keketuaan Filipina.

Bagaimana duduk perkaranya, dan apa saja yang sedang diupayakan? Mari kita telaah bersama, Kawan GNFI.

Asap yang Tidak Mengenal Batas Negara

Kabut asap akibat karhutla adalah persoalan yang berulang setiap musim kemarau. Tahun ini, dampaknya kembali meluas hingga dibahas di tingkat regional. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, pada 12 Oktober 2026 menyampaikan bahwa Malaysia akan membawa isu kabut asap ke pertemuan ASEAN.

baca juga

Menurutnya, mekanisme ASEAN untuk bencana alam yang ada saat ini belum mencakup kabut asap. Pemerintah Filipina selaku ketua ASEAN juga mengonfirmasi bahwa topik ini masuk agenda pembahasan.

Dalam pernyataannya, Hasan menyebut pemadaman api terhambat oleh jarak pandang yang buruk, akses yang sulit, dan kondisi yang kurang mendukung untuk modifikasi cuaca (cloud seeding). Malaysia juga menegaskan kesiapannya membantu Indonesia memadamkan api.

Diplomasi yang Memilih Jalur Kerja Sama

Pada 18 Oktober 2026, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim melalui unggahan di Facebook, sebagaimana dilaporkan Bernama pada 19 Oktober, menyatakan bahwa Malaysia telah mengusulkan mekanisme kerja sama tingkat ASEAN untuk memperkuat koordinasi dalam menangani kabut asap lintas batas. Ia juga menyatakan Malaysia tetap bersedia membantu Indonesia memadamkan kebakaran, sebagaimana tawarannya yang terdahulu.

Dari sini terlihat bahwa isu lingkungan, bila dikelola dengan komunikasi terbuka, dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat kolaborasi antarnegara tetangga.

baca juga

Kerja Keras di Lapangan

Di dalam negeri, penanganan karhutla difokuskan pada enam provinsi prioritas, yaitu Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga pertengahan Oktober 2026 luas lahan terbakar di keenam provinsi tersebut mencapai sekitar 129.899 hektare. Kalimantan Barat tercatat terluas (sekitar 51.124 hektare), disusul Kalimantan Tengah (sekitar 23.304 hektare).

Kementerian Kehutanan mengerahkan 1.419 personel Manggala Agni di enam provinsi prioritas, didukung sekitar 5.000 aparatur sipil negara siaga dan sekitar 2.000 personel bantuan kendali operasi. Sekitar 50 unit armada udara juga dipakai sejak Januari hingga 10 Oktober 2026.

Tantangannya tidak ringan. Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan bahwa di Kalimantan Tengah, helikopter pengebom air (water bombing) sempat tidak dapat beroperasi hampir sepekan karena jarak pandang rendah. Modifikasi cuaca pun sangat bergantung pada ketersediaan awan hujan. Kebakaran baru di kawasan Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, bahkan mencapai sekitar 513,89 hektare. BNPB memperkirakan hujan alami mulai turun sejak pertengahan Oktober hingga November.

Ada kabar yang patut dicermati. Kementerian Kehutanan melaporkan jumlah titik panas nasional turun 77,5 persen dalam 24 jam, dari 1.085 titik pada 12 Oktober menjadi 244 titik pada 13 Oktober 2026. Meski begitu, Sumatera Selatan masih menjadi perhatian karena jumlah titik panasnya pada Oktober naik 92 persen dibandingkan periode September. Karhutla juga mengancam keanekaragaman hayati: hingga awal Oktober, sebanyak 232 satwa liar telah diselamatkan, termasuk 71 orangutan.

baca juga

Dampak bagi Kesehatan Masyarakat

Di balik angka-angka itu, ada warga yang merasakan langsung dampaknya. Kementerian Kesehatan mencatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak karhutla, berdasarkan data hingga 13 Oktober 2026. Kalimantan Selatan menjadi yang tertinggi dengan 74.636 kasus, disusul Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus. Lonjakan ini membuat Komisi IX DPR mendorong pemerintah mengkaji status kejadian luar biasa (KLB) nasional.

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan gas berbahaya yang dapat mengganggu pernapasan. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan. Beberapa langkah sederhana yang dianjurkan:

  • Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Pantau kualitas udara di daerah masing-masing.
  • Kurangi aktivitas di luar ruangan saat udara memburuk.
  • Cukupi kebutuhan air putih dan jaga daya tahan tubuh.

Peran Kita Bersama

Penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman api. Masyarakat diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan titik api kepada petugas setempat. Langkah kecil ini penting, sebab pencegahan jauh lebih murah dan aman daripada pemadaman.

Kawan GNFI, kabut asap lintas batas memang menjadi ujian bagi hubungan antarnegara di Asia Tenggara. Namun, ujian ini juga membuka peluang membangun sistem kerja sama regional yang lebih tangguh, mulai dari pertukaran data titik panas, bantuan peralatan dan personel, hingga mekanisme penanganan yang jelas. Hasil pembahasan di KTT ASEAN November nanti layak kita nantikan, sambil terus menjaga kesehatan dan ikut mencegah kebakaran dari lingkungan sekitar.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.