Meski telah memiliki gagasan awal sebelum membuat konten, Itox Triwa mengakui bahwa prosesnya tidak selalu berjalan lurus.
Biasanya, ia memulai dengan melihat sebuah masalah dan membayangkan solusi yang mungkin diterapkan. Dugaan awal tersebut menjadi dasar untuk mengumpulkan data dan mempelajari aturan yang relevan.
"Solusi atau hipotesis solusi itu sudah ada di awal," katanya.
Namun, ia tidak menganggap dugaan tersebut sebagai jawaban final. Ketika menemukan informasi atau sudut pandang baru, ia bisa mengubah dan memperbaiki gagasannya.
"Kadang di tengah jalan ternyata keliru," ujarnya.
Dalam proses pembuatan video, ide tambahan juga kerap muncul. Ada bagian yang perlu ditambahkan, ada pula gagasan awal yang akhirnya tidak digunakan karena kurang tepat.
"Ketika proses bikin, di rumah juga bisa dapat ide baru," tuturnya.
Itox menggambarkan proses tersebut sebagai pekerjaan yang fleksibel. Ia membandingkannya dengan penulisan karya ilmiah yang mempunyai struktur lebih ketat.
"Ini lebih fluid. Kalau di tengah jalan ternyata keliru, ya bisa diubah," katanya.
Bahkan setelah video dibuat, ia masih harus menontonnya berulang kali untuk memastikan tidak ada detail yang terlewat.
Komentar audiens juga menjadi bagian dari proses belajar tersebut. Ia pernah menemukan koreksi dari penonton yang ternyata benar dan kemudian dijadikan bahan perbaikan ketika membahas topik serupa pada kesempatan berikutnya.
"Kadang ada detail yang keliru. Ternyata komentar orang itu benar, jadi lain kali kalau membahas lagi aku perbaiki," ujarnya.
Dari sini terlihat bahwa interaksi di media sosial tidak selalu berhenti pada perdebatan. Ketika dikelola dengan baik, tanggapan audiens juga dapat membantu melengkapi informasi dan memperbaiki pemahaman.
Bagi Itox, membuat konten bukan hanya tentang menyampaikan jawaban kepada publik, tetapi juga tentang terus belajar selama proses berlangsung.
Tantangan terbesar bukan sekadar komentar negatif
Di balik konten yang telah dipublikasikan, terdapat tantangan yang tidak selalu terlihat oleh penonton. Menurut Itox, bagian tersulit justru menentukan apa sebenarnya masalah yang terjadi dan bagaimana masalah tersebut sebaiknya diatasi.
"Tantangannya menentukan masalahnya apa, diatasi dengan apa," katanya.
Ada kalanya ia tidak langsung menemukan jawaban. Pada kesempatan lain, ia menyadari bahwa asumsi awalnya kurang tepat dan harus diperbaiki.
Waktu juga menjadi tantangan tersendiri. Ia berharap proses pembuatan konten dapat berlangsung lebih cepat, tetapi riset, pengumpulan data, penyusunan visual, dan penyuntingan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
"Pengennya bisa sehari jadi, semalam. Tapi enggak mungkin," ujarnya.
Selain substansi, ia juga memikirkan bagaimana membuat orang tertarik untuk menonton. Salah satu elemen yang menurutnya sangat menentukan adalah hook, yaitu bagian pembuka yang membuat audiens tertarik untuk menyimak konten lebih lanjut.
"Hook ternyata ngaruh banget," katanya.
Bahkan, ia mengaku terkadang menghabiskan waktu lebih lama untuk memikirkan pembuka daripada menyusun isi konten itu sendiri.
"Mikirnya malah lebih lama daripada isinya," tuturnya.
Bagi Itox, konten yang memiliki informasi bagus belum tentu memberikan dampak jika tidak ada orang yang melihatnya. Namun, jumlah penonton yang tinggi juga tidak berarti banyak apabila kontennya tidak memberikan informasi yang bermanfaat.
Karena itu, ia berusaha menjaga keseimbangan antara kualitas isi dan jangkauan konten.
Sementara itu, komentar negatif tidak ia anggap sebagai tantangan terbesar. Ia menyadari bahwa cercaan merupakan salah satu konsekuensi ketika seseorang menyampaikan pendapat di ruang publik.
"Aku menganggap itu konsekuensi dari bikin konten," katanya.
Ketika merasa kesal, terkadang ia meluapkannya melalui story atau thread. Setelah itu, ia memilih untuk melanjutkan aktivitasnya. Baginya, penting untuk tidak membiarkan komentar negatif terus menyita perhatian hingga mengganggu pekerjaan.


