Setelah berhasil merangkak naik ke level 73 persen pada tahun lalu, industri kini membidik volume produksi sebesar 537 juta meter persegi. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara produsen keramik global yang tetap tumbuh positif.
Daya serap pasar dalam negeri diharapkan mendapat suntikan besar dari realisasi Program 3 Juta Unit Rumah yang digulirkan pemerintah tahun ini. Jika proyek hunian massal tersebut berjalan sesuai rencana, utilisasi pabrik keramik bahkan berpotensi melonjak hingga 96 persen.
Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, memberikan catatan mengenai keberhasilan dan ekspektasi industri ke depan.
"Tahun ini, kami berharap utilisasi naik ke 80 persen. Namun, kami juga meminta perhatian pemerintah terkait gangguan pasokan gas dan kenaikan impor dari India serta Malaysia yang mulai menekan biaya produksi dan pangsa pasar," ujar Edy.
Meskipun prospek terlihat cerah, industri masih harus berhadapan dengan isu krusial terkait efisiensi energi dan ketersediaan bahan baku. Saat ini, pasokan gas di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur belum terpenuhi secara maksimal, sehingga pabrik terpaksa menanggung biaya tambahan (surcharge) yang cukup mahal.
Selain itu, Asaki bersama Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) berencana menginisiasi penyelidikan terhadap produk keramik asal India dan Malaysia guna menangkal indikasi dumping serta pengalihan rute pengiriman (transhipment) produk dari negara lain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


