di antara huruf dan harapan refleksi atas wajah pendidikan inklusif - News | Good News From Indonesia 2025

Di Antara Huruf dan Harapan: Refleksi atas Wajah Pendidikan Inklusif

Di Antara Huruf dan Harapan: Refleksi atas Wajah Pendidikan Inklusif
images info

Di Antara Huruf dan Harapan: Refleksi atas Wajah Pendidikan Inklusif


Sepotong kata bisa lebih berat dari sepotong batu, terutama bagi mereka yang lahir dengan perbedaan cara membaca dunia. Di ruang-ruang kelas negeri ini, dimana huruf-huruf diajarkan untuk dikejar, ada anak-anak yang justru tertinggal bukan karena malas, melainkan karena otaknya menari dalam irama yang berbeda.

Remien dalam artikel yang diterbitkan di Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI), sebutan itu kerap dikenal dengan Disleksia, specific learning disorder with impairment in reading yang ditandai oleh kesulitan dalam akurasi, kelancaran membaca, dan pemrosesan fonologis. Sayangnya, sering kali, sebutan itu datang terlambat.

Belakangan ini, pemerintah menggembar-gemborkan transformasi pendidikan digital, dari kurikulum merdeka, hingga platform literasi daring yang menjanjikan kesetaraan akses belajar. Namun dibalik sorotan Revolusi Industri 4.0, ada ironi yang mengendap: digitalisasi boleh jadi makin cepat, tetapi inklusivitas berjalan tertatih.

Sebab, bagaimana mungkin kita bicara literasi untuk semua jika masih ada anak yang tersesat di antara huruf-huruf yang seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok?

Antara Teknologi dan Tak Terjangkau

Program literasi nasional hari ini tampak megah di atas kertas. Aplikasi belajar, platform AI, dan sekolah digital seolah menjanjikan masa depan baru. Seperti diwartakan Krajan.id, Kementerian Kominfo menunjukkan 59% masyarakat Indonesia kini telah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI), dengan tingkat penetrasi yang meningkat konsisten selama enam tahun terakhir.

Namun bagi anak disleksia, layar tablet bisa sama menakutkannya dengan papan tulis yang dulu menegur diam-diam. Laporan International Dyslexia Association (IDA) terbitan tahun 2020 mewartakan bahwa hampir 10-15% populasi dunia mengalami disleksia, artinya, di Indonesia ada lebih dari 5 juta anak sekolah dengan tantangan yang sama, dan dua juta kasus baru setiap tahunnya.

Mereka butuh cara belajar yang berbeda, bukan sekadar lebih sering membaca, tetapi cara baru memahami simbol, suara, dan makna. Namun sistem kita masih terpaku pada satu cara: hafal cepat, nilai tinggi, lanjut kelas.

Sementara itu, guru-guru di lapangan masih kebingungan. Kurikulum berubah, pelatihan terbatas, dan alat bantu belajar adaptif hanya menjadi wacana. Akhirnya, anak-anak disleksia dipaksa mengejar ritme yang tak diciptakan untuk mereka. Disitulah, kata merdeka belajar kehilangan separuh maknanya.

Ironi di Ruang Kelas Digital

Kita membanggakan diri sebagai bangsa yang tengah berlari menuju masa depan berbasis teknologi. Namun, dalam kecepatan itu, barangkali kita lupa: tidak semua anak mampu berlari dengan cara yang sama.

Sebagaimana yang ditegaskan oleh I Ketut Trika Adi Ana, S.Pd.,M.Pd, seorang akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, dalam keterangan tertulis, bagi anak dengan keterbatasan disleksia, huruf bukan untuk dihafal, tapi untuk dirasakan. Ada yang menulis puisi dari kata-kata, ada pula yang menulisnya lewat gambar dan suara, karena setiap pikiran punya caranya sendiri untuk berbicara.

Inklusivitas bukan sekadar memberi akses internet, tetapi memberi ruang bagi setiap cara berpikir untuk diakui. Karena pada akhirnya, literasi bukan hanya soal siapa yang cepat membaca, tetapi siapa yang tidak dibiarkan tertinggal.

Hidupkan Kembali Inklusivitas dalam Transformasi Pendidikan Digital

Di era ketika algoritma bisa menebak minat manusia, seharusnya tidak sulit bagi negara untuk menebak bahwa tak semua anak belajar dengan cara yang sama.

Disleksia bukan aib, bukan kesalahan otak, tetapi perbedaan cara memproses keajaiban bahasa dan mungkin, masa depan pendidikan kita baru akan benar-benar cerdas ketika cerdas tidak lagi diukur dari kecepatan membaca, tetapi dari seberapa dalam kita memahami manusia di balik setiap huruf.

Upaya yang dapat ditempuh untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar inklusif antara lain:

  • Menghadirkan bahan ajar ramah disleksia yang menyesuaikan cara belajar setiap anak
  • Memperkuat pelatihan guru berbasis empati dan teknologi, agar pendidik memahami kebutuhan neurodivergen.
  • Mendorong kolaborasi antara pemerintah, komunitas, serta industri kreatif untuk menciptakan ruang belajar yang setara bagi seluruh anak Indonesia.

Seperti kata Howard Gardner, dalam keterangan tertulis, “If children do not learn the way we teach them, then we must teach them the way they learn.”

Bagaimana menurutmu, Kawan? Apakah transformasi digital pendidikan kita sudah cukup ramah bagi semua, atau justru makin memperlebar jarak antara yang bisa membaca dan yang masih berjuang memahami huruf?

Sebab di antara kata dan makna, selalu ada harapan untuk dunia yang benar-benar bisa dibaca oleh semua.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MK
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.