anak enggan mengerjakan tugas benarkah karena malas - News | Good News From Indonesia 2026

Anak Enggan Mengerjakan Tugas, Benarkah karena Malas?

Anak Enggan Mengerjakan Tugas, Benarkah karena Malas?
images info

Anak Enggan Mengerjakan Tugas, Benarkah karena Malas?


Banyak anak usia sekolah dasar menunjukkan kecenderungan menunda atau enggan mengerjakan tugas sekolah di rumah. Perilaku ini kerap dipahami secara sederhana sebagai kemalasan atau kurangnya kedisiplinan.

Padahal, dalam konteks pendidikan dan perkembangan anak, respons tersebut seringkali berkaitan dengan beban belajar yang belum seimbang dengan kebutuhan anak untuk istirahat.

Setelah mengikuti kegiatan belajar di sekolah selama berjam-jam, anak masih dihadapkan pada sejumlah tugas yang harus diselesaikan secara mandiri di rumah. Kondisi ini membuat waktu di rumah tidak sepenuhnya menjadi ruang pemulihan, melainkan perpanjangan dari aktivitas akademik.

Bagi anak usia sekolah dasar, situasi tersebut dapat memicu kelelahan mental yang sulit mereka ungkapkan secara langsung.

baca juga

Sejumlah ahli perkembangan anak menekankan pentingnya menyesuaikan tuntutan belajar dengan tahap perkembangan kognitif anak.

Jean Piaget, menjelaskan bahwa anak usia sekolah dasar berada pada fase berpikir konkret, di mana mereka belajar paling efektif melalui pengalaman yang sesuai dengan kemampuan berpikir mereka. Ketika beban tugas melebihi kapasitas ini, anak rentan merasa kewalahan dan kehilangan motivasi.

Dalam psikologi pendidikan, perilaku menghindari tugas tidak selalu datang dari rendahnya motivasi belajar. Anak pada usia ini masih membutuhkan keseimbangan antara belajar, bermain, dan beristirahat.

Ketika tuntutan akademik datang terus-menerus tanpa jeda yang cukup, kejenuhan menjadi hal yang sulit dihindari. Menunda mengerjakan tugas kemudian menjadi salah satu bentuk respons terhadap tekanan tersebut.

Fenomena ini seringkali luput dari perhatian karena lebih mudah dilihat sebagai masalah individu. Anak diberi label malas atau tidak bertanggung jawab, sementara faktor lingkungan belajar jarang dievaluasi.

Padahal, tugas sekolah seharusnya berfungsi sebagai sarana penguatan materi, bukan sumber tekanan tambahan yang justru menjauhkan anak dari proses belajar.

Fenomena tersebut tampak nyata pada sebuah video yang ditonton penulis tentang Alika, seorang siswa sekolah dasar di Baubau. Di rumahnya di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, ia kerap menunda mengerjakan tugas sekolah meskipun mengikuti pelajaran dengan cukup baik di kelas.

baca juga

Sepulang sekolah, ia lebih memilih beristirahat, sementara buku dan lembar tugas dibiarkan tertutup hingga mendekati waktu pengumpulan.

Bagi orang dewasa di sekitarnya, kebiasaan ini sering dianggap sebagai tanda kemalasan. Namun jika dicermati lebih jauh, perilaku Alika muncul setelah hari belajar yang panjang dan padat.

Rumah, yang seharusnya menjadi tempat anak memulihkan diri, justru terasa seperti kelanjutan dari ruang kelas yang penuh tuntutan.

Kasus Alika menunjukkan bahwa perilaku anak tidak dapat dilepaskan dari konteks sistem pembelajaran yang membentuknya. Ketika tugas diberikan tanpa mempertimbangkan kondisi dan batas lelah anak, fungsi edukatifnya dapat bergeser. Anak tidak lagi belajar untuk memahami, melainkan sekadar berusaha menyelesaikan kewajiban.

Di titik ini, evaluasi terhadap pola pemberian tugas menjadi penting. Sekolah memiliki peran untuk memastikan bahwa tugas benar-benar mendukung proses belajar, bukan menambah beban yang menguras energi anak.

Penyesuaian jumlah, tujuan, dan tingkat kesulitan tugas dapat membantu anak tetap terlibat dalam belajar tanpa kehilangan ruang untuk beristirahat.

Di sisi lain, rumah juga perlu menjadi tempat yang memberi rasa aman bagi anak. Pendampingan yang tenang, komunikasi yang terbuka, serta pemahaman bawa kelelahan adalah hal yang wajar.

Ketika anak merasa didukung, tugas tidak lagi terasa sebagai ancaman, melainkan bagian dari proses belajar yang bisa dijalani bersama.

Pada akhirnya, anak-anak bukan sedang menolak belajar. Mereka hanya sedang lelah dan belum selalu mampu menjelaskannya dengan kata-kata. Ketika anak enggan mengerjakan tugas di rumah, mungkin yang mereka butuhkan bukan tambahan akademik, melainkan ruang untuk pulang, beristirahat dan dipahami.

Belajar akan kembali bermakna ketika anak merasa aman, didengarkan, dan diberi kesempatan untuk tumbuh sesuai ritmenya. Dari sanalah semangat belajar dapat tumbuh kembali, bukan karena paksaan, tetapi karena anak merasa dihargai sebagai manusia yang sedang belajar.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.