kisah aki rusiah - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Aki Rusiah, Penjaga Sunyi di Punggung Gunung Guntur

Kisah Aki Rusiah, Penjaga Sunyi di Punggung Gunung Guntur
images info

Kisah Aki Rusiah, Penjaga Sunyi di Punggung Gunung Guntur


Gunung Guntur tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya terdiam, seperti makhluk tua yang sedang menahan napas panjang di balik kabut yang turun perlahan. Dari kejauhan, punggungnya tampak tenang dan kokoh, seolah bersahabat bagi siapa pun yang memandang.

Namun, bagi mereka yang datang tanpa rasa hormat, gunung itu bukan sekadar tanah dan batu. Ia hidup, mengamati, dan menyimpan ingatan. Setiap langkah manusia di atas tubuhnya adalah percakapan sunyi antara kesadaran dan kesombongan. Tidak semua percakapan berakhir dengan kepulangan.

Di antara banyak kisah yang beredar dari mulut ke mulut, ada satu nama yang tak pernah benar-benar pudar: Aki Rusiah. Ia bukan tokoh sejarah, bukan pula legenda resmi yang tercatat di papan informasi jalur pendakian.

Ia hidup dalam cerita para pendaki, dalam bisik warga yang diwariskan saat menanak nasi atau menunggu hujan reda. Sosoknya digambarkan kecil dan membungkuk, pakaiannya lusuh sewarna tanah, tetapi matanya menyimpan cahaya yang sulit ditatap lama.

baca juga

Konon, siapa pun yang bertemu dengannya sedang berada di persimpangan antara pulang dengan selamat atau belajar melalui jalan yang tak pernah direncanakan.

Bagi Bani, nama itu bukan sekadar cerita. Sejak kecil, neneknya di Garut sering mengingatkan, “Gunung itu tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah manusia yang lupa tata krama.”

Kalimat itu melekat di benaknya seperti doa pendek. Maka ketika ia dan tiga sahabatnya—Dimas, Sari, dan Bima—memutuskan mendaki Gunung Guntur, Bani membawa lebih dari sekadar ransel dan logistik. Ia membawa sikap, kehati-hatian, dan rasa hormat yang ia rawat diam-diam.

Mereka memulai pendakian dari jalur Citiis saat matahari masih ramah. Tanah berpasir memantulkan cahaya seperti serpihan kaca, dan ilalang bergoyang pelan seolah sedang berbisik. Udara terasa hangat, tetapi ada hawa asing yang membuat bulu kuduk sesekali berdiri.

Setiap langkah terasa seperti diawasi, bukan dengan ancaman, melainkan dengan perhatian yang tenang. Beberapa kali Bani merasa ada langkah lain yang menyamai ritmenya, tetapi ketika menoleh, hanya kabut tipis yang bergerak perlahan.

Menjelang siang, mereka tiba di sebuah dataran kecil. Di sanalah sosok itu pertama kali terlihat. Seorang kakek berdiri tak jauh dari jalur, bertopang pada tongkat kayu hitam yang tampak lebih tua dari usia gunung itu sendiri. Tubuhnya membungkuk, wajahnya keriput seperti tanah kering, tetapi matanya jernih dan dalam. “Jangan terlalu berisik,” katanya pelan. “Gunung tidak menyukai kegaduhan.”

Suaranya tidak keras, tetapi terasa menembus dada. Sebelum mereka sempat bertanya, kakek itu melangkah ke balik semak dan lenyap, seolah menyatu dengan kabut.

Dimas terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. Ia mengira itu hanya pendaki tua yang eksentrik. Namun sejak saat itu, suasana berubah. Burung-burung tak lagi bersuara. Angin berembus tak menentu.

Sari merasakan dadanya sesak tanpa alasan jelas, sementara Bima berkali-kali menoleh ke belakang, yakin ada sesuatu yang mengikuti. Bani memilih diam. Ada perasaan aneh mengendap di dadanya perasaan bahwa mereka baru saja bersentuhan dengan sesuatu yang jauh lebih tua dari usia manusia.

Malam turun lebih cepat dari dugaan. Api unggun yang mereka nyalakan hanya menyala kecil, seakan enggan memberi cahaya terlalu terang. Untuk mencairkan ketegangan, Dimas bersiul pelan.

baca juga

Nada itu memantul di lereng, bergema aneh, lalu tiba-tiba lenyap. Angin berhenti. Suara malam membeku. Dari balik gelap, terdengar langkah berat bukan langkah manusia, bukan pula binatang yang dikenal.

Kabut bergerak, dan dari dalamnya muncul sosok besar menyerupai harimau. Tubuhnya seperti tersusun dari bayangan, matanya menyala redup tetapi tajam, seolah mampu membaca isi pikiran manusia. Maung Bungkeuleukan. Ia tidak mengaum, tidak menyerang. Ia hanya menatap, dan tatapan itu cukup membuat lutut gemetar.

Pada saat itulah Aki Rusiah muncul kembali, berdiri di antara mereka dan makhluk itu, seolah keberadaannya tak bisa diganggu oleh apa pun.

“Apa yang dianggap bercanda, sering kali berubah menjadi panggilan,” katanya tenang. “Gunung tidak suka dipermainkan.”

Tongkatnya diketukkan ke tanah. Getaran halus menjalar, udara terasa berat, seperti dunia sedang menarik napas panjang. Perlahan, sosok maung itu memudar bersama kabut, meninggalkan keheningan yang menekan dada.

“Jika datang ke sini hanya untuk menjajal keberanian,” lanjut Aki Rusiah, “gunung akan menyesatkanmu. Tetapi jika datang dengan hormat, gunung akan mengajarkan jalan pulang.” Kata-katanya tidak menggurui, tetapi menembus batas rasa.

Pagi datang tanpa kicau burung. Bani terbangun sendirian. Tenda-tenda kosong. Api unggun tinggal abu. Tak ada jejak kaki. Panik sempat menyeruak, tetapi ia teringat pesan Aki Rusiah.

Ia duduk, menenangkan napas, membiarkan tubuhnya menyatu dengan dingin pagi. Dalam keheningan itu, ia tidak melihat jalan, tetapi merasakannya.

Ia berjalan mengikuti rasa itu hingga tiba di sebuah cekungan. Di sana, Aki Rusiah duduk di atas batu besar. Tubuhnya tampak menyatu dengan alam, seolah kulitnya bagian dari bebatuan.
“Mereka tidak hilang,” katanya pelan. “Mereka sedang belajar.”

Gunung, katanya, tidak menghukum. Ia hanya memisahkan manusia dari kesombongannya agar mereka bisa melihat diri sendiri.

“Jadi, siapa sebenarnya Aki?” tanya Bani lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin.
Aki Rusiah menatapnya lama, seolah menimbang apakah pertanyaan itu siap menerima jawaban. Lalu ia tersenyum, senyum yang tidak hanya muncul di wajah, tetapi terasa menjalar dari waktu yang sangat jauh.

“Aku bukan manusia, bukan pula makhluk halus,” ucapnya pelan. “Aku adalah ingatan.”
Suaranya seperti datang dari lapisan bumi terdalam, bergetar lembut namun pasti. Ia bukan makhluk yang bisa disentuh, bukan pula roh yang gentayangan.

baca juga

Ia adalah jejak dari segala yang pernah ada: doa yang tak sempat terucap, luka yang tak sempat disembuhkan, dan niat baik yang pernah ditinggalkan manusia di gunung ini.

Aki Rusiah melanjutkan, matanya menerawang ke kabut yang menggantung di antara pepohonan. “Aku adalah cerita yang belum selesai. Segala yang pernah dirusak, dihormati, dan dilupakan, semuanya meninggalkan jejak di sini.”

Gunung, katanya, tidak pernah lupa. Ia menyimpan ingatan manusia sebagaimana tanah menyimpan air hujan diam, tetapi setia. Selama masih ada manusia yang berjalan dengan rendah hati, selama masih ada yang datang bukan untuk menaklukkan melainkan untuk belajar, ingatan itu akan tetap hidup.

Dan selama itulah, ia akan tetap ada bukan sebagai sosok, melainkan sebagai kesadaran yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Kabut turun perlahan. Saat menghilang, Bani sudah berada di pos pendakian. Dimas, Sari, dan Bima duduk terdiam, wajah mereka pucat tetapi utuh. Mereka membawa cerita yang berbeda, tetapi satu pelajaran yang sama: gunung bukan tempat untuk menguji ego, melainkan ruang untuk belajar rendah hati.

Tahun-tahun berlalu. Bani tumbuh menjadi relawan pendamping pendakian. Ia mengajarkan para pendaki muda untuk menyapa gunung sebelum melangkah, menjaga ucapan, dan memahami bahwa alam bukan panggung hiburan. “Gunung itu guru,” katanya. “Ia tidak berbicara, tetapi mencatat.”

Pada senja tertentu, ketika kabut turun dan Gunung Guntur tampak seperti makhluk yang terlelap, terdengar langkah kecil di antara ilalang. Bukan untuk menakuti, melainkan mengingatkan. Aki Rusiah tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hidup dalam kesadaran mereka yang mau menghormati alam. Selama manusia masih mau belajar rendah hati, penjaga gunung akan tetap ada diam, sabar, dan setia menjaga keseimbangan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.