Selama tujuh tahun, Budiono (45) tinggal di sekitaran Candi Gedong Songo, Ungaran. Rumah sosok yang akrab disapa Budi ini berada tak jauh dari kompleks pertama Candi Gedong Songo. Rumahnya berwarna hijau dan menyediakan toilet umum untuk para pengunjung.
Penulis tidak sengaja bertemu dengannya saat ia tengah membuat pot-pot kecil untuk bonsai-bonsainya. Dari situlah percakapan terjadi.
Sebenarnya, Budi bukan asli sana. Ia adalah seniman asal Jogja. Bersama tiga rekannya yang tersebar di Solo, Purwakarta, dan Jakarta, ia melakukan riset mandiri. Budi mendapatkan wilayah riset di lereng Gunung Ungaran, khususnya mengenai aspek kebudayaan.
Menariknya, meskipun risetnya dilakukan di sekitar Candi Gedong Songo yang menjadi situs budaya, Budi tidak bekerja di bawah pemerintahan. Ia menyebut hubungannya dengan pemerintah hanyalah sebagai kontrak kesadaran.
"Kontrak pengertian di sini adalah bentuk kesadaran teman-teman untuk mau masuk ke sini, tapi butuh legalitas untuk mendukung itu," ujar Budi.
Ia menekankan keterlibatan pemerintah dalam riset ini didasarkan pada kesepahaman bersama mengenai penggalian identitas dan kearifan budaya lokal. Selain itu, menurutnya legalitas diperlukan agar riset dan aktivitas di kawasan candi tidak menimbulkan gesekan dengan otoritas negara.
Kolaborasi Berbasis Kesadaran
Budi menjelaskan, istilah kontrak yang dilekatkan pada perannya lebih tepat dimaknai sebagai kebutuhan akan legalitas agar aktivitas penelitian dan diskusi budaya tidak dianggap mengganggu.
“Jangan sampai nanti kita tiba-tiba meneliti, ada pihak pemerintah yang merasa terganggu. Kalau bahasa pemerintah kan lebih dikontrak, tapi kalau saya sih lebih sepakat kolaborasi,” ujarnya.
Sejak sekitar 2018, ia dan timnya mendapat akses regulatif. Budi mengungkapkan bahwa riset ini dijalankan secara swadaya oleh komunitas. Begitupun rumah yang ia tempati dengan fasilitas toilet umum itu. Adapun pemerintah hanya hadir pada aspek izin dan keamanan regulasi saja.
“Kalau rumah ini, kita swadaya komunitas. Pemerintah hanya mendukung regulasinya saja,” kata Budi.
Pendekatan ini sengaja dipilih. Ia khawatir keterikatan penuh dengan sistem birokrasi justru membatasi gerak komunitas.
“Kalau kita terikat dengan pemerintahan, ritme pergerakan kita khawatirnya lambat,” ungkapnya.
Kesadaran Komunitas Kecil, untuk Jangkauan Wilayah Luas
Budi tidak bekerja sendiri. Ia tergabung dalam tim kecil beranggotakan empat orang yang tersebar di berbagai daerah. Ada yang berbasis di Jakarta, Solo, Purwakarta, dan dirinya sendiri yang siaga di kawasan Gedong Songo.
“Visinya sama, tapi titik eksplorasinya beda-beda,” kata Budi. Setiap anggota meneliti kearifan lokal di wilayah masing-masing. Hasilnya kemudian dibedah bersama melalui diskusi kolektif.
Pendekatan ini membuat pembacaan terhadap candi tidak tunggal, dan pengetahuan tidak dimonopoli satu orang.
“Penentuan sikap dan penulisan itu kita kupas bersama,” ujarnya.
Candi Gedong Songo, Benarkah Ada Sembilan Candi?
Candi Gedong Songo adalah kompleks candi Hindu peninggalan masa Kerajaan Mataram Kuno (sekitar abad ke-8–9 Masehi) yang terletak di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kompleks ini berada di ketinggian sekitar 1.200–1.300 meter di atas permukaan laut, sehingga dikenal juga sebagai salah satu situs candi dengan panorama alam pegunungan yang sangat kuat.
Secara harfiah, Candi Gedong Songo berarti sembilan bangunan. Candi Gedong Songo bukan satu bangunan tunggal, melainkan sembilan kelompok candi yang tersebar mengikuti kontur lereng gunung. Candi-candi ini bercorak Hindu Siwa, terlihat dari temuan arca Siwa, Durga, Ganesha, serta struktur bangunan khas Hindu awal di Jawa.
Menariknya, hingga kini, yang sudah terpugar baru lima kompleks saja. Setiap kompleks memiliki jumlah candi berbeda. Artinya, ada ketidaksesuaian konteks antara nama dan jumlah candi yang berada di sana.
Oleh karena itu, Budi menyebut, penamaan Gedong Songo diduga berasal dari era kolonial pada 1800-an.
“Saya masih belum menemukan otentiknya,” ujarnya.
Ia meyakini penamaan tersebut bukan berasal dari leluhur pembangunnya.
Lantas, Apa yang Sudah Ditemukan Budi?
Ada salah satu temuan menarik dari hasil riset Budi. Berdasarkan analisis timnya, keberadaan Candi Gedong Songo diperkirakan lahir dalam periode yang sama dengan era Nabi Muhammad di Arab, yakni pada abad ke-6,
“Artinya leluhur kita sudah punya sistem berbangsa dan bernegara yang kuat dan maju secara teknologi,” kata Budi.
Baginya, ini bukan sekadar data sejarah. Ini cermin. Jika peradaban masa lalu mampu membangun sistem sekompleks itu, mengapa bangsa hari ini kerap kehilangan arah?
Selain itu, temuan Budi juga mengungkap hal lain. Gunung Ungaran yang menjadi lokasi Candi Gedong Songo berdiri, menurut Budi, dalam cerita pewayangan disebut Gunung Sakya. Nama ini berasal dari bahasa Sanskerta dan memiliki makna filosofis yang luas.
Pemilihan lokasi candi di perbukitan pun bukan kebetulan. Dalam tradisi spiritual Nusantara, tempat tinggi dianggap lebih hening secara batin.
“Candi-candi itu memang banyak adanya di perbukitan,” kata Budi.
Selain aspek spiritual, kawasan ini juga kaya secara ekologis. Hutan, botani, dan bioenergi di kawasan Gunung Ungaran dinilai belum tergali maksimal.
Untuk itu, Budi hadir sebagai aktivis kebudayaan. Keberadaan Budi di Candi Gedong Songo betujuan untuk mencoba menggali berbagai potensi, termasuk botani agar dapat dikembangkan oleh masyarakat sekitar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


