kalamakara wajah mengerikan penjaga kesucian - News | Good News From Indonesia 2026

Kalamakara, Wajah Mengerikan Penjaga Kesucian

Kalamakara, Wajah Mengerikan Penjaga Kesucian
images info

Kalamakara, Wajah Mengerikan Penjaga Kesucian


Di banyak candi kuno di Pulau Jawa, terdapat pahatan wajah besar dengan mata melotot, hidung lebar, serta mulut menganga penuh taring.

Wajah ini kerap ditempatkan di atas pintu masuk candi dan langsung menarik perhatian karena tampilannya yang mengerikan. Sosok tersebut dikenal sebagai Kalamakara, salah satu elemen arsitektur khas dalam bangunan Hindu-Buddha di Jawa.

Walaupun tampak menakutkan, Kalamakara bukanlah hiasan tanpa arti. Di balik ekspresinya yang garang, tersimpan makna filosofis yang berkaitan dengan perlindungan, waktu, serta keseimbangan antara dunia manusia dan alam spiritual.

Keberadaan hiasan bergambar wajah besar ini, mencerminkan cara masyarakat Jawa kuno memaknai kehidupan, kekuatan gaib, dan kesucian ruang ibadah.

baca juga

Pengertian Kalamakara dalam Tradisi Jawa Kuno

Dikutip dari laman nationalgeographic.grid.id artikel berjudul "Kalamakara yang Mengerikan dalam Mitologi Jawa dari Majapahit" istilah Kalamakara berasal dari dua unsur utama, yaitu Kala dan Makara.

Kala dalam tradisi Hindu-Jawa sering diartikan sebagai perwujudan waktu sekaligus kekuatan kosmis yang bersifat melahap dan tak terhindarkan. Waktu dipandang sebagai kekuatan besar yang dapat mengakhiri segala bentuk kehidupan.

Sementara itu, Makara merupakan makhluk mitologis yang kerap digambarkan sebagai perpaduan berbagai hewan, seperti ikan, buaya, gajah, atau naga.

Makara melambangkan kekuatan alam, khususnya unsur air, yang dianggap sebagai sumber kehidupan sekaligus kekuatan yang sulit dikendalikan.

Ketika kedua unsur tersebut dipadukan, yang membuat simbol ini menjadi kekuatan penjaga yang berada di ambang batas antara dunia luar yang profan dan ruang dalam yang sakral.

Asal Usul Kalamakara dari Mitologi hingga Nusantara

Dilansir dari artikel ilmiah berjudul "Makara pada masa Sriwijaya" karya Sukawati Susetyo tahun 2014 Konsep Kala sejatinya berasal dari tradisi India, terutama dari kisah tentang makhluk bernama Kirtimukha.

Dalam mitologi Hindu, Kirtimukha diciptakan dari kemarahan Dewa Siwa sebagai hukuman bagi makhluk yang bersifat serakah.

Makhluk tersebut akhirnya memakan tubuhnya sendiri hingga hanya tersisa bagian wajah. Wajah inilah yang kemudian dijadikan simbol penjaga pintu bangunan suci.

Ketika ajaran Hindu-Buddha masuk ke Nusantara, konsep tersebut tidak diterima begitu saja, melainkan mengalami penyesuaian dengan budaya lokal.

Seniman dan pemahat Jawa mengolah figur Kala dengan gaya khas Nusantara, lalu memadukannya dengan Makara sebagai elemen pelengkap. Dari sinilah lahir bentuk Kalamakara yang dikenal luas pada candi-candi di Jawa.

baca juga

Peran Kalamakara sebagai Penjaga Ruang Suci

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa kuno, Kalamakara berfungsi sebagai penolak bala. Wajah yang menyeramkan diyakini mampu menghalau roh jahat, niat buruk, serta energi negatif yang berusaha memasuki area suci.

Oleh karena itu, pahatan wajah ini, hampir selalu ditempatkan di bagian atas pintu masuk candi, tepat di titik peralihan antara dunia luar dan ruang ibadah.

Keberadaannya menciptakan kesan bahwa tidak semua orang dapat memasuki ruang suci tanpa niat yang bersih dan sikap hormat.

Selain sebagai pelindung, Kala juga melambangkan waktu yang bersifat absolut. Waktu digambarkan sebagai kekuatan yang terus berjalan dan pada akhirnya akan “memakan” segala sesuatu yang hidup. Filosofi ini menjadi pengingat akan keterbatasan manusia dan pentingnya menjalani kehidupan secara bijaksana.

Dengan menempatkan simbol waktu di pintu candi, masyarakat Jawa kuno seakan menegaskan bahwa ruang suci adalah tempat untuk merenungkan makna hidup dan kefanaan dunia.

Kalamakara dalam Arsitektur

Bentuk Kalamakara paling umum ditemukan pada bagian atas ambang pintu candi. Biasanya, wajah Kala dipahat tanpa rahang bawah, dengan mulut terbuka lebar seolah sedang menelan segala sesuatu. Di sisi kiri dan kanan pintu, sering kali terdapat pahatan Makara yang menghadap ke luar.

Susunan ini dikenal sebagai motif Kala-Makara, yang menjadi ciri khas arsitektur candi di Jawa Tengah, seperti Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Candi Borobudur.

Selain di pintu, Makara juga sering ditempatkan di ujung pegangan tangga atau pagar batu. Tubuh Makara biasanya memanjang mengikuti bentuk tangga, sementara kepalanya berada di bagian atas atau bawah sebagai penjaga jalur masuk.

Terkadang, motif ini digambarkan sedang mengeluarkan makhluk lain dari mulutnya, seperti ular atau naga, yang melambangkan kelahiran dan kekuatan hidup.

Pengaruh Kalamakara tidak berhenti pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Hingga kini, motif tersebut masih dapat ditemukan dalam berbagai elemen budaya Jawa, seperti ornamen bangunan tradisional, ukiran kayu, hingga dekorasi keraton.

Keberadaannya tidak lagi semata-mata bersifat religius, tetapi juga menjadi simbol warisan budaya dan identitas lokal.

baca juga

Motif ini juga kerap digunakan sebagai inspirasi seni modern, baik dalam desain grafis, seni rupa, maupun perhiasan, sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan budaya masa lalu.

Kalamakara merupakan bukti bahwa seni arsitektur Jawa kuno tidak hanya mengutamakan keindahan visual, tetapi juga sarat dengan nilai simbolik dan filosofi hidup.

Sosok yang tampak mengerikan ini sejatinya hadir sebagai pelindung, pengingat akan kekuatan waktu, serta penjaga keseimbangan antara dunia manusia dan alam spiritual.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
AA
MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.