alam ini rusak kalau tolak ukurnya uang kisah simon munasikin menjaga anggrek ungaran - News | Good News From Indonesia 2026

“Alam Ini Rusak Kalau Tolak Ukurnya Uang”: Kisah Simon Munasikin Menjaga Anggrek Ungaran

“Alam Ini Rusak Kalau Tolak Ukurnya Uang”: Kisah Simon Munasikin Menjaga Anggrek Ungaran
images info

“Alam Ini Rusak Kalau Tolak Ukurnya Uang”: Kisah Simon Munasikin Menjaga Anggrek Ungaran


“Alam ini rusak kalau tolak ukurnya uang,” katanya.

Simon yang mengatakan kalimat itu. Sebagai anak yang tumbuh di kaki Gunung Ungaran, anggrek-anggrek liar dulunya dapat dengan mudah dijumpai di setiap pohon hutan. Akan tetapi, saat ia kembali ke kampung setelah beberapa tahun di kota, Simon mendapat kondisi lingkungannya berubah. Hutan tak lagi rimbun dan anggrek yang pun makin langka.

Perburuan anggrek liar sudah terjadi lama. Pedagang dan pengepul sengaja mencari spesies langka untuk dijual ke kolektor dengan harga tinggi. Mereka bahkan mempekerjakan warga lokal untuk memburu anggrek hingga ke tengah hutan.

baca juga

Melihat kenyataan itu, Simon Munasikin mengabdikan diri untuk merawat dan menyelamatkan anggrek. Pada 2017, ia memulai aksi konservasinya di lereng Gunung Ungaran yang memiliki ketinggian hingga 2.050 meter di atas permukaan laut.

Ketika badai menumbangkan pohon di hutan, Simon mengincar anggrek. Ia menyelamatkan anggrek yang masih hidup di batang pohon tumbang itu. Sebab, jika tak segera diselamatkan anggrek bisa ikut mati karena pohon yang menjadi tempatnya tumbuh, roboh.

Kenapa? Karena anggrek adalah tumbuhan epifit. Mereka hidup menempel pada pohon, bukan di tanah. Ketika pohon tumbang, nyawa mereka pun ikut terancam.

Simon menyelamatkan anggrek dengan memindahkan tanaman tersebut dari pohon tumbang ke pohon lain.

baca juga

Keanekaragaman Anggrek Gunung Ungaran

Gunung Ungaran menyimpan kekayaan dan keanekaragaman tanaman anggrek. Laporan Firman Heru Kurniawan dkk. yang dipublikasikan dalam jurnal Nusantara Bioscience mencatat, sebanyak 115 spesies anggrek ditemukan di kawasan Gunung Ungaran.

Dari jumlah tersebut, 27 spesies merupakan anggrek endemik Indonesia. Artinya, anggrek-anggrek ini tidak ditemukan secara alami di negara lain. Lebih jauh lagi, 8 spesies di antaranya merupakan endemik Pulau Jawa, sehingga wilayah sebarannya jauh lebih sempit dan risiko kepunahanya jauh lebih besar.

Simon Munasikin
info gambar

Simon Munasikin © Wulan Yanuarwati/Mongabay Indonesia


 

Dari 8 spesies endemik Jawa tersebut, 4 spesies tercatat masuk dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Masuknya ke daftar merah berarti spesies-spesies itu berada dalam kategori terancam, baik rentan, genting, maupun kritis, tergantung tingkat tekanannya.

Inilah yang membuat penyelamatan Simon terhadap anggrek di lereng Gunung Ungaran tidak bisa dipandang sebagai hobi, tetapi sebagai tindakan konservasi yang relevan dengan peta keanekaragaman hayati nasional.

baca juga

Rumah Anggrek: Wahana Edukasi dan Penangkaran

Simon bersama warga dan pegiat Omah Sawah Kendal mendirikan Omah Anggrek. Tempat ini dirancang sebagai wahana edukasi, tempat inventarisasi spesies anggrek, serta pusat penangkaran dan pengenalan anggrek lokal.

Awalnya warga memang meragukan langkah Simon. Aktivitasnya dianggap tidak pragmatis, bahkan aneh. Tetapi lambat laun, setelah masyarakat paham bahwa anggrek berfungsi sebagai indikator kesehatan hutan, dukungan mulai muncul.

Kini banyak warga ikut serta mencari anggrek liar ketika ada pohon tumbang. Mereka bahkan belajar cara menanam dan merawatnya kembali.

baca juga

“Kenapa hari ini anggrek harus diselamatkan? Supaya nanti anak cucu bisa lihat anggrek ini secara langsung, tidak lewat buku, tidak melihatnya di gambar gitu,” katanya, dikutip dari Mongabay.

Semua ini ia lakukan untuk pelestarian dan pembelajaran.

“Jadi tak hanya untuk dilestarikan tapi media belajar dan untuk penelitian,” imbuhnya.

Di Rumah Anggrek itu, tersimpan sekitar 17 jenis anggrek hutan yang berhasil dikumpulkan dan didata pada 2020. Beberapa jenis yang sudah ditangkar di antaranya:

  • Anggrek Kuku Macan (Aerides)
  • Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis)
  • Anggrek Ekor Tupai (Rynchotylis retusa)
  • Anggrek Vanda tricolor
  • Anggrek Kasut Hijau (Paphiopedilum javanicum)
baca juga

Laboratorium Kultur Jaringan: Jalan Baru Menyelamatkan Anggrek Ungaran

Upaya konservasi anggrek di Desa Ngesrepbalong semula bertumpu pada penangkaran di Omah Anggrek. Namun konservasi berbasis perawatan manual menghadapi tantangan besar.

Pada 2022, sembilan jenis anggrek yang dipelihara mati dan belum dapat dikembangbiakkan kembali. Kondisi ini menandai bahwa metode konvensional belum cukup kuat untuk menjaga keberlanjutan spesies anggrek langka.

Situasi tersebut mendorong penggunaan teknologi kultur jaringan, yaitu teknik memperbanyak tanaman dari biji atau bagian kecil tumbuhan dalam kondisi steril. Metode ini memungkinkan anggrek tumbuh lebih sehat dan dalam jumlah lebih banyak. Kultur jaringan juga penting bagi spesies langka yang sulit berkembang biak secara alami. Meski kerap dianggap mahal dan rumit, teknologi ini justru dapat diterapkan dalam laboratorium skala sederhana dengan ruang dan peralatan terbatas.

baca juga

Berangkat dari kebutuhan itu, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan Laboratorium Kultur Jaringan Anggrek (KJA) di Desa Ngesrepbalong.

Laboratorium KJA dibangun dari ruang berukuran 3 × 3 meter yang disekat menjadi ruang persiapan dan ruang steril. Sebanyak 21 unit alat dan bahan disediakan untuk menunjang proses kultur jaringan. Pelatihan diikuti oleh 10 aktivis lingkungan desa, dengan dukungan pendanaan dari DPA LPPM UNNES.

Bagi masyarakat, kehadiran laboratorium ini tidak hanya memperkuat konservasi anggrek Gunung Ungaran, tetapi juga membuka peluang pengembangan eduwisata dan perbanyakan tanaman lain yang bernilai ekonomi.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.