hewan imut berang berang ternyata bisa tangkal perubahan iklim kok bisa - News | Good News From Indonesia 2026

Hewan Imut Berang-Berang Ternyata Bisa Tangkal Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Hewan Imut Berang-Berang Ternyata Bisa Tangkal Perubahan Iklim, Kok Bisa?
images info

Hewan Imut Berang-Berang Ternyata Bisa Tangkal Perubahan Iklim, Kok Bisa?


Berang-berang ternyata memiliki kontribusi penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim melalui kemampuannya memodifikasi ekosistem sungai. Temuan ini berasal dari studi yang dipimpin oleh Universitas Birmingham dan dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment. 

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas berang-berang mampu mengubah koridor sungai menjadi penyerap karbon dioksida yang efektif. Kajian ini melibatkan kolaborasi sejumlah institusi, termasuk Universitas Wageningen dan Universitas Bern, dengan lokasi penelitian di wilayah sungai di Swiss utara yang telah dihuni berang-berang selama lebih dari sepuluh tahun.

Transformasi Sungai Menjadi Penyerap Karbon

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa lahan basah yang terbentuk akibat aktivitas berang-berang mampu menyimpan karbon dengan laju hingga sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan wilayah yang tidak dihuni hewan tersebut. Selama periode 13 tahun, area penelitian tercatat mengakumulasi sekitar 1.194 ton karbon, setara dengan 10,1 ton CO2 per hektar setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran berang-berang tidak hanya mengubah struktur fisik sungai, tetapi juga memengaruhi siklus karbon secara signifikan.

Menurut penulis senior studi, Dr. Joshua Larsen, berang-berang secara mendasar mengubah cara karbon bergerak dalam lanskap sungai. Bendungan yang mereka bangun menyebabkan genangan air yang membentuk lahan basah, memperlambat aliran sungai, serta menjebak sedimen dan bahan organik maupun anorganik, termasuk karbon dioksida. Proses ini membuat sistem sungai berfungsi sebagai penyerap karbon yang lebih kuat dibandingkan kondisi alami tanpa intervensi berang-berang.

Mekanisme Penyimpanan Karbon di Lahan Basah

Penelitian ini menggunakan pendekatan komprehensif untuk memahami dampak aktivitas berang-berang terhadap siklus karbon. Para ilmuwan menggabungkan pengukuran hidrologi, analisis kimia air, studi sedimen, pemantauan gas rumah kaca, serta pemodelan jangka panjang. Hasilnya menunjukkan bahwa lahan basah yang terbentuk berfungsi sebagai penyerap karbon bersih, dengan rata-rata penyimpanan mencapai sekitar 98,3 ton karbon per tahun.

Proses penyimpanan karbon ini sebagian besar dipengaruhi oleh penangkapan karbon anorganik terlarut di bawah permukaan. Selain itu, akumulasi sedimen, bahan tumbuhan, dan kayu mati turut berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas penyimpanan karbon. Sedimen di area ini bahkan mengandung karbon anorganik hingga 14 kali lebih tinggi dan karbon organik hingga delapan kali lebih banyak dibandingkan tanah hutan di sekitarnya.

Dinamika Musiman dan Emisi Gas Rumah Kaca

Meskipun berfungsi sebagai penyerap karbon, sistem ini juga mengalami variasi musiman. Pada musim panas, ketika permukaan air menurun dan sedimen lebih banyak terpapar, emisi karbon dioksida dapat meningkat untuk sementara waktu. Kondisi ini menyebabkan ekosistem tersebut berperan sebagai sumber karbon jangka pendek. Namun, secara keseluruhan dalam satu tahun, jumlah karbon yang disimpan tetap lebih besar dibandingkan yang dilepaskan.

Emisi metana yang umumnya menjadi perhatian dalam ekosistem lahan basah ditemukan sangat rendah dalam studi ini, yakni kurang dari 0,1 persen dari total anggaran karbon. Hal ini menunjukkan bahwa dampak negatif dari gas rumah kaca lain relatif minimal dibandingkan manfaat penyimpanan karbon yang dihasilkan.

baca juga

Potensi sebagai Solusi Iklim Berbasis Alam

Temuan ini membuka peluang besar bagi penerapan solusi berbasis alam dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya di Eropa. Setelah melalui upaya konservasi yang panjang, populasi berang-berang mulai kembali ke habitat alaminya. Kembalinya hewan ini memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kapasitas penyimpanan karbon di wilayah sungai, terutama di bagian hulu.

Penelitian juga menunjukkan bahwa jika habitat yang sesuai diperluas dan populasi berang-berang meningkat, manfaat iklim yang dihasilkan dapat menjadi signifikan. Di Swiss, misalnya, lahan basah yang terbentuk dari aktivitas berang-berang diperkirakan mampu mengimbangi sekitar 1,2 hingga 1,8 persen emisi karbon tahunan negara tersebut tanpa memerlukan intervensi teknis tambahan.

Selain itu, karbon yang tersimpan dalam sedimen dan kayu mati dapat bertahan selama beberapa dekade, selama struktur bendungan tetap terjaga. Hal ini menjadikan ekosistem yang dibentuk berang-berang sebagai penyerap karbon jangka panjang yang stabil. Penulis utama studi, Dr. Lukas Hallberg, menyatakan bahwa dalam lebih dari satu dekade, sistem yang diteliti telah berkembang menjadi penyerap karbon jangka panjang yang melampaui ekspektasi terhadap koridor sungai alami.

Ke depan, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami dampak berang-berang dalam skala yang lebih luas, terutama terkait perannya dalam pengelolaan lahan, strategi rewilding, serta kebijakan iklim global. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan berang-berang tidak hanya penting bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.