angklung sered balandongan ketika bambu jadi senjata mematikan dari tasikmalaya - News | Good News From Indonesia 2026

Angklung Sered Balandongan, ketika Bambu jadi "Senjata Mematikan" dari Tasikmalaya

Angklung Sered Balandongan, ketika Bambu jadi "Senjata Mematikan" dari Tasikmalaya
images info

Angklung Sered Balandongan, ketika Bambu jadi "Senjata Mematikan" dari Tasikmalaya


Tasikmalaya dikenal sebagai kota santri dengan kerajinan anyaman mendunia. Namun di balik itu, tersimpan satu kesenian langka yang mungkin belum pernah Kawan dengar sebelumnya. Namanya angklung sered balandongan, sebuah warisan budaya yang secara resmi telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Berbeda dari angklung biasa yang dimainkan dengan cara digoyangkan, alat musik yang satu ini menyimpan rahasia kelam sekaligus heroik, ia adalah senjata bambu yang dulu digunakan untuk melawan penjajah. Mari telusuri 5 fakta unik tentang kesenian bambu yang langka ini.

Bermula dari "Angklung Tangara", Alarm Perang dari Suara Bambu

Sejarah angklung ini dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka. Dikutip dari penelitian budayawan sekaligus peneliti seni tradisi Tasikmalaya, Agus Ahmad Wakih, kesenian ini pertama kali muncul pada tahun 1901 di Kampung Balandongan, Desa Sukaluyu, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya.

Saat itu, masyarakat mengenalnya dengan nama angklung tangara, yang mana merupakanistilah dalam bahasa Sunda yang berarti alat pemberi tanda atau kode komunikasi.

Di kawasan Mangunreja sendiri, yang menjadi sentra perkebunan kopi, kapulaga, dan hasil bumi lainnya, ancaman penjajah selalu mengintai. Dari hal tersebut, warga pun menciptakan sistem peringatan dini dengan suara angklung.

Ada tiga jenis angklung yang digunakan sebagai kode darurat yang akan dibunyikan sesuai kondisinya:

  • Angklung Keureuleuk: berukuran kecil, bersuara nada tinggi, menjadi penanda datangnya orang tak dikenal atau penjajah.
  • Angklung Engklok: berukuran sedang.
  • Angklung Gem: berukuran besar, bersuara nada rendah.
baca juga

Transformasi Angklung jadi 'Senjata Bambu Runcing' yang Mematikan

Tekanan kolonialisme Belanda yang semakin keras mendorong masyarakat Kampung Balandongan untuk tidak hanya menggunakan angklung sebagai alarm peringatan. Mereka mengambil langkah lebih berani.

Dikutip dari laman Detik menurut Agus Ahmad Wakih, "Angklung juga saat itu dijadikan senjata, tabung bambunya dibuat lebih panjang dan ditajamkan. Sehingga mirip bambu runcing".

Tabung-tabung bambu yang tadinya hanya digoyangkan untuk menghasilkan bunyi, kini dipertajam ujungnya menjadi senjata tikam yang mematikan.

Menurut sumber di laman Teropong Media, pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Tasikmalaya menjadikan seni angklung ini sebagai cara atau sarana untuk membunuh penjajah.

Bahkan, jika merunut atau mengikuti jejak sejarahnya, kesenian ini sempat menjadi ajang pertarungan sampai mati yang oleh seorang pengamat diibaratkan mirip ajang gladiator di zaman Romawi.

Kisah-kisah heroik bercampur mitos pun bermunculan. Dikutip dari laman Times Indonesia, ada cerita tentang penjajah yang tewas dihujam angklung, hingga pemain angklung yang diyakini memiliki kekuatan supranatural.

Pada tahun 1908 di bawah kepemimpinan RAA Wiratanuningrat, Bupati Sukapura saat itu, angklung tangara resmi dimodifikasi menjadi angklung adusebuah seni pertarungan yang memadukan irama dan kekuatan fisik.

Keunikan Nama "Sered" dan Adu Kekuatan Fisik Tanpa Kematian

Mengapa kesenian ini disebut "Sered"? Detik Jabar menuliskan, kata "sered" dalam bahasa Sunda berarti dorong. Nama ini sangat tepat menggambarkan esensi pertunjukannya, karena dua kelompok pemain angklung saling beradu kekuatan fisik dengan cara silih sered (saling mendorong) menggunakan bagian tubuh seperti betis, lengan, dan bahu.

Dalam pertunjukannya, dua kelompok (masing-masing terdiri dari11 pemain angklung) berhadapan dengan formasi berderet ke belakang dan saling berpegangan. Pemimpin di barisan depan akan menjadi garda terdepan yang beradu fisik.

Sambil bertarung, para pemain tetap harus memainkan angklung mereka tanpa henti, diiringi alunan musik dari empat dogdog, satu set kendang, satu kempul (gong ukuran sedang), dan tarompet sebagai pembawa melodi.

Menurut Liputan6, para peserta menggunakan jurus-jurus tertentu untuk meraih kemenangan, seperti jurus hayam apung, belut putih, paleredan, dan cimande. Satu kelompok dinyatakan kalah jika pegangan antar pemain terlepas dan formasi bercerai-berai.

Dulunya, ajang ini bisa berujung kematian. Kini, meski tetap diwarnai adu kekuatan fisik, angklung sered Balandongan tak lagi memakan korban nyawa.

baca juga

Fungsi Ganda, dari Perlawanan ke Hiburan dan Pendidikan Karakter

Seiring berjalannya waktu, fungsi angklung ini terus berevolusi. Merujuk pada data dari laman resmi warisan budaya Kemendikbud, pada masa 1908–1917, angklung sered difungsikan sebagai tangara (tanda bahaya) sekaligus kalangenan (hiburan bagi masyarakat).

Pada periode 1918–1945, fungsinya semakin kuat sebagai penyemangat perjuangan dalam menghadapi penjajah sekaligus ajang adu kekuatan antarjawara yang memperebutkan daerah kekuasaan.

Memasuki tahun 1950 hingga sekarang, angklung sered bertransformasi menjadi alat hiburan rakyat, biasa ditampilkan dalam acara khitanan, perkawinan, hingga penyambutan tamu agung.

Sebuah penelitian dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang dikutip oleh laman Teropong Media mengungkapkan bahwa angklung sered sebelum kemerdekaan menjadi simbol perjuangan rakyat melawan penjajah, sementara setelah kemerdekaan lebih menekankan pada estetika pertunjukan.

Bahkan, kesenian ini juga mengandung nilai-nilai pendidikan karakter, seperti rasa saling menghormati, kedisiplinan bersama, tanggung jawab kolektif, hingga ekspresi artistik yang harmonis.

Kini Hampir Punah, Bertahan di Tangan Perempuan dan Sekelompok Seniman

Sayangnya, di tengah gempuran budaya modern dan minimnya regenerasi, Angklung Sered Balandongan perlahan mulai sirna. Banyak masyarakat Tasikmalaya sendiri yang bahkan tidak mengetahui keberadaan kesenian ini.

Upaya pelestarian terus dilakukan. Namun, menghadapi tantangan besar berupa minimnya minat generasi muda dan terbatasnya sekolah yang menyediakan ekstrakurikuler angklung sered.

Kabar baiknya, di Kampung Balandongan sendiri, kesenian ini justru mendapatkan nafas baru dari kaum perempuan. Menurut Udung, Ketua Paguyuban Angklung Sered Balandongan, ibu-ibu dan gadis remaja kini mulai membentuk kelompok-kelompok angklung sered dan secara rutin mempertunjukkannya dalam momen-momen tertentu.

Ai Lestari, seorang pemain angklung sered berusia 19 tahun, mengungkapkan tekadnya untuk melestarikan warisan leluhur ini. ia berkata, "Siapa lagi yang akan melestarikan kalau bukan kami yang tinggal di tempat lahirnya kesenian Angklung Sered," sebutnya dalam iNews Tasikmalaya.

Para akademisi pun turun tangan. Agus Ahmad Wakih sendiri telah meneliti kesenian ini sejak 1991 dan menjadikannya bahan disertasi doktoral. Melalui Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan berbagai program pendidikan, ia berupaya membawa warisan leluhur ini masuk ke ranah akademik dan kebudayaan.

baca juga

Angklung sered balandongan mengajarkan Kawan GNFI bahwa bambu tidak hanya bisa menghasilkan suara yang merdu. Di tangan para pejuang Tasikmalaya, bambu pernah berubah menjadi alarm perang, senjata perlawanan, bahkan arena pembuktian kekuatan fisik dan spiritual.

Jadi, saat Kawan GNFI mendengar kata "angklung", jangan hanya membayangkan Saung Udjo atau alat musik UNESCO semata. Ingatlah juga bahwa di sudut Tasikmalaya yang sunyi, ada angklung sered balandongan yang masih berjuang untuk tidak dilupakan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.