bukan karena perang kartini wafat karena apa dibunuh atau pre eklampsia ini kisah dari setiap versinya - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Karena Perang, Kartini Wafat Karena Apa? Dibunuh atau Pre-eklampsia, Ini Kisah dari Setiap Versinya

Bukan Karena Perang, Kartini Wafat Karena Apa? Dibunuh atau Pre-eklampsia, Ini Kisah dari Setiap Versinya
images info

Bukan Karena Perang, Kartini Wafat Karena Apa? Dibunuh atau Pre-eklampsia, Ini Kisah dari Setiap Versinya


Kartini wafat karena apa? Dibunuh atau karena pre-eklampsia? Simak kisahnya dari setiap versi yang ada.

Setiap 21 April, seluruh Indonesia merayakan semangat dan warisan pemikiran R.A. Kartini. Tapi ada satu bagian dari kisah hidupnya yang jarang dibicarakan bagian yang paling memilukan: bagaimana perempuan paling progresif di zamannya itu meninggal begitu cepat, begitu tiba-tiba, dan hingga hari ini masih menyimpan tanda tanya.

Kartini, Wafat di Rembang, Dimakamkan di Bulu

R.A. Kartini wafat pada 17 September 1904 di Rembang, dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Usianya baru 25 tahun.

Kartini meninggal empat hari pasca melahirkan putra tunggalnya, Raden Mas Soesalit, pada 13 September 1904. Ia menghembuskan napas terakhir di pangkuan suaminya, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, berdasarkan kesaksian para abdi dalem yang hadir saat itu.

Padahal sebelumnya, Kartini tampak baik-baik saja. Menurut suami Kartini, setengah jam sebelum meninggal, istrinya masih sehat bugar dan hanya mengeluh perutnya tegang. Dokter Van Ravesteijn, dokter sipil dari Pati, datang dan memberinya obat. Setelah itu, tiba-tiba ketegangan di perut Kartini menghebat dan 30 menit kemudian ia meninggal. "Dalam pelukan saya dan di hadapan dokter," kata sang suami.

Kematian yang begitu mendadak itulah yang kemudian memicu pertanyaan dan kontroversi yang bertahan lebih dari satu abad.

Versi Pertama: Kartini Wafat Karena Preeklampsia

Penjelasan medis yang paling banyak diterima menyebut bahwa Kartini meninggal akibat preeklampsia komplikasi serius dalam kehamilan yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian ibu terbesar di dunia.

Preeklampsia merupakan kondisi medis yang bisa terjadi selama masa kehamilan, ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan adanya protein dalam urin (proteinuria), yang mengindikasikan adanya kerusakan organ, terutama ginjal. Dalam beberapa kasus, preeklampsia juga bisa melibatkan gangguan hati, penglihatan kabur, sakit kepala parah, dan pembengkakan ekstrem di tangan dan wajah.

Mengutip data WHO, preeklampsia dan eklampsia menjadi penyebab sekitar 14 persen kematian ibu di seluruh dunia, menjadikannya salah satu komplikasi kehamilan paling mematikan jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Kondisi ini umumnya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan bisa berlanjut hingga pasca-persalinan.

Gejala yang dialami Kartini perut tegang, kejang mendadak, dan kematian dalam waktu singkat sangat sesuai dengan gejala eklampsia, yaitu komplikasi lanjutan dari preeklampsia yang tidak tertangani. Inilah yang membuat banyak ahli dan sejarawan medis meyakini bahwa preeklampsia adalah penyebab paling masuk akal dari kematiannya.

Salah satu kemenakan Kartini, Sutiyoso Condronegoro, juga mengakui santernya isu miring seputar kematian Kartini. Namun keluarganya lebih suka menganggapnya sebagai hal lumrah akibat proses kelahiran yang berat, yang saat ini dikenal dengan istilah preeklampsia.

Versi Kedua: Kartini Wafat Karena Dibunuh

buku kartini mati dibunuh, Membongkar hubungan Kartini dan Freemason. Penulis : Efatino Febriana. sumber: IG boekoe_yogya
info gambar

buku kartini mati dibunuh, Membongkar hubungan Kartini dan Freemason. Penulis : Efatino Febriana. sumber: IG boekoe_yogya


Namun tidak semua pihak puas dengan penjelasan medis itu. Sebagian pihak menduga ada permainan politik Belanda untuk membungkam suara Kartini melalui racun, sebagaimana disampaikan dalam buku Kartini Mati Dibunuh karya Efatino Febriana.

Kecurigaan ini diperkuat oleh sejumlah kejanggalan. Dokter Van Ravesteijn, yang datang dari Pati untuk membantu persalinan Kartini, menggunakan alat bantu yang tak jelas fungsinya. Meski sempat dinyatakan sehat, Kartini kemudian mengalami keluhan perut tegang dan meninggal 30 menit setelah diberikan obat oleh dokter yang sama.

Dalam versi ini, setelah menerima sesuatu yang oleh sebagian sumber disebutkan sebagai minuman Kartini langsung sakit dan hilang kesadaran, hingga akhirnya meninggal dunia. Para pendukung teori ini menilai bahwa pemikiran Kartini yang semakin berpengaruh dan mengancam tatanan kolonial Belanda menjadi motif yang cukup kuat.

Kesimpulan Efatino ini juga dikuatkan oleh Sitisoemandari dalam bukunya berjudul Kartini, Sebuah Biografi, yang menduga bahwa Kartini meninggal akibat permainan jahat dari Belanda.

Buku Kartini - sebuah biografi, karya Sitisoemandari Soeroto | sumber IG rarebooks_tmii
info gambar

Buku Kartini - sebuah biografi, karya Sitisoemandari Soeroto | sumber IG rarebooks_tmii


Benarkah Demikian?

Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia Kabupaten Rembang, Edi Winarno, menganggap kecurigaan itu tak berdasar. Menurutnya, tidak ada alasan bagi orang di sekitar Kartini untuk membunuhnya.

Walau tidak ada bukti terkait peristiwa pembunuhan tersebut, dan ada analisis para dokter yang menyebut kematian Kartini dikarenakan preeklampsia, hal ini pun tidak bisa dibuktikan sepenuhnya karena dokumen dan catatan tentang kematian Kartini tidak ditemukan.

Itulah yang membuat misteri ini terus hidup hingga sekarang.

Kesimpulan Yang Pasti adalah Kehilangannya

Dari dua versi yang beredar, preeklampsia adalah penjelasan yang paling didukung secara medis dan ilmiah gejalanya cocok, kondisinya umum terjadi pada ibu pasca persalinan, dan pada era 1904, penanganan komplikasi kehamilan memang sangat terbatas.

Sementara teori pembunuhan, meski dramatis dan tidak sepenuhnya bisa diabaikan, belum memiliki bukti yang cukup kuat untuk menjadi kesimpulan. Ia lebih banyak bersandar pada spekulasi dan kejanggalan situasional, bukan bukti forensik.

Yang jelas dan tidak perlu diperdebatkan adalah ini: meskipun sampai saat ini kebenaran di balik kematian Kartini masih abu-abu, yang lebih penting adalah terus menghidupkan gagasan-gagasan progresif dan revolusioner perempuan asal Rembang ini.

Kartini pergi terlalu cepat. Tapi pemikirannya, tentang pendidikan, kesetaraan, dan cahaya di balik kegelapan, tidak pernah ikut pergi.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Meita Astaningrum lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Meita Astaningrum.

MA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.