Pernahkah Kawan mengetahui jika di Sumatera Utara ada satu kudapan tradisional yang dikenal dengan nama kue rasidah? Apakah Kawan pernah mencicipi jajanan tradisional yang satu ini sebelumnya?
Jika nama kue rasidah terasa asing di telinga, maka hal ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan. Sebab kue rasidah menjadi salah satu kudapan yang jarang dijumpai saat ini.
Terlebih kue rasidah biasanya hanya disajikan pada momen tertentu saja. Oleh sebab itu, kudapan ini jarang dijumpai dan dijual oleh para pedagang selayaknya jajanan tradisional lainnya.
Lantas bagaimana ulasan lebih lanjut terkait kue rasidah tersebut? Simak ulasannya dalam artikel berikut ini.
Mengenal Kue Rasidah
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, kue rasidah adalah salah satu kudapan tradisional yang berasal dari daerah Sumatera Utara. Kue ini berasal dari masyarakat Melayu yang mendiami wilayah tersebut.
Selain di Sumatera Utara, kue serupa juga umum dijumpai di daerah lain yang banyak didiami oleh masyarakat Melayu. Misalnya, kudapan ini juga bisa Kawan jumpai di daerah Riau, Kepulauan Riau, bahkan hingga Malaysia.
Kue yang juga dikenal dengan nama lasidah ini memiliki tekstur yang lembut. Selain itu, kue rasidah juga memiliki ciri khas dengan taburan bawang goreng di atasnya.
Tekstur ini didapatkan dari bahan utama yang digunakan dalam proses pembuatan kue rasidah. Kue tradisional ini menggunakan bahan dasar yang cukup sederhana, yakni tepung terigu, margarin, air, minyak goreng, gula pasir, garam, dan bawang merah.
Meskipun menggunakan bahan yang cukup sederhana, kue rasidah tetap memiliki keunikannya tersendiri. Salah satu keunikan dari kue rasidah adalah bentuknya yang sering kali dicetak seperti bunga dalam setiap penyajiannya.
Selain bunga, kue rasidah juga sering dicetak dalam beberapa bentuk lainnya, seperti ikan mas dan guci. Bentuk yang beragam ini menjadi ciri khas tersendiri dari kudapan tradisional tersebut.
Hanya Bisa Dijumpai pada Momen Tertentu
Keberadaan kue rasidah diketahui sudah ada sejak lama di tengah masyarakat Melayu. Tidak ada sumber tertulis yang secara resmi menjelaskan kapan pertama kali kudapan ini mulai dikenal di tengah masyarakat.
Dinukil dari artikel Farhan Hafizh, dkk., "Pelatihan Pembuatan Kue Rasidah Sebagai Bentuk Mempertahankan Kuliner Khas Melayu Di Era Modern Desa Aras Sembilan" dalam Jurnal FUSION, salah satu sumber menyebutkan jika nama "Rasidah" pada kue ini merujuk pada nama sosok yang membuat kudapan ini dulunya. Konon dikisahkan jika Rasidah adalah salah seorang wanita Melayu yang memiliki paras yang cantik jelita.
Rasidah diceritakan mengagumi Sultan yang memerintah dulunya. Namun pada suatu masa dia diminta untuk membuat kue yang nantinya dihidangkan pada pesta pernikahan sang sultan.
Tugas yang diberikan ini dilakukan oleh Rasidah. Meskipun demikian, Rasidah membuat kue ini dengan perasaan yang campur aduk.
Rasidah membuat kue ini dengan rasa sedih yang mendalam. Hal ini disebabkan pada kenyataan bahwa dirinya mesti menyajikan hidangan tersebut di pernikahan sosok yang disukainya.
Alhasil Rasidah menyelesaikan kudapan ini dalam waktu lama. Meskipun demikian, Rasidah tetap mampu menjalankan tugas yang diembankan padanya dengan baik, sehingga kue tersebut dikenal sesuai dengan namanya.
Seperti yang sudah dijelaskan, kue rasidah pada saat ini hanya sering dijumpai saat momen tertentu saja. Sama seperti kisah Rasidah, kue ini menjadi salah satu hidangan yang disajikan dalam momen pernikahan masyarakat Melayu.
Selain itu, kue rasidah juga sering dihidangkan dalam beberapa momen penting lainnya, seperti perayaan Hari Raya Idulfitri, acara khitanan dan sejenisnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


