Program Football for Unity di Stadion Maguwoharjo patut diapresiasi. Namun, insiden APAR Januari 2026 membuktikan bahwa narasi inspiratif saja tidak cukup tanpa perubahan struktural yang nyata.
Sebagai pendukung setia PSS Sleman yang kerap hadir langsung di Stadion Maguwoharjo, saya menyambut baik program Football for Unity kolaborasi antara PSS Sleman dan Komunitas Sadar Belajar Indonesia yang membuka ruang bagi penyandang disabilitas di stadion.
Namun, sebagai mahasiswa yang mempelajari isu disabilitas, saya merasa apresiasi saja tidak cukup.
Dari "White Cane Day" ke "Football for Unity"
Program ini bermula dari inisiatif Achmad Novrizal (Rizal), penggagas Komunitas Sadar Belajar Indonesia, yang ingin memberi akses ruang publik kepada anak-anak penyandang disabilitas netra.
Ia menghubungi elemen suporter PSS Sleman, termasuk Brigata Curva Sud, serta pengelola stadion, hingga lahirlah program Football for Unity.
Momentum perdananya terjadi pada laga kandang PSS Sleman melawan Kendal Tornado FC, 12 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan International White Cane Day.
Anak-anak difabel netra tidak hanya ditonton dari tribun, tetapi juga dilibatkan sebagai player escort, turun ke lapangan, dan berinteraksi langsung dengan para pemain sebelum kick-off. Mereka didampingi relawan "Teman Bisik" yang mendeskripsikan jalannya pertandingan secara real-time menggunakan tactical board.
Executive Representative PSS Sleman, Vita Subiyakti, menyatakan inisiatif ini merupakan simbol nyata kepedulian PSS terhadap kesetaraan akses di lingkungan olahraga.
Stadion Maguwoharjo sendiri telah memiliki fasilitas tribun difabel sebagai bagian dari renovasi senilai Rp 108 miliar oleh Kementerian Pekerjaan Umum yang selesai pada Maret 2025, guna memenuhi standar FIFA.
"Orang-orang dengan disabilitas bukan inspirasi karena mereka hidup dengan disabilitas. Mereka bisa menginspirasi seperti siapa pun karena pencapaian nyata mereka, bukan sekadar keberadaan mereka." Stella Young, TED Talk 2014
Saya khawatir sebagian narasi di sekitar program Maguwoharjo cenderung jatuh ke dalam jebakan ini. Anak-anak difabel netra yang berjalan sebagai player escort atau mendengarkan "Teman Bisik" kerap digambarkan sebagai "menggetarkan hati" atau "sangat menginspirasi".
Padahal, yang mereka lakukan hanyalah hal biasa yang seharusnya menjadi hak setiap orang: menikmati pertandingan di stadion.
Insiden APAR, Bukti Bahwa Aksesibilitas Bukan Soal Tempat Duduk
Jika masih ada yang meragukan perlunya kritik struktural, peristiwa 31 Januari 2026 adalah jawabannya. Pada laga kandang PSS melawan Barito Putera, oknum suporter menyalakan tabung APAR di tribun barat sisi utara Stadion Maguwoharjo.
Asap tebal menyebar, memaksa wasit menghentikan pertandingan sementara, dan tujuh orang harus dilarikan ke rumah sakit. Yang membuat peristiwa ini menjadi alarm keras bagi isu inklusivitas: APAR tersebut dinyalakan sekitar 10 meter dari tribun disabilitas, tepat di area ramp yang merupakan satu-satunya jalur akses keluar-masuk bagi penonton penyandang disabilitas.
"Coba kita bayangkan jika kita tidak bisa melihat, lalu tiba-tiba menghirup asap pekat. Kita tidak bisa bergerak cepat sementara satu-satunya jalan keluar tertutup. Itulah yang dirasakan teman-teman disabilitas." I'tifanny Yumna Paraswati, Ketua Sadar Belajar Indonesia (Krjogja, 3 Februari 2026)
Pernyataan Ketua Sadar Belajar Indonesia itu bukan dramatis berlebihan, melainkan gambaran nyata dari apa yang terjadi ketika aksesibilitas hanya berhenti pada tersedianya tribun, tanpa memikirkan keselamatan, jalur evakuasi darurat, dan protokol yang ramah disabilitas. Insiden ini membuktikan secara telak bahwa narasi "stadion yang inklusif" tidak bisa dibangun hanya di atas cerita inspiratif.
Lebih jauh, kondisi di lapangan masih jauh dari ideal. Kajian yang dimuat Kompasiana (April 2026) mencatat bahwa tribun disabilitas di Stadion Maguwoharjo masih menghadapi keterbatasan: tribun yang belum beratap memadai, jalur ramp yang kurang memenuhi standar keamanan, dan minimnya petugas terlatih yang siap mendampingi penonton disabilitas.
"Inklusivitas sejati bukanlah tentang menjadikan teman-teman difabel sebagai sumber inspirasi, melainkan tentang menciptakan ruang yang setara sehingga kehadiran mereka menjadi hal yang biasa, tidak perlu diheroiskan, dan aman."
Kerja sama PSS Sleman dan Sadar Belajar Indonesia adalah langkah maju yang layak diapresiasi. Komitmen Novrizal dan tim relawan Teman Bisik adalah nyata dan berharga.
Namun, apresiasi tidak boleh membuat kita berhenti berpikir kritis. Insiden APAR 31 Januari 2026 bukan hanya peristiwa keamanan biasa; ia adalah cermin yang memperlihatkan betapa rapuhnya inklusivitas yang dibangun di atas narasi emosional tanpa fondasi struktural yang kokoh.
Ketika satu-satunya ramp akses menjadi titik paling berbahaya di momen krisis, kita harus jujur: kita belum sampai ke inklusivitas yang sesungguhnya.
Bagi saya, Super Elja seharusnya milik semua orang, bukan karena mereka "luar biasa meski difabel", tetapi karena mereka adalah bagian dari komunitas suporter yang setara.
Terima kasih kepada PSS Sleman, Sadar Belajar Indonesia, para Teman Bisik, dan semua pihak yang terlibat. Mari, kita jaga semangat ini agar tidak berhenti pada cerita inspiratif, melainkan berkembang menjadi perubahan sistemik yang nyata, aman, dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


