Kawan GNFI mungkin sudah sangat familier dengan kata “anjir” yang sering diucapkan di percakapan sehari-hari, utamanya oleh anak-anak muda. Banyak yang beranggapan bahwa kata ini kasar karena merupakan bentuk penghalusan atau eufemisme dari sebuah umpatan yang diambil dari nama hewan “anjing”.
Kata “anjir” dipilih sebagai jalan tengah agar “kesannya” tidak terlalu kasar. Akan tetapi, akar kata tersebut disebut tetap mengacu pada umpatan yang sangat kasar dan tidak sopan.
Namun, tahukah Kawan GNFI jika ternyata kata “anjir” juga dipakai sebagai nama kecamatan di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Di sana, kata tersebut bukanlah umpatan atau makian, melainkan nama dua kecamatan. Tak hanya nama kecamatan, beberapa desa di dalamnya juga menggunakan nama “anjir”.
Kecamatan dengan Kata “Anjir” di Indonesia
Kawan GNFI, berikut adalah dua kecamatan di Indonesia yang menggunakan kata “anjir” yang ada di Indonesia:
Kecamatan Anjir Muara
Anjir Muara adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Lokasinya tak begitu jauh dari Kota Banjarmasin, hanya sekitar 19 km saja.
Kecamatan Anjir Muara memiliki 15 desa. Uniknya lagi, dari 15 desa itu, ada beberapa desa yang menggunakan nama “Anjir” juga, seperti Anjir Muara Kota, Anjir Muara Kota Tengah, Anjir Muara Lama, Anjir Serapat Baru, Anjir Serapat Baru I, Anjir Serapat Lama, Anjir Serapat Muara, dan Anjir Serapat Muara I.
Kecamatan Anjir Pasar
Sama seperti Kecamatan Anjir Muara, Kecamatan Anjir Pasar juga berada di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kecamatan ini memiliki 15 desa.
Beberapa desa di Kecamatan Anjir Pasar turut menggunakan kata “anjir”, yakni Anjir Pasar Kota, Anjir Pasar Kota II, Anjir Seberang Pasar, Anjir Seberang Pasar II, Anjir Pasar Lama.
Kenapa Dinamakan Kecamatan Anjir?
Penamaan sebuah wilayah dengan kata “anjir” tidak serta-merta mengambil dari umpatan. Di Barito Kuala sendiri, “anjir” dimaknai sebagai kanal, parit, atau terusan buatan yang digali di masa kolonial Belanda dahulu.
Anjir inilah yang berfungsi sebagai pendukung transportasi, perdagangan, sampai irigasi untuk sawah masyarakat. Dua kecamatan di Barito Kuala itu dilewati oleh anjir, sehingga namanya pun menggunakan kata tersebut.
Kawan, Kalimantan dikenal dengan sungainya yang banyak. Sungai seakan menjadi urat nadi kehidupan masyarakatnya.
Tulisan Heri Susanto dkk., dalam jurnal Sejarah dan Budaya, daerah tepian sungai merupakan wilayah yang sangat subur karena memiliki endapan lumpur akibat pengaruh pasang surut air sungai. Banyak masyarakat memanfaatkan tepian sungai untuk mendukung kehidupan mereka.
Nenek moyang orang Banjar membuat terusan untuk sistem pertanian dan sarana transportasi yang mereka sebut dengan anjir, handil, dan saka. Anjir merupakan saluran primer yang menghubungkan sungai untuk urusan transportasi dan pertanian.
Sementara itu, handil adalah saluran air sekunder dengan ukuran lebih kecil dari anjir yang umumnya dibuat untuk irigasi pertanian, perkebunan, dan transportasi. Di sisi lain, saka adalah saluran tersier yang berfungsi untuk masalah pertanian di samping transportasi.
Di masa kolonial, Belanda juga membangun anjir untuk mendukung pertanian. Bahkan, disebutkan jika banyak wilayah di sekitar bisa tumbuh subur berkat adanya anjir tersebut.
Arti Kata “Anjir” Menurut KBBI
Kawan GNFI, perlu diketahui jika kata “anjir” sebetulnya juga sudah masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI VI, kata tersebut memiliki beberapa makna, di antaranya:
Anjir: terusan, saluran (air), kanal (yang dibangun tidak dapat digunakan lagi untuk lalu lintas kendaraan air yang besar).
Anjir: buah tin, buah ara (dari bahasa Persia).
Anjir: penanda letak jebakan rajungan, biasanya berupa sebatang kayu atau balok yang diberi warna mencolok.
Anjir: tomprang yang sasarannya pohon pisang.
Anjir: tongkat (galah dan sebagainya) dengan tinggi satu depa untuk merambat tanaman lada yang berusia di atas satu tahun.
Anjir: gerakan tari saat berdiri menggunakan kekuatan tangan sebagai tumpuan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

