Kawan GNFI, pernahkah kamu memperhatikan seseorang yang dengan sabar memberi makan kucing liar di pinggir jalan, atau sebaliknya, seseorang yang dengan mudah mengusir hewan tanpa rasa empati sama sekali? Mungkin tanpa disadari, kamu sedang membaca sesuatu tentang karakter orang tersebut yang jauh lebih dalam dari sekadar kebiasaan sehari-hari.
Ternyata, intuisi sosial yang selama ini kita rasakan ini bukan sekadar asumsi. Riset ilmiah dari berbagai universitas dunia sudah membuktikannya secara empiris: cara seseorang memperlakukan hewan adalah cerminan nyata dari kondisi psikologis, tingkat empati, hingga kecerdasan emosional yang mereka miliki.
Empati terhadap Hewan dan Manusia Ternyata Saling Terhubung
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PeerJ oleh tim peneliti dari University of Málaga (Spanyol) dan University of Porto (Portugal) mengungkap temuan yang sangat menarik. Studi ini meneliti hubungan antara Kecerdasan Emosional (EI), empati terhadap manusia, dan empati terhadap hewan menggunakan tiga instrumen pengukuran berbeda: Trait-Meta Mood Scale untuk mengukur kecerdasan emosional, Interpersonal Reactivity Index untuk empati terhadap manusia, dan Animal Empathy Scale untuk empati terhadap hewan.
Hasilnya sangat jelas: temuan mengungkap adanya hubungan positif antara empati terhadap manusia dan empati terhadap hewan. Artinya, seseorang yang memiliki empati tinggi terhadap sesama manusia cenderung juga memiliki empati yang lebih tinggi terhadap hewan, dan sebaliknya.
Lebih jauh, hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa variabel yang paling memprediksi empati terhadap hewan adalah apakah seseorang memiliki hewan peliharaan atau tidak, usia, jenis kelamin, dan tingkat kepedulian empatik terhadap manusia. Hubungan antara kepedulian empatik terhadap manusia dan empati terhadap hewan bahkan lebih kuat pada partisipan yang memiliki hewan peliharaan.
Empati, Keterikatan, dan Sisi Gelap yang Perlu Diwaspadai
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Animals (Basel) dan terindeks di PubMed mengkaji kompleksitas hubungan manusia dan hewan dari sudut pandang yang lebih luas. Studi ini menemukan bahwa empati, keterikatan, dan antropomorfisme merupakan mekanisme psikologis manusia yang dianggap relevan untuk menciptakan hubungan yang positif dan sehat dengan hewan. Namun ketika mekanisme ini berfungsi secara disfungsional atau patologis, dampaknya justru mengakibatkan penderitaan fisik maupun psikologis bagi hewan.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa hubungan antara manusia dan hewan dapat memiliki efek positif bagi kedua belah pihak, namun ada situasi di mana hubungan ini justru memiliki dampak buruk atau bahkan negatif bagi hewan, dan dalam beberapa kasus juga bagi manusia itu sendiri.
Ini menjadi pengingat penting bahwa mencintai hewan pun memiliki dimensi psikologis yang kompleks. Keterikatan yang sehat berbeda dengan keterikatan yang obsesif, dan empati yang sejati berbeda dari sekedar proyeksi perasaan diri sendiri ke hewan.
Empati Bukan Bawaan Lahir Semata, tapi Bisa Dibentuk
Kawan GNFI, salah satu temuan paling menggembirakan dari riset-riset ini adalah fakta bahwa empati, termasuk empati terhadap hewan, bukan sesuatu yang sepenuhnya ditentukan sejak lahir. Riset yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology (2025) menegaskan bahwa empati berkembang sepanjang hidup manusia, dibentuk oleh interaksi kompleks antara kematangan biologis, pembelajaran sosial, dan konteks budaya.
Artinya, lingkungan tempat seseorang tumbuh, pola asuh yang diterima, dan pengalaman berinteraksi dengan hewan sejak dini semuanya berkontribusi dalam membentuk seberapa empatik seseorang kelak, baik terhadap hewan maupun terhadap sesama manusia.
Riset tentang sikap anak-anak usia sekolah terhadap hewan turut mengkonfirmasi ini. Periode sekolah dasar ternyata merupakan jendela kritis dalam membentuk fondasi moral dan etika terkait hubungan manusia dengan makhluk lain. Anak-anak yang diajarkan untuk menghormati dan merawat hewan sejak dini terbukti mengembangkan empati yang lebih kuat, yang kemudian memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
Lalu, Apa Artinya Bagi Kita Sehari-hari?
Kawan, temuan-temuan ilmiah ini membawa implikasi yang cukup dalam bagi kehidupan sehari-hari. Pertama, cara seseorang memperlakukan hewan bukan sekadar masalah selera atau kebiasaan pribadi, melainkan cerminan dari kondisi psikologis yang lebih dalam, termasuk tingkat empati, kecerdasan emosional, dan kemampuan merasakan penderitaan pihak lain yang tidak bisa berbicara membela diri.
Kedua, jika kita ingin membangun generasi yang lebih empatik dan peduli terhadap sesama, mengajarkan anak-anak untuk menghormati dan merawat hewan sejak dini adalah investasi karakter yang nyata dan terbukti secara ilmiah, bukan sekadar pelajaran tentang hewan semata.
Dan ketiga, jika seseorang dalam lingkaran Kawan menunjukkan kecenderungan untuk menyakiti atau mengabaikan hewan tanpa rasa empati, riset menunjukkan ini bisa menjadi sinyal yang perlu diwaspadai, sebuah petanda tentang kondisi psikologis yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Pada akhirnya, hubungan kita dengan hewan adalah salah satu cara paling jujur untuk mengenal siapa kita sebenarnya. Karena di hadapan makhluk yang tidak bisa menilai status sosial atau penampilan kita, yang tersisa hanyalah karakter asli yang paling murni.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


