museum wasaka banjarmasin perjuangan rakyat kalsel dalam rumah banjar berusia 200 tahun - News | Good News From Indonesia 2026

Museum Wasaka Banjarmasin, Perjuangan Rakyat Kalsel dalam Rumah Banjar Berusia 200 Tahun

Museum Wasaka Banjarmasin, Perjuangan Rakyat Kalsel dalam Rumah Banjar Berusia 200 Tahun
images info

Dok: utara.banjarmasinkota.go.id


Di tepi Sungai Martapura, berdampingan dengan Jembatan 17 Mei, berdiri sebuah rumah panggung khas Banjar yang usianya sudah lebih dari dua abad.

Rumah itu adalah Museum Waja Sampai Kaputing, atau lebih dikenal dengan singkatannya, Museum Wasaka. Letaknya di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Nama Wasaka bukan hanya akronim. Waja Sampai Kaputing adalah motto perjuangan rakyat Kalimantan Selatan yang berarti berjuang dengan tekad baja hingga akhir.

Semangat itulah yang melatarbelakangi pendirian museum ini, yang diresmikan pada 10 November 1991, tepat di Hari Pahlawan, oleh Gubernur Kalimantan Selatan saat itu, H.M. Said.

Bangunan yang dipakai adalah Rumah Banjar tipe Bubungan Tinggi yang dibangun sekitar 1810 oleh seorang saudagar berlian dan petani karet bernama Datu Jalal.

Pemerintah membeli rumah ini pada 1988 untuk dilestarikan, dan kemudian mengalihfungsikannya menjadi museum sebagai upaya konservasi bangunan tradisional Banjar sekaligus pusat edukasi sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan.

Sekilas Mengenai Museum Wasaka

Museum Wasaka didirikan atas prakarsa Gubernur Kalimantan Selatan dengan dukungan para pejuang, budayawan, seniman, sejarawan, dan masyarakat umum.

Pada 1989, dibentuk tim untuk mendokumentasikan dan mengumpulkan benda-benda bersejarah yang pernah digunakan pejuang Kalimantan Selatan dari masa Perang Banjar, masa kolonial Belanda, masa Jepang, hingga Revolusi Fisik 1945-1949.

Koleksi yang dipamerkan saat ini berfokus pada periode Revolusi Fisik 1945-1949 karena keterbatasan ruang.

Meski begitu, sekitar 400 benda bersejarah tersimpan di dalamnya, baik yang asli maupun berupa replika.

Daya Tarik Utama Museum Wasaka

Museum Wasaka menarik karena menggabungkan nilai sejarah, arsitektur tradisional, dan pengalaman susur sungai dalam satu kunjungan.

Bangunan Rumah Bubungan Tinggi yang sudah berusia lebih dari dua abad adalah daya tarik tersendiri sebelum pengunjung masuk ke dalam.

Bentuk atapnya yang khas dan struktur rumah panggung yang masih terjaga keasliannya menjadi objek menarik tersendiri, apalagi posisinya yang berada persis di tepi Sungai Martapura membuat pemandangan dari sekitar museum terasa berbeda.

Di dalam museum, koleksi yang paling sering menarik perhatian adalah pakaian barajah, baju yang dirajahkan dengan tulisan mantra-mantra tertentu agar pemakainya kebal dari serangan musuh.

Koleksi ini terdiri dari baju kaus dalam, baju luar, ikat kepala, dan babat yang dahulu dipakai oleh para pejuang kemerdekaan Kalimantan Selatan. Konon pembuatnya adalah para ulama yang ahli di bidangnya.

Senjata-senjata tradisional seperti mandau, tombak, dan keris juga dipamerkan, bersama senjata api seperti pistol VOC dan senapan angin berbadan kayu.

Ada pula foto-foto tokoh, dokumen bersejarah termasuk teks proklamasi dari warga Kalimantan Selatan sebagai tanda bergabung dengan NKRI, serta peralatan gerilya seperti alat masak, radio, mesin ketik, dan kamera tua.

Di bagian belakang terdapat replika bengkel senjata lengkap dengan patung para pembuat senjata, diorama suasana pertempuran, serta fasilitas audio visual untuk memutar film sejarah.

Ada juga photobooth tematik bernuansa penempaan senjata yang cukup populer di kalangan pengunjung muda.

Bagi yang datang dari sungai, museum ini bisa dicapai dengan kelotok dan bersandar di dermaga yang tersedia, sebuah pengalaman tersendiri yang tidak banyak ditawarkan museum lain di Indonesia.

Akses Menuju Museum Wasaka

Museum Wasaka bisa dicapai melalui dua jalur. Lewat darat dari pusat Kota Banjarmasin melalui Jalan Sultan Adam, jarak tempuhnya sekitar 15 menit berkendara.

Lewat sungai, Kawan bisa menyewa kelotok dan menempuh perjalanan air sekitar 10 kilometer dari Pasar Terapung Lok Baintan.

Banyak pengunjung yang memilih jalur sungai karena perjalanannya sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Jam Operasional dan Harga Tiket

Museum Wasaka buka Selasa hingga Kamis pukul 09.00 hingga 12.00 WITA, Jumat pukul 09.00 hingga 11.00 WITA, serta Sabtu dan Minggu pukul 09.00 hingga 12.30 WITA.

Museum tutup setiap Senin dan hari libur nasional. Tiket masuknya gratis, Kawan hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan.

Ayo Berkunjung ke Museum Wasaka!

Museum Wasaka cocok untuk Kawan GNFI yang ingin mengenal sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan dari dekat.

Kalau memungkinkan, datang lewat jalur sungai dengan kelotok agar pengalaman kunjungannya terasa lebih lengkap, dan usahakan datang di akhir pekan ketika museum buka sedikit lebih lama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.