Halo Kawan GNFI! Pernahkah belakangan ini Kawan merasa khawatir saat mendengar betapa pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI)?
Banyak sekali narasi di luar sana yang menyebutkan bahwa AI akan segera merebut pekerjaan manusia dari berbagai sektor industri. Namun, apakah benar masa depan kita se-menakutkan itu? Yuk, kita obrolin bareng!
Baru-baru ini, siniar Tech Podcast (Eps 02) mengundang seorang pakar yang benar-benar paham seluk-beluk AI secara mendalam, yakni Joan Santoso. Beliau adalah seorang Associate Professor asal Indonesia sekaligus Google Developer Expert in AI and Machine Learning. Dalam obrolan tersebut, Joan membagikan pandangan yang sangat mencerahkan dan optimis bagi kita semua.
AI Itu Bukan Cuma ChatGPT, lho!
Mungkin Kawan GNFI baru mulai akrab dengan istilah AI semenjak ChatGPT, Gemini, atau platform Generative AI lainnya viral di mana-mana. Padahal, Joan menekankan bahwa ekosistem AI jauh lebih luas dari sekadar itu. Secara sederhana, AI adalah upaya pengembangan sistem agar komputer bisa melakukan sesuatu yang menirukan kemampuan kognitif manusia.
Coba Kawan ingat-ingat, seberapa sering Kawan menggunakan aplikasi navigasi seperti Google Maps untuk mencari rute terdekat agar tidak terjebak macet? Atau, pernahkah Kawan menikmati rekomendasi film yang pas banget selera di platform streaming?
Nah, tanpa kita sadari, itu semua adalah bentuk penerapan teknologi AI yang sudah menemani keseharian kita sejak lama! Jadi, kecerdasan buatan bukanlah "monster" baru yang tiba-tiba muncul.
Manusia adalah Dirigen, AI adalah Orkestranya
Salah satu ketakutan terbesar yang sering muncul adalah pertanyaan apakah seluruh fungsi manusia akan digantikan oleh mesin. Joan memberikan jawaban yang cukup melegakan, karena AI sejatinya diciptakan sebagai assistive technology (teknologi pembantu). Mesin secanggih apa pun tidak dibekali dengan elemen esensial yang dianugerahkan kepada manusia, yaitu akal budi, kebijaksanaan, dan perasaan.
Kawan GNFI bisa membayangkan AI layaknya sebuah tim orkestra yang sangat canggih dan mahir memainkan berbagai alat musik. Namun, agar orkestra tersebut bisa menghasilkan alunan nada yang indah, berkarakter, dan memiliki style, mereka butuh seorang dirigen. Nah, kitalah sang dirigen tersebut, Kawan!
Kecerdasan buatan memang bisa menyusun kode pemrograman, merangkum ribuan data, atau bahkan membuat draf tulisan hanya dalam hitungan detik.
Akan tetapi, mesin tidak tahu menahu soal konteks budaya manusia secara utuh. Keputusan akhir dan pemecahan masalah (problem solving) mutlak tetap berada di tangan manusia.
Kawan GNFI bisa menyimak obrolan lengkap nan daging dari Profesor Joan Santoso melalui embed video di bawah ini:
Momentum Emas Indonesia: Bonus Demografi dan Literasi Digital
Mengapa kita harus berdamai dan mulai belajar menguasai AI dari sekarang? Saat ini, Indonesia sedang menyongsong puncak bonus demografi pada tahun 2030 mendatang. Artinya, mayoritas penduduk negara kita berada di usia produktif.
Jika angkatan kerja muda yang masif ini dibekali dengan literasi digital yang mumpuni serta kecakapan dalam mengoperasikan AI (prompting), teknologi ini tidak akan menjadi ancaman. Sebaliknya, hal ini akan berubah menjadi mesin akselerasi ekonomi yang luar biasa bagi Indonesia. AI dapat memangkas waktu pekerjaan rutin yang dulunya memakan waktu berhari-hari menjadi hitungan menit saja.
Pada akhirnya, AI tidak dirancang untuk menggantikan Kawan. Akan tetapi, Kawan yang tidak mau belajar AI berpotensi besar tertinggal oleh mereka yang ahli memanfaatkan AI. Mari bersama-sama menjadi "dirigen" yang cerdas untuk memimpin orkestra teknologi masa depan ini di Tanah Air!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

