Air bersih dan sanitasi merupakan kebutuhan dasar yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat. Namun, di sejumlah wilayah Indonesia, akses terhadap layanan tersebut masih menjadi tantangan, termasuk di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan bahwa baru 75,48 persen rumah tangga di Kabupaten Timor Tengah Selatan memiliki akses air minum layak. Sementara itu, rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak mencapai 70,72 persen. Artinya, masih ada sebagian masyarakat yang harus hidup dengan keterbatasan akses terhadap dua layanan dasar tersebut.
Dampaknya paling terasa bagi anak-anak. Di beberapa desa, mereka masih harus berjalan hingga dua jam menuju sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu yang semestinya digunakan untuk belajar, bermain, atau beristirahat justru habis untuk mengambil air.
Menjangkau Lima Desa dan Tiga Sekolah
Melihat kondisi tersebut, Wahana Visi Indonesia (WVI) meluncurkan kampanye Water for Timor yang bertujuan mendekatkan akses air bersih dan sanitasi bagi masyarakat di Timor Tengah Selatan. Program ini diperkenalkan kepada publik melalui acara Summer in The Forest yang berlangsung pada 4–5 Juli 2026 di Jakarta.
Melalui inisiatif tersebut, WVI menargetkan lebih dari 2.000 orang di lima desa dan tiga sekolah di Kabupaten Timor Tengah Selatan dapat memperoleh akses air bersih dan fasilitas sanitasi yang lebih layak. Program ini diharapkan dapat membantu mengurangi beban masyarakat sekaligus mendukung tumbuh kembang anak melalui lingkungan yang lebih sehat.
Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora, mengatakan bahwa akses air bersih bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyangkut masa depan anak-anak.
“Water for Timor adalah wujud nyata komitmen kami untuk menghadirkan akses air dan sanitasi yang lebih dekat dan lebih layak ke rumah anak-anak di Timor Tengah Selatan, agar mereka tidak perlu berjalan selama dua jam hanya untuk mengambil air ke mata air di desa mereka. Ini merampas waktu belajar dan bermain mereka,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang ikut mendukung program tersebut. Menurutnya, mendekatkan akses air bersih berarti memberi anak lebih banyak kesempatan untuk belajar, bermain, dan tumbuh dalam lingkungan yang sehat.
Mengajak Publik Lebih Peduli
Selain memperkenalkan program, Summer in The Forest juga menjadi ruang edukasi mengenai pentingnya akses air bersih dan sanitasi. Berbagai kegiatan kreatif digelar untuk mengajak masyarakat memahami persoalan tersebut dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan.
Penulis sekaligus penyanyi Reda Gaudiamo hadir membawakan sesi mendongeng, sementara ilustrator Han Chandra memandu lokakarya menggambar. Acara juga dimeriahkan oleh penampilan AstroX Band, Komunitas Kak Mul DISINI!, serta pertunjukan boneka dari BPK Gunung Mulia.
Bagi Reda Gaudiamo, kegiatan bercerita dapat menjadi media untuk memperkenalkan kondisi yang masih dihadapi anak-anak di Timor Tengah Selatan kepada masyarakat luas.
“Saya berharap yang datang ke sesi saya selama dua hari ini bisa menikmati cerita dan yang paling penting, bergembira lewat cerita yang dibacakan. Saya berharap kita semua semakin mengetahui kondisi anak-anak yang didampingi WVI di Timor Tengah Selatan,” ujarnya.
Ia juga berharap semakin banyak anak di wilayah tersebut dapat menikmati masa kecil tanpa dibayangi kesulitan memperoleh air bersih.
“Saya berharap anak-anak di sana juga bisa menikmati masa kanak-kanak mereka, bertumbuh dan belajar dengan baik, serta bisa mendapatkan akses air bersih dan sanitasi yang layak,” pungkasnya.
Persoalan air bersih dan sanitasi masih menjadi pekerjaan rumah di berbagai daerah Indonesia, terutama di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan publik menjadi penting agar semakin banyak masyarakat memperoleh akses terhadap layanan dasar yang aman dan berkelanjutan.


