Kawan GNFI, coba bayangkan sebuah desa kecil di lereng Gunung Merapi yang pada akhir 1990-an dikenal sebagai salah satu dusun termiskin di kawasan itu. Akses sulit, lahan kurang subur, dan pendapatan masyarakat sangat rendah. Siapa sangka, dua dekade kemudian, desa bernama Pentingsari ini menjelma menjadi destinasi wisata budaya dan pertanian yang menggerakkan ekonomi ratusan keluarga di dalamnya.
Kisah seperti ini sedang terjadi secara masif di seluruh Indonesia. Data resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengungkap jumlah desa wisata di Indonesia melonjak dari 7.500 desa pada awal 2019 menjadi 27.000 desa pada akhir 2024, pertumbuhan hampir empat kali lipat dalam waktu kurang dari enam tahun.
Pertumbuhan Partisipasi yang Konsisten
Program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), yang diluncurkan Kemenparekraf sejak 2021, mencatat lonjakan partisipasi yang terus meningkat. Pada tahun pertamanya, sebanyak 1.831 desa wisata mendaftar dalam program ini, lalu naik menjadi 3.419 desa pada 2022, 4.573 desa pada 2023, dan mencapai 6.016 desa pada 2024.
Indonesia sendiri memiliki sekitar 74.960 desa yang tersebar dari Aceh hingga Papua, dengan alokasi anggaran dana desa pada 2023 mencapai 68 triliun rupiah.
Kisah Sukses: Dari Dusun Tertinggal Menjadi Juara Dunia
Salah satu kisah paling inspiratif datang dari Desa Wisata Nglanggeran di Gunungkidul, Yogyakarta, yang mengelola kawasan Gunung Api Purba sebagai daya tarik utamanya. Riset akademik yang dipublikasikan dalam International Journal of Community and Social Development meneliti secara mendalam bagaimana pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism) mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nglanggeran melalui pendekatan yang disebut sebagai "Governing the Commons", yakni tata kelola sumber daya bersama yang dijalankan secara kolektif oleh warga, bukan dimonopoli pihak tertentu.
Studi tersebut menyoroti bagaimana kesadaran kolektif masyarakat dan peran aktif kelompok sadar wisata dalam memberikan edukasi kepada warga menjadi kunci utama keberhasilan desa ini, sehingga benar-benar mewujudkan praktik pariwisata yang dikelola dan dinikmati manfaatnya langsung oleh komunitas itu sendiri.
Catatan Penting: Tidak Semua Daerah Merasakan Dampak yang Sama
Kawan GNFI, penting bagi kita untuk tetap bersikap objektif dan tidak terjebak euforia angka semata. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota terbitan Universitas Diponegoro pada 2024 justru memberikan temuan yang lebih kompleks. Penelitian yang menganalisis dampak pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah ini menemukan bahwa keberadaan desa wisata dan jumlah pekerja sektor pariwisata ternyata tidak memiliki dampak signifikan secara statistik terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan, sehingga hipotesis Tourism-Led Growth tidak sepenuhnya terbukti dalam konteks tersebut.
Studi ini justru menemukan bahwa peningkatan investasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemerataan pembangunan ekonomi memainkan peran yang jauh lebih penting dalam mendorong pertumbuhan dibanding sekadar jumlah desa wisata yang ada. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya kebijakan strategis pemerintah yang tidak hanya berfokus pada penambahan kuantitas desa wisata, melainkan juga pada penguatan daya saing daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta promosi destinasi yang lebih terarah.
Bukan Soal Kuantitas, tapi Soal Tata Kelola
Membandingkan kedua riset ini memberikan gambaran yang lebih utuh. Kisah sukses Nglanggeran membuktikan bahwa desa wisata bisa benar-benar mengangkat kesejahteraan masyarakat, namun kuncinya bukan terletak pada status sebagai desa wisata semata, melainkan pada tata kelola partisipatif yang dijalankan secara konsisten oleh warganya sendiri. Sementara temuan dari Jawa Tengah mengingatkan kita bahwa tanpa dukungan investasi, kualitas sumber daya manusia, dan pemerataan pembangunan, sekadar menyandang status "desa wisata" tidak otomatis mengubah perekonomian suatu daerah.
Dengan kata lain, angka 27.000 desa wisata bukanlah jaminan otomatis kesejahteraan, melainkan baru menjadi peluang awal yang keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana setiap desa mengelola potensinya secara serius dan berkelanjutan.
Mengapa Ini Tetap Layak Diapresiasi
Kawan, meski riset ilmiah mengingatkan kita untuk tidak menyamaratakan dampak pertumbuhan desa wisata di seluruh daerah, lonjakan dari 7.500 menjadi 27.000 desa wisata tetap mencerminkan sesuatu yang berharga: tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat di seluruh penjuru negeri untuk menggali dan mengoptimalkan potensi lokal mereka sendiri.
Yang menjadi pekerjaan rumah bersama ke depan adalah memastikan pertumbuhan kuantitas ini diiringi penguatan kualitas tata kelola, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemerataan dukungan infrastruktur dan investasi, sehingga lebih banyak desa bisa mengikuti jejak Nglanggeran, bukan sekadar terdaftar sebagai angka statistik semata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


