Di tengah era ketika hampir semua orang bergantung pada aplikasi digital untuk belajar, kisah Sujianto justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia bukan menghafal Al-Qur'an dengan smartphone, tablet, atau kecerdasan buatan, melainkan menggunakan sebuah walkman sederhana yang hari ini bahkan mulai dianggap barang museum.
Cerita ini bukan sekadar tentang keterbatasan fisik seorang santri tunanetra. Yang lebih menarik justru bagaimana teknologi lama mampu menjadi jembatan lahirnya ketekunan, fokus, dan daya ingat yang barangkali mulai sulit ditemukan pada generasi yang tumbuh bersama notifikasi tanpa henti.
Di saat banyak orang mencari aplikasi paling mutakhir agar proses belajar semakin cepat, Sujianto membuktikan bahwa alat hanyalah perantara. Yang menentukan hasil tetaplah kesungguhan seseorang.
Sujianto, atau akrab disapa Oji, merupakan santri Pondok Pesantren Mathali'ul Huda Pusat Kajen, Kabupaten Pati. Akibat ablasio retina, ia kehilangan kemampuan melihat. Kondisi tersebut membuatnya harus menemukan cara berbeda untuk menghafal Al-Qur'an.
NU Online menceritakan bahwa pada awalnya Oji mengandalkan bantuan teman-temannya yang membacakan ayat demi ayat. Namun ia merasa tidak ingin terus-menerus merepotkan orang lain. Dari situlah muncul ide sederhana yang kemudian mengubah cara belajarnya: merekam bacaan Al-Qur'an ke kaset dan memutarnya berulang kali menggunakan walkman. Selama sekitar dua setengah tahun, metode tersebut mengantarnya menyelesaikan hafalan 30 juz.
Ketika Keterbatasan Justru Mengurangi Gangguan
Yang menarik dari kisah ini bukan hanya keberhasilan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga metode belajarnya.
Saat ini kita hidup dalam budaya yang selalu menawarkan distraksi. Satu notifikasi media sosial dapat memutus konsentrasi dalam hitungan detik. Bahkan berbagai penelitian menunjukkan kemampuan fokus manusia terus menurun karena perpindahan perhatian yang terlalu cepat.
Sebaliknya, walkman hanya memiliki satu fungsi: memutar suara. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada video pendek. Tidak ada iklan. Tidak ada algoritma yang memancing perhatian.
Tanpa disadari, alat yang dianggap kuno itu justru menciptakan ruang belajar yang sangat bersih dari gangguan. Oji dapat mendengarkan satu ayat berulang kali hingga benar-benar tertanam dalam ingatan.
Di sinilah letak pelajaran yang jarang dibahas. Kemajuan teknologi memang memudahkan proses belajar, tetapi teknologi yang terlalu banyak fungsi kadang juga membawa terlalu banyak gangguan.
Menghafal dengan Telinga yang Terlatih
Bagi penyandang tunanetra, pendengaran bukan sekadar alat menerima informasi, melainkan menjadi pintu utama memahami dunia.
Oji memanfaatkan kemampuan tersebut secara maksimal. Ia mendengarkan rekaman berkali-kali, mengulang kembali setiap ayat, lalu mencocokkannya hingga bacaan benar-benar melekat dalam hafalan.
Metode audio semacam ini sebenarnya masih menjadi pendekatan penting dalam pendidikan Al-Qur'an bagi penyandang disabilitas netra. Berbagai kajian mengenai pembelajaran santri tunanetra menunjukkan media audio tetap efektif membantu proses menghafal sekaligus menjaga konsistensi hafalan.
Artinya, keberhasilan Oji bukanlah kebetulan. Ia memanfaatkan cara belajar yang sesuai dengan kekuatan dirinya.
Pelajaran tentang Kemandirian
Ada sisi lain yang sering luput ketika kisah ini diceritakan. Banyak orang menganggap bantuan adalah solusi terbaik bagi penyandang disabilitas. Namun Oji justru ingin mengurangi ketergantungannya kepada orang lain.
Ia memilih mencari solusi agar dapat belajar secara mandiri. Keputusan menggunakan walkman lahir dari keinginan sederhana: tidak terus-menerus meminta teman membacakan ayat.
Sikap inilah yang sebenarnya menginspirasi. Bukan karena ia menolak bantuan, tetapi karena ia berusaha menciptakan sistem belajar yang bisa dijalankan kapan saja tanpa bergantung pada orang lain. Dalam dunia pendidikan modern, kemampuan membangun sistem belajar mandiri justru menjadi salah satu indikator penting keberhasilan seseorang.
Teknologi Lama yang Masih Relevan
Ironisnya, ketika masyarakat berlomba membeli perangkat terbaru untuk meningkatkan produktivitas, kisah Oji menunjukkan bahwa teknologi lama belum tentu kehilangan manfaatnya.
Walkman memang telah digantikan berbagai layanan streaming digital. Namun prinsip yang digunakan Oji tetap relevan hingga hari ini: belajar melalui pengulangan suara.
Kini media itu mungkin berubah menjadi pemutar MP3, audiobook, podcast, atau aplikasi Al-Qur'an digital. Namun esensinya tetap sama, yakni mendengarkan secara konsisten. Yang berubah hanyalah perangkatnya. Yang tidak berubah adalah disiplin.
Hafalan Dibangun oleh Kebiasaan, Bukan Keajaiban
Menghafal 30 juz tentu tidak terjadi dalam semalam. Ia merupakan akumulasi ribuan kali mendengar, mengulang, memperbaiki, dan mengulang lagi.
Kompas dalam berbagai liputannya mengenai para penghafal Al-Qur'an juga menunjukkan bahwa konsistensi murajaah atau mengulang hafalan menjadi faktor utama agar ayat-ayat tetap terjaga di dalam ingatan. Hafalan bukan hanya soal menambah ayat baru, tetapi juga menjaga yang telah dipelajari agar tidak hilang.
Karena itu, walkman bukanlah "alat ajaib" yang membuat Oji cepat hafal. Walkman hanyalah teman setia yang menemani ribuan jam latihan.
Inspirasi untuk Semua Orang
Kisah Oji sesungguhnya tidak hanya berbicara kepada penyandang tunanetra. Ia berbicara kepada siapa saja yang merasa tidak memiliki fasilitas terbaik untuk belajar.
Sering kali kita menunda memulai karena merasa belum mempunyai perangkat yang cukup canggih. Padahal, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan daripada perlengkapan.
Walkman bekas itu mungkin tidak memiliki layar sentuh, koneksi internet, atau kecerdasan buatan. Namun ia memiliki satu keunggulan yang sangat mahal pada zaman sekarang: membantu seseorang tetap fokus.
Barangkali itulah alasan mengapa kisah ini tetap relevan hingga hari ini. Di tengah dunia yang semakin bising oleh teknologi, seorang santri tunanetra justru menemukan ketenangan belajar melalui alat yang hanya bisa melakukan satu pekerjaan.
Dari kesederhanaan itulah lahir hafalan 30 juz yang menjadi inspirasi banyak orang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

