makna batik kawung artinya - News | Good News From Indonesia 2026

Sejarah dan Filosofi Motif Batik Kawung, Warisan Sakral Mataram yang Penuh Makna Harmoni Alam

Sejarah dan Filosofi Motif Batik Kawung, Warisan Sakral Mataram yang Penuh Makna Harmoni Alam
images info

Sejarah dan Filosofi Motif Batik Kawung, Warisan Sakral Mataram yang Penuh Makna Harmoni Alam | Laman Budaya Indonesia


Kawan GNFI pasti sudah tidak asing lagi ketika mencari tahu sejarah dan filosofi motif batik Kawung, salah satu wastra Nusantara yang kepopulerannya melintasi berbagai zaman. Motif batik Kawung berasal dari Yogyakarta, tepatnya dicetuskan oleh seorang raja Kerajaan Mataram dan terinspirasi dari buah kolang-kaling.

Meskipun saat ini gambar batik Kawung sudah lazim ditemui pada pakaian harian kekinian hingga seragam sekolah, dulunya lembaran kain ini hanya boleh dikenakan kalangan yang sangat eksklusif.

Bagi Kawan GNFI yang ingin mengetahui makna batik Kawung apa artinya, sejarah dan siapa pembuatnya, bahkan mengulik makna spiritual di balik motif batik Kawung, berikut GNFI rangkum jawabannya melalui artikel ini. Jadi, simak artikel ini sampai habis!

baca juga

Sejarah Motif Batik Kawung, Dari Mana Asal-Usulnya?

Mempelajari asal-usul batik Kawung ini membawa kita kembali menyelami masa Kerajaan Mataram pada abad ke-17.

Satriawan (2019) menjelaskan bahwa batik Kawung berasal dari Jawa. Catatan sejarah menyebut motif ini sudah ada sejak abad ke-9, tetapi baru mulai berkembang pada zaman Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu tahun 1755.

Senada dengan itu, Koeswadji dalam tulisan Parmono (2013) memaparkan bahwa batik Kawung diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo di Mataram. Ide ini datang kekayaan alam sekitar, tepatnya terinspirasi dari buah aren atau kolang-kaling.

Menurut laman resmi Kraton Jogja, dengan kehadiran biji kolang-kaling yang dinilai kaya manfaat bagi manusia pada batik Kawung, orang yang mengenakan batik tersebut diharapkan dapat memberi manfaat yang sama banyaknya kepada sesama manusia di sekitarnya.

Di lingkungan Keraton Yogyakarta sendiri, pola yang sangat khas ini secara resmi ditetapkan sebagai salah satu Awisan Dalem atau lebih sering dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan batik larangan.

Aturan ketat kebudayaan ini berarti tidak sembarang orang diizinkan mengenakan kain tersebut pada masa lampau, melainkan hak penggunaannya mutlak dibatasi hanya untuk kalangan Sentana Dalem atau kerabat inti kerajaan.

Rangkaian motif batik larangan sendiri dilarang dipakai oleh sembarangan orang, terutama di lingkungan keraton, mengingat arti batik-batik tersebut yang biasanya sakral dan mengandung makna simbolis yang dalam.

Filosofi Kolang-Kaling sebagai Corak Dasar Motif Batik Kawung

Makna Batik Kawung dan Filosofinya, Motif Batik Larangan yang Tidak Boleh Dipakai Sembarang Orang di Keraton | Kraton Jogja
info gambar

Makna Batik Kawung dan Filosofinya, Motif Batik Larangan yang Tidak Boleh Dipakai Sembarang Orang di Keraton | Kraton Jogja


Apabila Kawan mengamati struktur desain polanya secara lebih saksama, makna batik Kawung ternyata sangat erat kaitannya dengan bentuk buah aren atau yang dalam bahasa keseharian lebih akrab kita kenal sebagai buah kolang-kaling.

Motif batik Kawung bermakna pengendalian diri yang sempurna, serta kalbu yang suci tanpa adanya niat untuk melakukan perbuatan riya (Satriawan, 2019).

Pendapat lain seperti pada laman resmi Perpustakaan Digital Budaya Indonesia menyebut makna batik Kawung berkaitan dengan isyarat supaya si pemakai senantiasa ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Motif Kawung juga kerap dikaitkan dengan filosofi bahwa usaha dan keinginan keras yang kita tanam akan senantiasa berbuah hasil baik, misalnya rezeki berlipat ganda.

Literatur lain, seperti milik Parmono, menyebut motif batik Kawung merupakan representasi dari sistem perekonomian rakyat Jawa yang berpatokan pada sistem hari sepasar, yakni Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Kata "pasar" bermakna tempat orang berkumpul sebagai latar jual beli, pusat perputaran perekonomian masyarakat.

Konfigurasi empat bulatan lonjong yang ditata saling menyilang dengan sebuah titik pusat di bagian tengahnya merepresentasikan lima desa yang secara bergilir setiap lima hari sekali mendapat giliran untuk menjadi pusat penjualan pertanian. Jadi, kerukunan dan kesejahteraan ekonomi di desa-desa ini tetap terjaga.

baca juga

Makna Spiritual Motif Batik Kawung yang Unik dan Harmoni

Batik Kawung juga menyimpan makna spiritual yang dalam. Salah satunya, seperti yang dijelaskan laman Dinas Kebudayaan DIY, batik Kawung berangkat dari kata "suwung" yang artinya kosong.

Bukan dalam makna negatif, kekosongan ini berarti si pemakai kosong dari nafsu dan hasrat duniawi, membuatnya memiliki pengendalian diri yang sempurna. Kekosongan tersebut juga berarti si pemakai bisa mengikuti arus kehidupan, membiarkan hal-hal sekitar berjalan sesuai kehendak alam. Ia pun diharap netral, tidak berpihak, dan tidak ingin menonjolkan diri.

Motif batik Kawung selalu dikenakan figur Semar yang kerap disebut sebagai pribadi yang sabar dan penuh nilai kebijaksanaan dalam dirinya.

Parmono menerangkan bahwa dalam konsep Jawa, motif batik Kawung terutama Ceplok, figur di tengah dipercaya merupakan representasi raja yang dinilai menjadi pusat kekuasaan dunia, pelindung, bahkan penjelmaan dewa. Sementara orang Jawa menganggap empat figur lain yang mengelilinginya merupakan sumber tenaga alam semesta, dengan rincian:

  1. Arah Timur melambangkan awal mula kehidupan. Dari sanalah matahari terbit untuk memberikan energi baru bagi semua makhluk hidup.
  2. Arah Barat adalah tempat matahari terbenam. Arah ini sering dianggap sebagai simbol berkurangnya tenaga atau datangnya nasib yang kurang baik.
  3. Arah Selatan menggambarkan Zenith atau titik puncak atau posisi paling tinggi dari segala hal yang ada di dunia.
  4. Arah Utara menyimbolkan garis akhir, arah dari kematian, atau bagian sumber tenaga yang mencabut nyawa.

Konsep di mana pusat kekuasaan seperti raja dikelilingi oleh empat sumber kekuatan ini kerap disebut moncopat tidak hanya oleh masyarakat Jawa, tetapi juga dipercaya oleh masyarakat wilayah lain yang profesi utamanya petani.

Selain itu, orang-orang Jawa kuno juga mempercayai bahwa batik dengan motif murni geometris, misalnya pada batik Kawung, memiliki kekuatan magis yang kuat. Jadi, pemakainya juga dinilai harus memiliki energi berlebih dan kearifan tinggi agar bisa mengimbangi kekuatan itu dan mencegah terjadinya bencana karena kekuatan besar tanpa dibarengi sifat bijaksana dapat memicu bencana.

Sekian artikel berjudul "Sejarah dan Filosofi Motif Batik Kawung, Warisan Sakral Mataram yang Penuh Makna Harmoni Alam".

Semoga artikel ini membantu Kawan GNFI memahami makna batik Kawung dan arti filosofisnya yang mendalam, sejarah motifnya, hingga siapa sosok penciptanya.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.