gelang tridatu sejarah makna warna aturan pakai dan filosofinya - News | Good News From Indonesia 2026

Gelang Tridatu: Sejarah, Makna Warna, Aturan Pakai, dan Filosofinya

Gelang Tridatu: Sejarah, Makna Warna, Aturan Pakai, dan Filosofinya
images info

Gelang Tridatu: Sejarah, Makna Warna, Aturan Pakai, dan Filosofinya | Foto: (Wikipedia Commons | M. Adiputra)


Gelang Tridatu bukan sekadar gelang biasa. Bagi masyarakat Hindu Bali, gelang ini merupakan simbol spiritual yang memiliki makna mendalam dan telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.

Keberadaan gelang Tridatu diperkirakan sudah dikenal sejak abad ke-14 hingga ke-15 ketika Bali berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit. Hingga kini, gelang tersebut masih digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan menjadi salah satu simbol budaya Bali yang paling dikenal.

Lantas, apa itu gelang Tridatu? Bagaimana sejarahnya, makna warna-warnanya, serta aturan penggunaannya? Yuk, Simak penjelasannya berikut.

Apa Itu Gelang Tridatu?

Gelang Tridatu adalah gelang yang terbuat dari jalinan tiga benang berwarna merah, putih, dan hitam. Gelang ini dikenakan oleh umat Hindu Bali sebagai lambang perlindungan dari Hyang Widhi Wasa atau Tuhan.

Secara etimologi, kata Tri berarti tiga, sedangkan Datu berarti unsur atau elemen. Nama Tridatu merujuk pada tiga benang dengan warna berbeda yang melambangkan tiga kekuatan utama dalam kehidupan.

Selain menjadi simbol Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Siwa), gelang Tridatu juga melambangkan Trikona atau tiga fase kehidupan manusia, yaitu lahir, hidup, dan meninggal dunia. Umumnya, gelang ini dipakai di pergelangan tangan kanan dan diperoleh setelah mengikuti persembahyangan di pura, seperti saat odalan atau pujawali.

Pada awalnya, tradisi pemberian gelang Tridatu berasal dari Pura Dalem Ped di Nusa Penida. Seiring waktu, tradisi tersebut menyebar ke berbagai pura di Bali dan kini gelang ini juga dapat ditemukan sebagai suvenir maupun aksesori.

Sejarah Gelang Tridatu

Sejarah gelang Tridatu berkaitan dengan kisah penaklukan Nusa Penida pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong sekitar abad ke-14 hingga ke-15. Saat itu, Raja Gelgel mengirim Ki Patih Jelantik untuk menghadapi Ki Dalem Bungkut yang memimpin Nusa Penida.

Setelah peperangan berakhir, kedua pihak mencapai kesepakatan damai. Dalam kisah tersebut, Ratu Gede Mas Mecaling kemudian berjanji akan melindungi umat Hindu yang taat kepada Tuhan dan leluhur.

Sebagai tanda perlindungan, diberikanlah benang tiga warna atau Tridatu yang dipercaya dapat menangkal marabahaya, wabah, dan gangguan kekuatan negatif.

Selain sebagai lambang perlindungan, gelang Tridatu juga menjadi pengingat agar pemakainya menjalankan ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir, berkata, dan berbuat baik. Karena itu, gelang ini juga menjadi identitas bagi umat Hindu setelah mengikuti upacara keagamaan tertentu.

baca juga

Makna Filosofis Gelang Tridatu

Gelang Tridatu memiliki tiga warna yang masing-masing melambangkan manifestasi Hyang Widhi dalam konsep Trimurti.

Arti Setiap Warna Gelang Tridatu

  • Warna Merah melambangkan Dewa Brahma sebagai pencipta. Warna ini mencerminkan semangat, keberanian, dan energi kehidupan.
  • Warna Hitam melambangkan Dewa Wisnu sebagai pemelihara. Warna ini menggambarkan keseimbangan, keteguhan, dan perlindungan.
  • Warna Putih melambangkan Dewa Siwa sebagai pelebur. Warna putih menjadi simbol kesucian, kebijaksanaan, dan proses kembali ke asal kehidupan.

Selain melambangkan Trimurti, ketiga warna tersebut juga menggambarkan konsep Trikona, yaitu tiga siklus kehidupan manusia, yakni lahir (utpeti), hidup (stiti), dan meninggal (pralina). Filosofi ini mengingatkan bahwa setiap manusia akan melalui ketiga tahapan tersebut sebagai bagian dari kehidupan.

Aturan Memakai Gelang Tridatu

Gelang Tridatu sebaiknya dipakai di tangan kanan. Dalam tradisi Hindu Bali, tangan kanan melambangkan kesucian dan digunakan untuk menerima anugerah serta melakukan berbagai kegiatan keagamaan.

Gelang Tridatu tidak dianjurkan dipakai di kaki karena dianggap tidak menghormati makna suci yang terkandung di dalamnya. Mengingat gelang ini berkaitan dengan simbol Trimurti, penggunaannya perlu tetap dijaga dengan penuh penghormatan.

Secara tradisional, gelang Tridatu diperoleh setelah mengikuti persembahyangan di pura dan menerima percikan air suci atau tirta. Namun, saat ini gelang tersebut juga banyak dijual secara umum sebagai suvenir maupun aksesori.

Bagi umat Hindu, gelang Tridatu sering dipakai sebagai identitas setelah mengikuti upacara keagamaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Jika digunakan oleh non-Hindu, gelang ini sebaiknya tetap dipakai dengan menghormati nilai budaya dan tidak diperlakukan seperti aksesori biasa.

Apakah Non-Hindu Boleh Memakai Gelang Tridatu?

Tidak ada larangan mutlak bagi non-Hindu untuk memakai gelang Tridatu. Saat ini, banyak wisatawan maupun masyarakat umum yang mengenakannya sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Bali. 

Namun, penting untuk memahami bahwa gelang ini memiliki makna religius bagi umat Hindu sehingga penggunaannya tetap harus disertai rasa hormat.

Jika ingin memakai gelang Tridatu, sebaiknya ikuti etika yang berlaku, seperti mengenakannya di tangan kanan atau di leher. Hindari memakainya di kaki atau memperlakukannya hanya sebagai aksesori biasa karena dapat dianggap tidak menghormati nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya.

Gelang Tridatu Sebagai Oleh-Oleh dan Aksesori

Seiring berkembangnya zaman, gelang Tridatu tidak hanya digunakan dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi salah satu suvenir khas Bali. Banyak wisatawan membelinya sebagai kenang-kenangan karena bentuknya sederhana, mudah dibawa, dan memiliki nilai budaya yang kuat.

Selain itu, gelang Tridatu kini hadir dalam berbagai model, mulai dari benang tradisional hingga dipadukan dengan manik-manik, batu alam, atau logam. 

Meski desainnya semakin beragam, perpaduan tiga warna merah, putih, dan hitam tetap menjadi ciri khas utamanya.

baca juga

Cara Memilih Gelang Tridatu Asli

Saat memilih gelang Tridatu, perhatikan kualitas benang dan kerapian jalinannya. Gelang yang dibuat dengan baik umumnya memiliki anyaman yang kuat, rapi, serta warna yang tidak mudah pudar.

Apabila ingin memperoleh Gelang Tridatu untuk tujuan spiritual, sebaiknya mendapatkannya melalui pura atau pihak yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Sementara itu, untuk dijadikan suvenir, gelang ini dapat dibeli di pasar seni atau toko oleh-oleh khas Bali yang memiliki reputasi baik.

Cara Merawat Gelang Tridatu

Agar tetap awet, simpan gelang Tridatu di tempat yang bersih dan kering saat tidak digunakan. Jika terkena air atau kotoran, bersihkan secara perlahan menggunakan kain bersih tanpa memakai bahan kimia yang dapat merusak warna benangnya.

Gelang Tridatu dapat diganti apabila sudah putus, rusak, atau warnanya mulai memudar. Bagi sebagian umat Hindu, penggantian gelang biasanya dilakukan setelah kembali mengikuti persembahyangan di pura.

Sebagai bagian dari warisan budaya dan tradisi Hindu Bali, gelang Tridatu bukan hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga sarat akan makna filosofis. Oleh karena itu, siapa pun yang mengenakannya sebaiknya memahami dan menghormati nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Andy Apriyono lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Andy Apriyono.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.